Belajarlah Bersabar Saat Dihina, Karena Yang Menghinamu Pastinya Tidak Akan Lebih Baik Darimu

Belajarlah Bersabar Saat Dihina, Karena Yang Menghinamu Pastinya Tidak Akan Lebih Baik Darimu

Setiap orang di dunia ini memiliki sikap dan karakter yang berbeda. Mereka juga memiliki sudut pandangnya masing-masing. Tak ada satupun yang memiliki persamaan seutuhnya. Pasti diantara masyarakat akan terdapat kesenjangan dan perbedaan pendapat satu sama lainnya. Lantas, masih berhakkah penghinaan itu dilontarkan?

Perbedaan bukanlah sesuatu yang pantas untuk dihina. Sedangkan mereka memandang dari sudut pandang yang jauh berbeda. Namun tak banyak dari orang-orang yang mengerti mengenai perbedaan. Banyak dari mereka yang masih menghina satu sama lainnya. Bagaimana jika menjadi korban yang dihina? Bersabar saat dihina adalah satu-satunya jalan yang mulia untuk menghadapinya.

Lantas Bisakah Seseorang Bersabar Saat Dihina?

Jika seseorang bertanya mengenai bisakah mereka tetap sabar saat dihina, sekalipun hinaan itu sangatlah melukai hati atau bahkan harga diri, maka jawabannya adalah bisa. Pasti bisa. Semua orang pasti bisa menghadapi sebuah hinaan, cacian, makian dari orang lain dengan bersabar.

Bagaimanakah caranya bersabar saat dihina? Jawabannya adalah Allah. Allah adalah sebaik-baiknya tempat kembali. Saat dihina mati-matian lah atau dihina hingga melibatkan kekerasan fisik, maka kembalikan semuanya kepada Allah. Allah tidak tertidur bahkan saat hambanya mengalami musibah seperti hinaan.

Semua hinaan yang didapatkan tidak perlu dimasukkan kedalam hati. Lantas ingatlah bahwa Allah akan selalu melindungi hambanya, beristighfar lah agar setan tidak merajai hati dan membuat turut membalas orang yang menghina dengan hinaan pula atau bahkan lebih kejam darinya.

Ingat Allah, beristighfarlah kepada Allah niscaya Allah akan membalas semua sakit dan perih di hatimu yang mereka tanam dengan hal yang tidak diduga. Bisa saja mereka yang menghina akan mendapatkan hal yang lebih buruk. Belum tentu, seseorang yang menghina itu lebih baik dari yang dihina. Jadi tenanglah, ada Allah.

Baca Juga:  Biografi Amancio Ortega, Pemilik Zara

Dihina Tidak Membuat Seseorang Lebih Hina Dari Yang Menghina

Menghina adalah tanda seseorang yang rendah imannya. Bagiamana ia bisa menghina makhluk Allah lainnya sedang ia bukanlah hamba yang sempurna? Tidak ada manusia yang sempurna lantas untuk apa manusia saling menghina. Jika seseorang menghina saudaranya, maka belum tentu ia lebih baik dari saudara yang dihinanya. Bisa jadi, ia hanya menutupi kekurangan yang dimilikinya dengan menunjukkan atau menghina kekurangan orang lain.

Lebih-lebih jika korban yang dihina mampu bersabar saat dihina. Maka sudah jelaslah bahwa yang dihina justru lebih baik dari pada seseorang yang menghina. Karena sesungguhnya dihina tidak membuat seseorang kehilangan derajatnya dihadapan Allah. Sekalipun mungkin banyak orang yang termakna hinaan dan menjauhinya sehingga ia dikucilkan di masyarakat, tapi ia akan menempati tempat yang termulia disisi Allah.

Seperti yang sering kita dengar bahwa doa orang teraniaya itu lebih didengar Allah, maka saat mengalami hinaan, berdoalah untuk kebaikanmu dan orang yang menghinamu serta bersabar saat dihina. Maka Allah akan mengangkat derajat bagi hamba-Nya yang bersabar menjadi lebih baik dari sebelumnya. Yakinkan hati dan tetaplah bersandar kepada Allah. Jangan lantas membalas apa yang dihinakan.

Berusaha Tidak Membalas Hinaan Dengan Hinaan Pula Atau Bahkan Yang Lebih Buruk

Bagi kebanyakan orang, dari pada bersabar dengan orang lain yang menghina, mak alebih baik membalas untuk menghinanya dengan kata-kata yang lebih kasar dan lebih menyayat di hati. Bisa saja penghinaan tersebut dibalas dengan beribu hinaan lainnya yang nyatanya memang pantas untuk dihina.

Namun, baikkah hal itu dilakukan? Jawabannya adalah tidak. Jangan membalas keburukan dengan melempar keburukan yang sama atau bahkan lebih buruk, bersabar saat dihina adalah salah satu solusinya. Sehingga tak perlu membalas, namun bersabarlah.

Baca Juga:  Larry Ellison, Pemimpin Oracle

Nabi Muhammad SAW saja, yang bertubi-tubi mendapatkan hinaan, cacian, bahkan perlakuan kasar dari orang-orang yang tidak menyukainya tetap memilih untuk bersabar saat dihina. Beliau sama sekali tidak pernah membalasnya ataupun mendoakan buruk pada orang yang menghina beliau. Lantas siapakah dirimu dan seberapa muliakah dirimu hingga berani membalas sebuah hinaan?

Jika seseorang yang dihina membalas hinaan tersebut, lantas apa bedanya ia dengan orang yang menghinanya? Bukankah itu akan membuatnya terlihat buruk pula? Dan justru Allah tidak akan menganggapnya sebagai orang teraniaya karena ia membalasnya dengan menganiaya orang lain. Maka jangan sekali-kali membalas kelakuan buruk dengan kelakuan buruk lainnya. Pasrahkan dan serahkan semuanya kepada Allah. Biar Allah yang mengganti semua sakit dan membalasnya dengan hal lainnya.

Jangan Terpuruk Hanya karena Hinaan Yang Tidak Berguna

Lidah memang tak memiliki tulang, namun lidah memiliki kekuatan yang bisa membunuh melebihi sebilah pedang. Jika seseorang bisa membunuh orang lain dengan pedang, maka mereka juga bisa menggunakan lidahnya untuk membunuh hati seseorang. Pada kenyataannya, sakit yang terletak di hati lebih sakit dari pada sakit pada luka luar. Sakit hati memang sulit disembuhkan dan juga sulit melupakan seseorang yang melukai perasaan dan hati.

Namun apalah daya, membalas apa yang dilakukan olehnya juga merupakan hal yang buruk. Namun memaafkan juga bukanlah hal yang mudah. Lantas apa yang harus dibalaskan saat hinaan menyerang? Maka kekuatan yang harus dimiliki adalah bersabar saat dihina.

Dan yang paling harus diperhatikan adalah janganlah terpuruk sedikitpun. Jangan termakan apa yang mereka ucapkan dalam sebuah hinaan. Lupakanlah dan tetap jalani hidup dengan apa adanya seperti yang biasa dilakukan. Apakah mudah melakukannya? Tentu saja tidak mudah.

Baca Juga:  Bukan Dongeng, Nyatanya 10 Anggota Kerajaan Ini Nikahi Rakyat Biasa

Saat hinaan menyerang, seseorang pasti terhanyut dan memikirkan apakah benar ia seperti yang dikatakan orang tersebut. Namun jangan biarkan pikiran dan kegalauan hati menyerang. Pasrahkan semua kepada Allah. Perbanyak beribadah dan bangkitlah. Hanya Allah yang mengetahui segala isi hati dari hambanya sedangkan mereka yang menghina hanyalah sok tau.

Buktikan Bahwa Diri Ini Lebih Baik Dari Mereka Yang Menghina Seenaknya

Pernah mendengar sebuah kata-kata  bahwa syirik itu tanda tak mampu? Yaps, begitulah kira-kira apa yang harus diingat dan dicamkan baik-baik saat terjadi penghinaan. Terlebih jika hinaan yang dilontarkan tidak sesuai dengan kenyataan atau bahkan orang lain sedang membual dan mengada-ada tentang apa yang mereka hina.

Yakinkan diri dan buktikan kepada siapapun yang menghina bahwa mereka yang menghina tidak lebih baik dari yang dihina. Buktikan juga bahwa apa yang mereka hinakan darinya tidak sesuai dengan kenyataan. Tunjukkan yang sebenarnya dan lupakan hinaan tersebut dengan perlahan namun pasti.

Tidak usah dimasukkan dan diingat dalam hati karena jika disimpan dalam hati maka nantinya akan menjadi sebuah dendam yang mendalam. Cukuplah Allah saja yang membalaskannya dengan cara yang Allah hendaki.

Jadi, bersabar saat dihina adalah hal yang tepat untuk dilakukan. Belajarlah akan hal itu dan belajar pula memaafkan seseorang tanpa membalasnya. Tidak perlu membalas untuk membuatnya kalah, namun membalas hanya akan membuktikan bahwa mereka menang. Teguhkan hati dan mintalah bantuan Allah sang Maha Pencipta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *