Keistimewaan Dan Keunikan Subak, Sistem Pengairan Sawah Tradisional Bali

Keistimewaan Dan Keunikan Subak, Sistem Pengairan Sawah Tradisional Bali

Subak adalah sistem pengairan sawah tradisional di Pulau Dewata, Bali yang memiliki keunikan tersendiri. Sampai sekarang sistem pengairan peninggalan nenek moyang ini masih digunakan. Namun sayangnya tidak sedikit sawah yang dijual dan dialih fungsikan menjadi hotel, vila dan bangunan lainnya.

Dengan adanya kondisi tersebut, banyak pihak yang merasa khawatir sistem pengairan ini tidak lagi ada karena tidak ada sawah lagi dan generasi di masa yang akan datang tidak mengenal atau tidak dapat melihat secara langsung seperti apa sistem irigasi tradisional Bali.

Oleh sebab itu penting bagi masyarakat Bali khususnya dan kita sebagai orang Indonesia mengetahui dan mengenal keberadaan subak yang tidak lepas dari kekayaan warisan budaya.

Sejarah Dan Manfaat Subak Untuk Pertanian

Di dalam kajian sejarah sistem pengairan sawah khas Bali ini sudah ada sejak abad ke-11. Hal ini didukung dengan adanya penemuan Prastasti Raja Purana Klungkung, 994 Saka atau 1072 M. Di dalam Prastasti tersebut terdapat kata kasuwakara yang diduga merupakan asal kata subak.

Terdapat sumber lainnya ialah pada Lontar Markandeya Purana. Naskah tersebut menceritakan asal mula desa dan pura Besakih yang didalamnya terdapat cerita tentang pertanian, irigasi dan sistem pengairan sawah. Hal ini dapat menjadi bukti eksistensi subak sudah ada sejak sebelum Pura Besakih didirikan pada abad ke-11 Masehi oleh Resi Markandeya.

UNESCO sudah memberikan status atau terdaftar sebagai warisan budaya dunia, tepatnya pada tahun 2012 lalu dalam pertemuan sidang di Saint Petersburg Rusia. Selain itu, juga sistem pengairan sawah tradisional Bali mendapatkan pengakuan dari pakar pertanian Internasional, salah satunya pada tahun 1990 oleh John S. Amber

Makna Atau Filosofi Pengairan Irigasi Tradisional Bali

Bagi masyarakat Bali, subak tidak sekedar sistem pengairan sawah, namun menjadi konsep atau filosofi masyarakat Bali Itu sendiri. Sistem irigasi tradisional Bali ini sudah menyatu dengan konsep sosial dan budaya masyarakat setempat. Hal ini ditunjukkan melalui pemahaman terhadap bagaimana memanfaatkan air yang berlandaskan konsep Tri Hita Kirana.

Tri artinya tiga, hita artinya kebahagiaan atau kesejahteraan dan Karana artinya penyebab. Dari arti kata tersebut Tri Hita Karana adalah tiga penyebab terciptanya kebahagiaan serta kesejahteraan.

Baca Juga:  Sejarah Lawang Sewu Dan Misterinya

Penerapan dalam sistem pengairan ini menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam, manusia dengan sesama dan manusia dengan Sang Pencipta. Istilahnya adalah sebagai berikut.

  • Parahyangan adalah hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan.
  • Pawanganadalah hubungan harmonis antara manusia dengan manusia lainnya.
  • Palemahanadalah hubungan antara manusia dengan alam, lingkungannya.

Sama halnya dengan asosiasi atau komunitas Bali dalam hal kebersamaan, sistem pengairan sawah ini sifatnya komunal, yaitu setiap anggotanya harus mematuhi aturan berkaitan dengan jumlah air yang dia terima. Dengan adanya sistem pengairan ini membantu petani-petani kecil mendapatkan air dan menjaga saluran irigasi dari campur tangan pihak yang tidak bertanggung jawab menggunakan air untuk kepentingan sawahnya sendiri.

Selain itu manfaat subak untuk pertanian ini dapat memperbaiki kerusakan pada tanggul, mengatur jadwal, peringatan selesainya masa panen. Di komunitas subak setidaknya diadakan rapat umum yang diadakan setidaknya sebulan sekali. Rapat dilakukan di sebuah pura di tengan sawah yang dibuat untuk dewi padi.

Sebelum ditanami benih padi, para petani melakukan ritual meminta izin sekaligus memiliki niat baik bagi penguasa alam. Hal ini dilakukan dengan harapan agar penguasa alam memberikan air dan berhasil panen tanpa ada masalah atau gangguan apapun.

Hulu sistem pengairan tradisional Bali ini adalah pura danau yang didedikasikan untuk Ida Bethari Danu, Dewi Danau (Pura Ulun Batan). Masyarakat Bali percaya bahwa air merupakan karunia Ilahi. Segala hal termasuk aktivitas di sawah sudah diatur oleh para petinggi Pura Suci, termasuk di dalamnya waktu menyemai benin, jadwal pengambilan air hingga panen.

Dengan mengutamakan harmonisasi dan kebersamaan berlandasan aturan formal serta nilai keagamaan diharapkan sistem pengairan sawah dapat membendung pengaruh dari luar dan menjaga eksistensi di masa depan/yang akan datang.

Baca Juga:  Tahu Sejarah Bahasa Bali Dan Jenis-Jenisnya Di Sini Saja

Subak, Organisasi Masyarakat Bali

Di daerah dataran tinggi atau kondisi di lereng gunung dengan kontur tanah pegunungan membuat sistem irigasi sangat sulit diaplikasikan, namun hal tersebut dapat diatasi dengan konsep sawah berunda yang menjadi salah satu kunci penting dalam membudidayakan tanaman padi.

Petak-petak sawah dialiri air yang secara alami mengandung unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan padi.Air mengalir dari satu petak sawah ke petak berikutnya. Setiap petani umumnya memiliki satu atau lebih sawah. Setiap petani wajib bergabung dengan komunitas subak yang anggotanya terdiri dari masyarakat pertanian. Merekalah yang kemudian mengontrol distribusi air irigasi kepada anggota yang bergabung dalam komunitas.

Bisa dibilang pengairan sawah khas Bali ini merupakan sistem organisasi masyarakat Bali, yang memiliki fungsi mengatur pembagian aliran air irigasi untuk mengairi setiap petak sawah. Sistem yang dikelola secara bertingkat atau berkelompok ini memilii peran yang spesifik bagi para anggotanya. Dalam sistem pengairan sawah ini terdapat manajemen atau sistem secara tradisional. Dengan adanya kerjasama antara petani menjadikan Bali dikenal sebagai petani padi yang paling efisien di Indonesia.

Dalam sistem pengairan irigasi khas Bali ini terdapat beberapa perangkat, yaitu:

  • Ketua (pekaseh)
  • Wakil (wakil pekaseh)
  • Juru tulis (penyarikan)
  • Juru raksa (petengen)
  • Kurir (kasinoman)

Dan masih ada beberapa perangkat lainnya yang memiliki perannya masing-masing. Selain itu, terdapat pula subkelompok yang jumlahnya terdiri 20 – 40 petani yang istilahnya disebut munduk. Munduk diketuai oleh pengliman.

Selain sistem strukturalnya, ciri khasnya terdapat dalam ritual keagamaan yang berlaku secara personal maupun kelompok atau tingkat munduk/tempek serta subak.

Kegiatan ritual perorangan, yaitu pada waktu pertama kali mencangkul (ngendangin), pada saat menabur benih (ngawiwit), pada saat menanam (mamula), pada saat padi berumur 1 bulan agar terhindar dari serangan penyakit/ hama (neduh), pada saat padi sudah mulai berisi (binkunkung), saat panen (nyangket) dan pada waktu padi disimpan di lambung (meteni).

Baca Juga:  Pura Ulun Danu Beratan Bedugul Bali Yang Indah Dan Menawan

Sedangkan ritual berkelompok, seperti aktivitas pada waktu: mapag toya, mecaru dan ngusaba.

Bisa dibilang subak adalah salah satu wujud gotong royong masyarakat Bali yang sudah ada sejak dahulu kala. Dalam usaha memperkenalkan dan melestarikan subak sebagai warisan budaya nenek moyang maka didirikan museum subak yang bisa Anda kunjungi di kabupaten Tabanan.

Atau, jika Anda ingin melihat secara langsung sistem pengairan sawah khas Bali bisa kunjungi areal sawah di sepanjang aliran sungai Pakerisan di Gianyar, Caturangga Batukaru di Tabanan, kawasan di Danau Batur, area di sekitaran Pura Taman Ayun. Bisa juga ke komplek sawah di daerah Jatiluwih yang terkanal sebagai daerah penghasil beras berkualitas.

Demikian informasi mengenai keunikan sistem pengairan irigasi tradisional di Bali yang kaya akan makna dan filosofi serta nilai budaya. Jadi tidak heran jika subak dimasukkan ke dalam salah satu warisan budaya dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *