Aku Terlahir Sederhana, Hidup Susah Bagiku Sudah Biasa

Aku Terlahir Sederhana, Hidup Susah Bagiku Sudah Biasa

Aku terlahir sederhana, hidup susah bagiku sudah biasa. Tampaknya kalimat tersebut telah mewakili perasaan dan nasib sebagian orang di muka bumi ini mengenai. Namun apapun kondisi yang kita alami saat ini, berusahalah untuk tidak terlampau larut dalam kesedihan. Kesedihan yang berlarut-larut hanya akan membuat kita diam di tempat.

Padahal begitu banyak orang-orang yang semula lahir dalam kesederhanaan tapi kemudian menjadi orang kaya raya berkat kerja keras. Mau bukti? Kalimat “Aku terlahir sederhana, hidup susah bagiku sudah biasa” seakan tidak berlaku bagi dua nama berikut ini:

Eka Tjipta Widjaja

Eka Tjipta Widjaja bukanlah sosok pekerja seni yang wajahnya wara-wiri di berbagai stasiun televisi. Namanya pun jarang diberitakan di majalah-majalah, kecuali dalam edisi tertentu. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa Eka Tjipta Widjaja termasuk seorang pesohor tanah air yang terkenal karena kekayaannya. Namanya tercantum dalam daftar orang terkaya di Asia versi majalah Globe Asia dengan aset senilai $ 8,7 miliar.

Siapakah Eka Tjipta Widjaja sesungguhnya?

Eka Tjipta Widjaja adalah pendiri dan pengendali perusahaan raksasa Sinar Mas Group. Induk perusahaan yang memuat beragam bisnis kelas paus yang cemerlang, seperti perbankan, pabrik kertas, pabrik minyak kelapa sawit, real estate, dan sebagainya. Beberapa nama perusahaan Eka Tjipta Widjaja yang tak asing di telinga kita antara lain Indah Kiat Pulp and Paper, Bank Sinarmas, Tjiwi Kimia, Smartfren Telcom, Bumi Serpong Damai, dan masih banyak lagi.

Siapa sangka seorang Eka Tjipta Widjaja mampu membangun bisnis gurita yang membuat pundi-pundi kekayaannya terus bertambah. Padahal jauh sebelum seperti sekarang, ia sempat mencicipi kemiskinan dan belit kesusahan. Jatuh bangun telah ia lalui.

Eka Tjipta Widjaja
Sumber: nalar.id

Di usia 9 tahun, Eka Tjipta Widjaja atau Oei Ek Tjhong, telah diboyong merantau oleh orang tuanya ke Indonesia. Tujuh  hari 7 malam ia bersama sang ibu tercinta berlayar dari kampung halaman mereka, Tiongkok, ke Indonesia. Itupun dengan modal perjalanan yang diperoleh dari mengutang dengan rentenir. Karena uang mereka pas-pasan, Eka dan ibunya hanya bisa membayar deck paling kelas paling bawah yang isinya kaum miskin seperti mereka.  

Makkassar menjadi tempat pilihan kedua orang tuanya untuk mengadu nasib. Sang ayah telah tiba duluan sebelum ia dan ibunya menyusul. Untuk menyambung hidup ayahnya membuka toko kecil. Untung saja usaha ayahnya lumayan maju sehingga mereka bisa menutup utang-utang pada rentenir dua tahun kemudian. Sayangnya pendapatan ayahnya tetap tak bisa untuk menyekolahkan Eka sampai perguruan tinggi. Sehingga ia hanya bisa mengenyam pendidikan sebatas SD saja.

Untuk mengisi hari-hari, Eka berinisiatif berjualan keliling menggunakan sepeda. Ia menjajakan biskuit, permen dan beberapa barang lainnya yang diambil dari toko sang ayah. Tak sia-sia ia berhasil laba sebesar Rp 20 sen, sebuah nilai cukup besar kala itu. Dengan laba yang terkumpul ia kemudian membeli sebuah becak agar bisa mengangkut barang-barang dagangan lebih banyak lagi.

Namun, ujian menimpanya. Tatkala Jepang menjajah Indonesia, usaha yang telah dibangunnya susah payah kandas. Sebagian besar sektor usaha di Indonesia direbut, tak kecuali pedagang-pedagang kecil seperti dirinya. Tak ada lagi barang impor/ekspor yang dapat diperdagangkan. Eka menganggur. Walau demikian tekadnya masih menyala.

Ia pun mencoba peruntungan lainnya dengan “menggoda” tentara Jepang. Saat ia melihat tentara Jepang tengah mengawasi tawanan pasukan Belanda. Namun bukan itu yang membuat hatinya bergelora melainkan tumpukan tepung, semen, gula rampasan dari tawanan pasukan Belanda. Ia pun membuka sebuah tenda kecil dan menjual ayam kecap dan whiskey yang ia pinjam dari tetangganya. Sengaja ia undang tentara-tentara Jepang tersebut makan di tendanya tanpa membayar. Namun ia meminta izin membawa pulang tepung, semen, dan gula tersebut. Beruntung permintaannya dipenuhi.

Dengan mengupahi beberapa orang pekerja, barang-barang tersebut dibawa ke rumah. Semen ia jual kepada kontraktor yang ingin membangun kuburan bagi orang-orang kaya. Tepung dan gula ia pasok ke pabrik roti dan toko-toko yang membutuhkannya. Ia menangkap semua peluang yang ada. Memasuki era orde baru kehidupan ekonominya semakin membaik hingga ia bisa membeli 10 ribu hectare perkebunan kelapa sawit di Riau dan Bank Internasional Indonesia. Seiring berjalan waktu, aneka bisnis lainnya pun ia geluti hingga menjadikan dirinya termasuk orang terkaya di Asia.

Baca Juga: – Masa Lalu Biarlah Berlalu Masa Depan Teruslah Kau Pacu

Chairul Tanjung

“Aku terlahir sederhana, hidup susah bagiku sudah biasa”. Kalimat tersebut tampaknya tak pernah tertanam di benak Chairul Tanjung. Adalah fakta bahwa ia bernasib sama susahnya dengan Eka Tjipta Widjaja, namun tekad yang terus membara membuat ia senantiasa berusaha meningkatkan kesejahateraan keluarganya.

Chairul Tanjung lahir dalam keluarga sederhana, cenderung miskin. Sang ayah yang berprofesi sebagai wartawan dan merintis bisnis surat kabar menjadi tulang punggung satu-satunya dalam keluarga. Itupun jadi bertambah berat saat bisnis ayahnya gulung tikar. Mereka terpaksa harus menjual rumah agar bisa memiliki modal untuk hari-hari ke depan. Sedangkan untuk hunian, mereka menyewa sebuah losmen yang sempit di pinggiran kota.

Chairul Tanjung
Sumber: Bank Mega

Dalam kondisi ekonomi yang tidak mudah, kedua orang tua Chairul tetap berjuang menyekolahkannya hingga perguruan tinggi. Itupun terkadang dengan pinjaman sana-sini atau bantuan orang sekitar. Untung saja Chairul termasuk anak yang tahu diri. Prestasi akademisnya cukup membanggakan sehingga membuat orang tuanya kian semangat menyekolahkannya walau tertatih-tatih.

Ketika lulus dari bangku SMA, Chairul mendaftar ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sebuah fakultas bergengsi yang tentu saja isinya orang-orang cerdas dari strata ekonomi menengah ke atas. Tak dinyana, ia berhasil lulus. Namun segera kesedihan menggelayuti hatinya. Dari mana orang tuanya bisa membayar biaya pendidikannya kelak?

Demi mendukung anaknya, sang ibu menjual kain sutera milik satu-satunya. Uang penjuala kain tersebut dijadikan uang pangkal. Perjalanan menuju sukses masih panjang. Selama ia berkuliah, Chairul terpaksa bekerja sampingan. Di sudut bawah tangga kampusnya yang tampak kosong berhasil ia manfaatkan sebagai tempat fotocopy. Karena tak punya modal besar, ia menggandeng partner bisnis yang mampu menyediakan mesin fotocopy. Karena harus sharing profit, Chairul tidak bisa mengantongi laba 100%. Namun setidaknya ia bisa menutupi biaya kuliah dari bisnis tersebut.

Lulus kuliah, Chairul merambah ke bisnis penjualan alat-alat kedokteran. Sayang peruntungan tidak berpihak. Usahanya sepi dan ia terpaksa gulung tikar. Kembali ia mencoba usaha lainnya. Kali ini ia terjun ke dunia kontraktor. Dari sinilah gerbang kesuksesan itu bermula. Walau tidak mudah, namun di bisnis ini yang bisa memiliki banyak relasi dan mengisi peluang-peluang emas. Bahkan di usia 25 tahun ia berhasil mendapat pinjaman senilai 1,5 miliar rupiah untuk bisnis yang dijalankannya. Sebuah keputusan yang sangat berisiko namun untungnya Chairul berhasil membuktikan bahwa ia mampu menjalankan bisnis tersebut dan mengembalikan pinjaman.

Atas segenap usaha yang pernah dilakukannya, kini  nama Chairul Tanjung menggawangi bisnis raksasa Trans.Corp dan tercatat sebagai salah satu orang terkaya di dunia.

Itulah dua kisah hidup yang sangat menginspirasi dari orang-orang yang pernah dibelit kemiskinan. Semoga artikel berjudul “Aku Terlahir Sederhana, Hidup Susah Bagiku Sudah Biasa” ini mampu menggugah semangat kita semua untuk membuat perubahan besar dalam hidup.

Baca Juga:  15 Kisah Pengusaha Sukses Bangun Bisnis dari Nol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *