Alasan Generasi Milenial Tidak Mau Bekerja di Perusahaan Rintisan atau Startup

Alasan Generasi Milenial Tidak Mau Bekerja di Perusahaan Rintisan atau Startup

Bekerja di perusahaan startup mungkin menjadi impian bagi sebagian orang, terutama bagi orang-orang yang mempunyai bakat dan minat di bidang IT. Walau begitu, beberapa orang dari kaum milenial enggan untuk merintis karier di bidang startup. Mengapa generasi milenial tidak mau bekerja di perusahaan rintisan atau startup? Berikut ulasannya untuk Anda.

Kondisi Karier yang Belum Tentu Aman

Perusahaan rintisan memang didesain untuk tumbuh besar dengan proses yang sangat cepat. Misalnya, Anda bisa membandingkan antara perusahaan Gojek dan Garuda. Garuda merupakan sebuah perusahaan maskapai plat merah yang sudah ada sejak lama dengan jumlah pesawat yang sangat banyak. Bahkan, pada tahun 2016, nilai valuasi maskapai ini memiliki nilai sebesar 9,8 triliun rupiah.

Bisa ditebak berapa nilai valuasi dari Gojek? Nah, Gojek memiliki nilai valuasi sebesar 17 triliun. Walaupun baru muncul beberapa tahun belakangan, Gojek berkembang sangat cepat. Yang lebih luar biasa lagi, ternyata Gojek hampir tidak mempunyai aset kecuali gedung kantor saja.

Meskipun startup didesain untuk bisa tumbuh dengan sangat cepat, namun perlu Anda ketahui jika startup juga bisa gagal dalam waktu yang cepat. Selain itu, jumlah valuasi yang besar tidak bisa menjamin perusahaan tersebut bisa bertahan lama. Anda juga bisa melihat berbagai fakta lain banyak startup lain baik yang kecil ataupun yang besar seperti Yahoo yang bangkrut dengan cara yang tragis.

Tidak hanya startup luar negeri saja, namun di Indonesia sendiri juga terdapat perusahaan rintisan yang terpaksa memutus hubungan kerja para karyawannya. Bahkan, perusahaan tersebut ditutup dengan tiba-tiba di saat para karyawan belum siap untuk mencari pekerjaan baru.

Walau begitu, baik perusahaan rintisan maupun konvensional memang memiliki risiko yang tinggi untuk gagal bersaing. Perusahaan rintisan yang mampu berinovasi juga dapat bertahan di tingginya persaingan bisnis. Hal yang paling penting adalah Anda harus teliti saat akan melamar di sebuah perusahaan rintisan.

Baca Juga:  10 Masalah yang Sering Terjadi pada Windows 10

Tidak Semua Startup Menggaji dengan Tinggi

Selama ini, Anda mungkin terbiasa mendengar jika bekerja di startup bisa mendapatkan gaji yang besar. Sebenarnya, tidak ada yang salah dari berita tersebut. Akan tetapi, perlu Anda ketahui jika tidak semua startup mampu memberi para karyawannya gaji yang besar.

Pada dasarnya, hanya startup yang memiliki pendanaan yang besar saja yang mampu memberikan para karyawannya gaji yang besar. Selebihnya, mereka akan menghemat anggaran semaksimal mungkin, salah satunya dengan memberikan gaji secukupnya.

Gaji yang tinggi sekalipun biasanya hanya diberikan untuk berbagai posisi yang strategis untuk kelangsungan bisnis tersebut. Dengan tujuan untuk menghemat anggaran, rata-rata perusahaan rintisan di Indonesia hanya memberikan gaji dan THR saja tanpa adanya bonus lainnya.

Arah Perusahan yang Dapat Berubah-Ubah

Apabila Anda bekerja di sebuah perusahaan konvensional yang sudah besar, biasanya perusahaan tersebut sudah mempunyai sebuah aturan mengenai produk sampai target market yang telah jelas. Nah, untuk perusahaan rintisan, Anda tidak akan melihat ataupun aturan yang jelas mengenai hal tersebut.

Startup yang biasanya berumur kurang dari lima tahun biasanya cenderung mengubah-ubah arah perusahaan seiring dengan berjalannya waktu. Hingga akhirnya, startup tersebut dapat menemukan arah yan benar dan juga tepat bagi perusahaan mereka sendiri.

Mengerjakan Pekerjaan di Luar Tugas Anda

Perlu Anda ketahui, tidak seperti perusahaan konvensional yang sudah menyediakan deskripsi yang jelas mengenai tugas dan pekerjaan Anda, startup hanya tahu Anda duduk di posisi apa. Akan tetapi, dalam praktiknya, Anda akan melakukan banyak hal yang tidak akan Anda sangka.

Jadi, jangan heran jika misalnya Anda adalah seorang programmer, namun Anda juga dilibatkan ke dalam divisi penjualan ataupun menjadi customer service yang super ramah. Namanya juga startup. Dengan keterbatasan dana, owner dari startup ini harus mencari akal untuk menghemat pengeluaran, termasuk menekan jumlah karyawan. Hasilnya, Anda harus mampu mengerjakan tugas di luar job Anda.

Baca Juga:  Kunci Sukses Nadiem Makarim Sang Pendiri Gojek

Kurangnya Sarana untuk Belajar

Lagi-lagi, masalah yang terjaid adalah dikarenakan keterbatasan dana startup. Biasanya, startup tidak memiliki banyak dana untuk memfasilitasi karyawannya untuk mengikuti pelatihan yang bisa meningkatkan keahliannya. Dengan setumpuk pekerjaan yang banyak, para seniorpun juga tidak memiliki banyak waktu untuk bisa memberikan Anda pelajaran berharga. Mau tidak mau, Anda harus belajar sendiri.

Jam Kerja yang Dapat Lebih Panjang

Di startup, biasanya Anda tidak akan lagi mendengar istilah pergi jam 9 dan pulang jam  5 sore. Anda dapat secara bebas datang kapan saja dan juga bebas pulang kapan saja, asal pekerjaan Anda sudah selesai. Walau dengan sistem ini semua orang menjadi terpacu untuk bisa cepat pulang.

Akan tetapi, nyatanya, justru banyak karyawan yang akhirnya pulang lebih lama. Hal tersebut dikarenakan pekerjaan yang belum selesai, sehingga mau tidak mau karyawan tersebut harus lembur. Sayangnya, walau harus lembur, tidak ada uang lembur khusus.

Untuk mengatasi dan mengantisipasi jam kerja yang lebih panjang, ada baiknya Anda benar-benar bisa membagi waktu. Sebaiknya, Anda tidak terlalu banyak bermain atau tidur, walaupun hal tersebut diperbolehkan. Pekerjaan yang selesai lebih cepat jauh lebih baik daripada ditunda-tunda.

Prestasi dan Kegagalan Terlihat dengan Jelas

Namanya juga perusahaan rintisan, pastinya struktur organisasinya juga belum terlalu besar. Selain itu, jumlah karyawannya juga masih sedikit. Jadi, para karyawan lebih mudah untuk dipantau, diawasi, dan dinilai atau dievaluasi satu per satu. Mungkin saja pengawasan tersebut dilakukan secara langsung oleh CEO. Berbeda dengan perusahaan besar di mana pengawasan dilakukan oleh supervisor.

Dengan kata lain, kinerja Anda juga bisa terlihat jelas oleh atasan baik dari segi keberhasilan ataupun kegagalan. Nah inilah salah satu sisi gelap dari bekerja di startup. Jika kinerja Anda bagus, maka Anda akan langsung mendapatkan reward. Namun, sebaliknya. Jika Anda gagal atau melakukan kesalahan, maka atasan dapat dengan segera menegur Anda, walaupun tidak ada punishment.

Fasilitas dan Gaji yang Kurang Memadai

Sebagian kaum milenial mungkin berpikir jika bekerja di startup akan mendapatkan gaji yang tinggi dan fasilitas kantor yang bagus. Padahal, kedua hal tersebut mungkin saja bisa didapatkan saat bekerja di startup yang sudah besar. Sayangnya, untuk startup kecil atau nanggung, hal tersebut belum tentu berlaku.

Baca Juga:  Spesifikasi Dan Harga iPhone terbaru 2020

Jika Anda terjebak menjadi seorang karyawan di startup nanggung yang sedang merangkak menjadi besar dengan kinerja stagnan, maka jangan harap Anda bisa mendapatkan gaji tinggi dengan fasilitas yang bagus. Kadang di perusahaan tertentu, jika Anda terlambat berangkat kerja maka Anda bisa tidak mendapatkan kursi yang kosong untuk bekerja. Bahkan, belum tentu ada uang makan juga.

Nah, itu dia ulasan mengenai berbagai alasan para generasi milenial yang enggan bekerja di perusahaan rintisan atau startup. Sebenarnya, baik perusahaan startup maupun perusahaan konvensional memiliki sisi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Anda hanya perlu memilih perusahaan yang sesuai dengan keinginan dan impian Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *