Budaya yang Dianggap Hampir Punah Karena Terlupakan

Budaya yang Dianggap Hampir Punah Karena Terlupakan

Hampir 7 dekade lalu, ahli antropologi asal Amerika Serikat, Clyde Kluckhohn, menerbitkan sebuah kategori kebudayaan. Terbitan ini masih digunakan sebagai acuan ilmiah karena kategorisasinya sangat mudah dipahami. Bukan saja para pelajar ilmu sosial, terbitan Kluckhohn juga sangat membantu para pegiat budaya yang sedang menghadapi permasalahan budaya yang hampir punah.

Kategorisasi kebudayaan yang disampaikan Clyde Kluckhohn mencakup 7 unsur kebudayaan yang berlaku universal, yakni:

  1. Sistem religi dan upacara keagamaan
  2. Sistem pengetahuan
  3. Sistem peralatan hidup dan teknologi
  4. Sistem mata pencaharian
  5. Bahasa
  6. Kesenian
  7. Sistem organisasi kemasyarakatan

Perkembangan konsep-konsep kebudayaan telah menghasilkan perubahan pemahaman antara kebudayaan dan budaya. Jika mengacu pada definisi Prof. Dr. Koentjaraningrat, kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

Sementara definisi budaya yang banyak digunakan lebih menyerupai definisi folklor yang disampaikan oleh Alan Dundes pada tahun 1965. Folklor berasal dari dua kata bahasa Inggris, yakni folk (kolektif/masyarakat) dan lore (tradisi yang dimiliki oleh kolektif/masyarakat). Folklor berarti sebagian tradisi suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun dan tradisional dalam bentuk lisan, sebagian lisan, maupun nonlisan.

Pengertian folklor tersebut tidak berbeda jauh dengan definisi budaya yang dimaknai sebagai cipta, rasa, dan karsa suatu masyarakat. Kemiripan keduanya terletak pada penekanan “sebagian kebudayaan” yang menjadi cara hidup individu dan diterima melalui proses belajar.

Karena budaya merupakan sebagian dari kebudayaan, maka hanya proses belajar dan pewarisan cipta, rasa, dan karsa saja yang terancam punah. Sementara, sistem berpikir, bertindak, dan memaknai tindakan yang merupakan ide besar kebudayaan, akan cenderung bertahan dalam kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga: 8 Tempat Wisata Daerah Solo Jawa Tengah Paling Populer

Sifat bertahan suatu kebudayaan memang sangat tergantung pada proses penurunan nilai-nilai (values) antargenerasi. Budaya sejatinya akan selalu berhadapan dengan tiga faktor perubahan, yakni ideologi, ekologi, dan teknologi. Ideologi berperan mengubah budaya suatu folk melalui invasi, konflik, peperangan, maupun pemberontakan dalam kehidupan bermasyarakat.

Faktor selanjutnya yang memungkinkan perubahan budaya adalah ekologi. Konteks yang perlu ditekankan yakni terjadinya perubahan kondisi alam yang disebabkan oleh bencana atau kerusakan alam akibat ulah tangan manusia. Sementara faktor terakhir, sekaligus yang paling mudah dirasakan dan berdampak langsung pada perubahan budaya, yaitu teknologi.

Dalam menghadapi ketiga faktor perubahan budaya, folk akan selalu dituntut untuk beradaptasi ulang dengan proses pembentukan budaya baru. Pembentukan ini bisa terjadi melalui akulturasi, difusi, atau asimilasi. Sesuai dengan ketiga bentuk perubahan ini, maka ancaman kepunahan budaya menjadi tidak relevan sama sekali.

Budaya mungkin terlupakan dan tidak diingat lagi karena terhambatnya proses penyampaian nilai-nilai antargenerasi. Akan tetapi, menyebut budaya hampir punah jelas terlalu lebay. Seni tradisi yang telah berusia puluhan tahun dan berkembang pada sejumlah folk di Indonesia, tidak mungkin punah begitu saja.

Terlebih, hampir setiap daerah di Indonesia memiliki keunikan lore-nya masing-masing yang sangat kaya. Mulai dari seni tradisi lisan (seperti cerita rakyat, dialek, logat, nyanyian rakyat, pantun, peribahasa, dsb.), sebagian lisan (permainan rakyat, tari rakyat, teater rakyat, upacara adat, dsb.), hingga folklor nonlisan (bangunan tradisional, kerajinan tangan rakyat, kuliner, pakaian, perhiasan, dsb.).

Agar tidak semakin terlupakan, pembahasan berikutnya akan menyoroti 5 budaya yang eksistensinya sangat jarang terekspos. Dari pembahasan inilah seharusnya kita bisa belajar lebih jelas, sebelum mengeklaim ancaman kepunahan budaya.

Cara Hidup Orang Mentawai yang Terlupakan

Cara Hidup Orang Mentawai
Sumber: Instagram

Pada sebuah sudut di Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, kita dapat menemukan Desa Muntei. Berbatasan langsung dengan Desa Maileppet dan Muara Siberut, desa ini berjarak 10 menit berkendara ojek dari pelabuhan Maileppet.

Baca Juga: Kisah Mistis Para Pendaki Gunung Lawu

Desa Muntei dibangun pemerintah pada tahun 1979, dan saat ini dihuni oleh masyarakatnya pindahan dari Siberut Hulu. Inilah salah satu desa yang masyarakatnya masih menyimpan kekayaan tradisi dalam praktik hidup mereka sehari-hari.

Sebagian besar penduduk Desa Muntei bekerja sebagai petani pisang, kelapa, dan pinang. Desa Muntei cukup dikenal karena ritual pengobatan yang dilakukan oleh para sikerei (tabib). Mereka mengobati orang sakit sekaligus menjadi penghubung ke dunia gaib.

Di wilayah Siberut sendiri ada 2 orang sikerei, yakni Teteu Rima dan Teteu Andro. Mereka berdua merupakan pelaku ritual Paruak Dalam yang akan menyiapkan prosesi dan mengakhirinya dengan iringan musik tradisional gajeumak atau nyanyian kerei.

Ritual Paruak Dalam dimulai dengan pengalungan daun-daun atau buluk aileppet yang dilakukan oleh setiap kerei ke kerei lainnya. Pengalungan daun, yang telah dioleskan kuah ikan terlebih dahulu ini, dimaksudkan agar para kerei tidak sakit selama menjalani ritual.

Pada bagian akhir ritual pengobatan, para kerei akan membawakan tarian Turuk Laggai. Tarian ini biasanya diiringi tabuhan Tuddukat dan Urai (seni olah vokal Orang Mentawai) yang ditujukan kepada roh orang yang sakit agar terhibur dan tidak meninggalkan raganya. Jika roh meninggalkan raga, maka orang yang sakit bisa meninggal dunia.

Gerakan Turuk Laggai merupakan peniruan dari gerak binatang-binatang yang hidup di lingkungan alam sekitar Orang Mentawai. Biasanya tarian ini akan menceritakan tingkah laku burung yang terbang di alam bebas, atau kelinci yang kabur dari pemburu.

Kedekatan Orang Mentawai dengan alam telah mengajarkan mereka untuk hidup harmonis dengan lingkungan sekitarnya. Mereka pun selalu berupaya mengamalkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Turuk Laggai seperti ajaran perdamaian dan cinta kasih antarsuku.

Talang Tuo Bukti Peradaban Kerajaan Sriwijaya yang Terlupakan

Bukti Peradaban Kerajaan Sriwijaya
Sumber: Instagram

Talang Tuo merupakan prasasti yang ditemukan oleh Louis Constant Westenek pada tahun 1920 di kaki Bukit Siguntang. Beralaskan bidang datar berukuran 50×80 cm dan berangka tahun 606 Saka (23 Maret 684 M), Talang Tuo ditulis menggunakan aksara Pallawa dan Bahasa Melayu Kuno.

Setelah berhasil dibaca pertama kali oleh Van Ronkel dan Bosch, George Coedes kemudian menyempurnakan pembacaan teks dan terjemahan isi prasasti sekitar tahun 1930. Prasasti Talang Tuo menceritakan pembangunan sebuah taman untuk rakyat oleh raja Sriwijaya.

Taman buatan raja, yang dinamakan Taman Sriksetra, berada di sebuah tempat yang mempunyai pemandangan indah dengan lahan berbukit-bukit dan berlembah. Di dasar lembah mengalir sebuah sungai yang menuju Sungai Musi. Taman Sriksetra ditumbuhi pohon kelapa, pinang, aren, sagu,  bambu haur, wuluh dan sebagainya.

Kelak, pembangunan taman ini menjadi acuan bagi pengembangan taman-taman dan kebun-kebun lainnya yang dilengkapi kolam dan bendungan. Pada masa itu taman, kebun, bendungan, dan kolam memang banyak tersebar di berbagai tempat. Keberadaannya semata-mata ditujukan bagi kebahagiaan seluruh makhluk hidup.

Inti amanat dari Prasasti Talang Tuo merupakan inspirasi bagi kita untuk selalu menjaga dan mengelola lingkungan demi kemakmuran semua makhluk hidup. Bumi yang diidamkan oleh raja bukanlah hutan dan lahan gambut yang rusak.

Sebaliknya, Taman Sriksetra harus menjadi kawasan budaya dan ekologi yang bisa menjadi habitat keanekaragaman hayati, serta sumber ekonomi berkelanjutan untuk kehidupan masyarakat.

Seni Tradisi Bali yang Terlupakan

Aksara Bali

Aksara Bali merupakan salah satu aksara kuno yang masih memiliki kekerabatan dengan aksara Jawa. Memuat 47 huruf, bahasa Bali dalam aksara ini dapat dituliskan hanya dengan 18 huruf konsonan dan 7 huruf vokal.

Aksara Bali sudah semakin ditinggalkan dan dilupakan karena terbatasnya alat bantu dan penerbitan literatur yang bermutu. Keterbatasan ini berakibat pada penggunaan aksara yang semakin jarang digunakan, dan sudah tidak dikenali lagi oleh anak-anak muda Bali.

Aksara Bali
Sumber: Instagram

Tari Sanghyang Dedari

Tari Sanghyang Dedari punya kaitan erat dengan tradisi pertanian di Bali. Tarian yang biasanya dilakukan untuk menyambut masa panen ini sudah semakin langka karena lahan pertanian juga sudah semakin berkurang. Satu-satunya lokasi pelaksanaan ritual ini mungkin hanya ada di Desa Geriana Kauh, Duda Utara, Karangasem Bali.

Sanghyang Dedari akan dibawakan menjelang padi menguning dengan melibatkan anak-anak perempuan yang belum memasuki fase menstruasi, sehingga mencegah kerauhan (kerasukan). Sempat berhenti selama 30 tahun, tetua Desa Geriana Kauh kembali melakukan ritual Sanghyang Dedari agar lahan pertanian warga terbebas dari hama pengganggu.

Tari Sanghyang Dedari merupakan fondasi sekaligus cikal bakal tari-tarian di Bali. Kecenderungan tari-tarian Bali lain yang menjadi sekuler, memicu kekhawatiran pegiat Sanghyang Dedari untuk mengomersialkan kesakralan filosofi yang telah dipegang teguh oleh folk-nya.

Tari Sanghyang Dedari
Sumber: Instagram

Sistem Subak

Sistem pembagian air ini sebenarnya telah menjadi identitas khas Bali. Namun, Subak mulai terlupakan karena para pemilik sawah sudah beralih menjadi penyedia lahan properti.

Ada dua subak utama yang aliran sungainya merupakan satu-kesatuan, yakni Subak Jatiluwih di Kabupaten Tabanan dan Subak Pulagan di Kawasan Hulu Tukad Pekerisan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Kedua Daerah Aliran Sungai (DAS) menyatu dengan kawasan suci Pura Taman Ayun, Mengwi, Kabupaten Badung dan Pura Ulundanu Batur, Kabupaten Bangli.

Subak Pulagan pertama kali dibangun pada Dinasti Warmadewa di zaman pemerintahan Prabu Udayana Warmadewa, sekitar abad ke-10 dan ke-11. Air irigasinya mengalir langsung dari kawasan Pura Tirta Empul, yang bersebelahan dengan Istana Presiden Tampaksiring. Subak ini dianggap keramat karena ketentuan adat mengharuskan setiap bahan sesajen untuk ritual di Tampaksiring, agar menggunakan beras hasil tanaman padi di Pulagan.

Sistem Subak
Sumber: Instagram

Pranata Ekologis di Hutan Dayak yang Terlupakan

Setiap memasuki musim panen, Suku Dayak Wehea di Desa Nehas Liah Bing, Muara Wahau, Kalimantan Timur, akan disibukkan dengan panen raya. Perayaan ini disebut upacara Lomplai, yang ditujukan sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat panen padi yang melimpah selama satu tahun.

Lomplai tidak pernah dilakukan pada tanggal yang sama, karena sistem penanggalan tradisional Dayak Wehea menggunakan penghitungan pergeseran bulan. Di balik perayaan panen dalam Lomplai, terselip kisah pengorbanan Putri Long Diang Yung selama bencana kekeringan ribuan tahun silam.

Puncak acara Lomplai akan dimulai sejak pukul 04.00 dini hari. Para ibu rumah tangga akan memasak lemang dan beangbit (dodol dayak) sebagai syarat utama yang harus tersaji di setiap rumah. Pagi harinya warga akan memasak sayur yang berisi ayam, dan akan menggunakan darah ayam tersebut sebagai melhaq (olesan) di dahi pembuat lemang.

Ikatan dengan alam yang diwujudkan oleh warga Dayak Wehea tidak saja soal perayaan panen. Mereka punya keyakinan bahwa bumi, hutan, dan segenap lingkungan beserta makhluk hidup di atasnya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari hidup.

Hal ini tercermin dalam proses pembukaan lahan baru untuk ladang. Orang Dayak harus mematuhi ketentuan adat untuk memberitahukan maksudnya kepada kepala suku atau kepala adat. Selanjutnya beberapa orang akan mencari hutan yang cocok dengan membaca gejala alam.

Setelah menemukan lokasi ladang yang cocok, mereka akan melakukan upacara pembukaan untuk memberi pengakuan bahwa hutan itulah yang memberi mereka hidup. Di balik pengakuan juga tersimpan harapan agar hutan yang dibuka berkenan memberi hasil dan selalu melindungi mereka.

Dalam mekanisme adat Dayak Wehea, ladang hasil pembukaan hutan hanya boleh digunakan dua sampai tiga kali masa panen. Selanjutnya area tersebut harus dibiarkan tumbuh selama sepuluh hingga lima belas tahun. Pranata ini sedikit terusik akibat keserakahan industri yang merusak hutan. Oleh karena itu warga pun membentuk Petkuq Mehuey (penjaga hutan) yang bertugas memantau aktivitas penebangan ilegal.

Pesta Adat Lomplai
Sumber: Instagram

Petkuq Mehuey juga bertanggung jawab untuk memonitor kehidupan satwa liar agar tidak diusik. Salah satunya spesies orangutan Borneo (pongo pygmaeus) yang telah menjadi bagian dari keutuhan ekosistem di Hutan Wehea. Sebagai sumber kehidupan bagi suku Dayak Wehea, penggambaran tentang ikatan mereka dengan hutan bisa terlihat jelas dalam kreasi-kreasi ukiran, lagu, tari, legenda, hingga aturan-aturan dan upacara adat.

Sasi Nggama Tradisi Kaimana yang Terlupakan

Selama ini kekayaan dan keindahan laut mungkin hanya menjadi objek yang instagramable dalam setiap perjalanan wisata. Sebelum kita menjadi semakin tidak bertanggung jawab, ada baiknya kita mengenal tradisi Sasi Nggama yang dipraktikkan oleh masyarakat adat di Kabupaten Kaimana, Papua Barat.

Menurut tradisi Sasi Nggama, masyarakat tidak diperbolehkan mengambil hewan laut tertentu selama 11 bulan. Fauna seperti teripang, lola (sejenis kerang laut), dan batulaga (sejenis siput laut) hanya boleh diambil pada saat-saat tertentu. Biasanya sekitar bulan Maret dan Mei, ketika musim angin barat tiba.

Setelah melewati batas waktu 11 bulan, masyarakat Kaimana diperbolehkan kembali mengambil hasil laut. Masa ini disebut Buka Sasi dan proses pelaksanaannya memiliki upacara adat tersendiri. Dimulai dengan doa untuk kelestarian alam, dilanjutkan dengan menuangkan sirih pinang dan lola/batulaga ke piring, lalu ditumpahkan ke laut.

Sasi Nggama Tradisi Kaimana
Sumber: Berita Lima Dot Com

Usai penumpahan hidangan, orang-orang boleh langsung menyelam dan mengambil hasil laut, karena simbolisasi pembayaran kepada alam telah dilakukan. Buka Sasi ini berlangsung sekitar dua minggu dan telah dilakukan oleh masyarakat sejak awal dekade 1960-an.

Sebagai identitas kultural yang mengatur pencegahan eksploitasi sumber daya alam, Sasi Nggama menjadi bentuk penghormatan masyarakat Kaimana terhadap kehidupan yang telah diberikan oleh alam. Inilah ingatan yang tidak kalah penting dari sebuah perjalanan wisata.

Benarkah Ada Ancaman Kepunahan?

Mengingat kembali eksistensi 5 budaya di atas, seharusnya mampu menyadarkan kita untuk lebih berhati-hati mengklaim budaya yang hampir punah. Karena persoalan yang lebih penting bukanlah mengklaim punahnya suatu budaya, tapi menyegarkan kembali ingatan-ingatan tentang budaya yang terlupakan.

Melalui proses pembentukan budaya baru, ancaman budaya yang terlupakan bisa dicegah dan disesuaikan dengan kebutuhan zaman kekinian. Sebuah perubahan jelas tidak bisa dinegosiasikan karena yang abadi hanyalah perubahan itu sendiri. Sebagai makhluk berakal, kita akan tampak lebih mulia apabila membantu  mengingatkan publik tentang keberadaan ruang-ruang pembentukan budaya baru.

Pesta Adat Lomplai
Sumber: Instagram

Kita tidak perlu bicara terlalu rumit soal pelestarian atau revitalisasi yang sudah menjadi tanggung jawab instansi lain. Cukuplah mulai meyakinkan diri sendiri agar tidak melupakan keunikan yang sangat kaya dan membuat anak cucu kita bangga menyebut diri sebagai orang Indonesia.

Baca Juga:  Ini 15 Destinasi yang Menjadi Prediksi Wisata 2020 Terpopuler

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *