Mengenal Sasi Nggama, Tradisi Menjaga Kelestarian Alam Masyarakat Kaimana Papua Barat

Mengenal Sasi Nggama, Tradisi Menjaga Kelestarian Alam Masyarakat Kaimana Papua Barat

Masyarakat adat di wilayah Kabupaten Kaimana, Papua Barat memiliki tradisi unik dalam hal menjaga kelestarian lingkungan baik di darat maupun di laut, yaitu Sasi Nggama. Wilayah Kaimana merupakan salah satu kawasan yang dilindungi karena alamnya yang sangat kaya, yaitu berupa pulau karst dan beragam spesies yang juga tidak kalah indah dengan Raja Ampat.

Berdasarkan penelitian Konvensional Internasional Indonesia, kawasan perairan di laut Kaimanan adalah penyumbang biomassa terbesar di Asia Tenggara. Di dalam lautnya terdapat sekitar 959 jenis ikan karang, 28 spesies udang matis, 471 buah jenis karang dan masih banyak spesies endemis yang belum teridentifikasikan.

Dengan adanya tradisi Sasi Nggama pengelolaan perikanan dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Tidak hanya itu, tradisi ini juga menjadi upaya memajukan pariwisata. Lalu seperti apakah Sasi Nggama itu? Untuk lebih jelas simak ulasannya berikut ini.

Tradisi Sasi Nggama

Konservasi laut ini sudah sejak dulu digunakan oleh nenek moyang Papua Barat. Sasi nggama adalah sejumlah peraturan yang mengatur bagaimana memanfaatkan sumber daya alam.  Leluhur menyadari bahwa tingkah laku manusia yang semena-mena terhadap lingkungan atau alam bisa berdampak buruk bagi keberlangsungan hidup manusia.

Tradisi yang dianggap tradisional ini mengandung kearifan lokal yang diaplikasikan di berbagai norma dan peraturan hukum adat. Dari dulu hingga sekarang masih melekat dalam kehidupan masyarakat Kaimana Papua Barat, terutama bagi Suku Koiwai.

Terdapa tiga kampung yang sampai sekarang masih melakukan tradisi Sasi Nggama yaitu: Kampung Namatota, Kampung Adijaya dan Kampung Syahwatan.

Sasi adalah aturan berupa larangan mengambil hasil SDA sebagai upaya pelestarian demi menjaga kualitas dan populasi sumber daya baik hewani maupun nabati. Peraturan dalam pelaksanaan berupa larangan menyangkut juga peraturan hubungan antara manusia dengan alam dan sesama manusia lainnya. Jadi sasi pada hakikatnya adalah suatu upaya untuk memelihara sopan santun atau tata krama bagaimana hidup di masyarakat. Termasuk di dalamnya pembagian yang adil atau hasil dari sumber daya alam di sekitar kepada masyarakat setempat.

Baca Juga:  Panorama Pantai Randusanga Indah Brebes Dan Berbagai Fasilitas Menariknya

Sasi berlaku dalam bentuk norma serta etika yang terdapat di dalam hukum adat. Sasi dapat dikatakan sebagai pedoman atau cara mengedepankan kebijaksanaan dalam mengambil sumber daya alam baik di laut maupun di darat (pertanian).

Tradisi lokal ini didukung oleh Pemerintah melalui Peraturan Bupati No 4, tahun 2008 mengenai KKLD (Kawasan Konservasi Perairan Daerah) yang pembahasannya melibatkan berbagai tokoh perwakilan suku Kaimana, Pemerintah Daerah dan CI Indonesia. Perwakilan dari Kaimana terdiri dari 8 suku.

Pelaksanaan Sasi Nggama

Tradisi menjaga kelestarian alam ini dalam setahun dilakukan sebanyak satu sampai dua kali, tergantung kondisi laut. Biasanya yang memasang Sasi adalah ketua adat, sebelum pemasangan terlebih dahulu mengumpulkan masyarakat dengan mengumumkan pemasangan sasi menggunakan tanda berupa janur yang sudah dianyam.

Dengan adanya tanda tersebut menjadi tanda nelayan dilarang mengambil hewan laut yang memiliki nilai tinggi, seperti teripang, siput batu laga, lola dalam jangka waktu tertentu, biasanya 11 bulan dalam setahun. Pada saat Sasi dipasang, masyarakat mengawasi tumbuh kembang ekosistem dan mengantisipasi jika ada pihak luar yang melakukan perusakan.

Sasi Nggawa diawali dengan prosesi adat buka sasi. Pada saat proses ini, tokoh adat baik laki-laki maupun perempuan yang membawa buka sasi, yang terdiri dari: daun sirih, pinang, telur, rokok dan lainnya. Perlengkapan buka sasi tersebut merupakan simbol ungkapan syukur kepada Tuhan dan juga bentuk terima kasih kepada alam.

Setelah selesai periode larangan, masyarakat kemudian diberi kesempatan selama kurang lebih dua minggu untuk panen hewan laut. Masyarakat boleh memanen hewan laut yang bernilai tinggi hanya pada masa tertentu, biasanya pada saat musim angin barat yaitu antara bulan Maret dan Mei.

Baca Juga:  Pura Luhur Uluwatu Menyuguhkan Destinasi Liburan Yang Berbeda

Secara tradisional tradisi unik di Indonesia ini dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:

  • Sasi perorangan yaitu melindungi SDA milik pribadi pada batas waktu tertentu.
  • Sasi umum, yaitu aturan yang diterapkan untuk jenis kebun campuran berbagai pohon yang ada di Papua dan Maluku.
  • Sasi Desa, berlaku untuk semua lapisan masyarakat desa dan umumnya terdiri dari beberapa dusun.

Seiring waktu dan perkembangan zaman, kewenangan sasi bertabah dan akhirnya mengalami perkembangan. Yang awalnya dibagi tiga, kini dibagi menjadi empat kategori, yaitu: sasi perorangan, sasi umum, sasi masjid dan gereja dan sasi negeri.

Sasi gereja dan masjid adalah sasi yang disetujui oleh pihak masjid, gereja atau penduduk setempat. Sedangkan sasi negeri adalah sasi yang disetujui oleh pemerintah daerah setempat, seperti kepala desa, bupati, contohnya mengatasi masalah mengenai batas daerah/wilayah.

Kembali ke pembahasan sasi perikanan. Aktivitas menangkap ikan juga terdapat aturan atau syarat-syarat yang harus dipatuhi. Beberapa aturan yang harus ditaati, di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Hanya boleh memanen hewan yang ukurannya besar. Jika ada hewan lainnya yang tidak sesuai standar maka tidak boleh ditangkap. Hal ini dilakukan agar ikan bisa tumbuh dan berkembang biak.
  • Menangkap ikan harus di waktu-waktu tertentu.
  • Menangkap ikan tidak boleh menggunakan bom atau bahan beracun.
  • Menangkap ikan harus menggunakan redi karoro yaitu jaring bermata kecil.
  • Untuk daerah penangkapan tertentu boleh menggunakan jaring khusus.

Keberhasilan tradisi menjaga kelestarian alam ini bisa dilihat dari kelimpahan biodata laut pada saat sasi dibuka.  Peraturan sasi tidak hanya diberlakukan dari batas air surut ke awal air yang dalam, namun juga di sungai (sasi kali), di daratan (sasi hutan) dan di pantai (sasi pantai).

Baca Juga:  Pura Ulun Danu Beratan Bedugul Bali Yang Indah Dan Menawan

Pengawasan Sasi

Jika ada masyarakat yang melanggar sasi maka akan dikenakan sanksi/hukuman adat. Pengawasan sasi umumnya oleh raja atau istri ketua suku. Zaman dulu sanksi yang diberikan dengan cara harus membayar denda berupa piring dan perhiasan. Sekarang diganti uang dengan jumlah tertentu. Sanksi yang paling berat adalah sanksi sosial berupa pengucilan dan teguran dari alam.

Tradisi unik di Indonesia ini ternyata tidak hanya menjaga populasi sumber alam saja, namun menjadi upaya agar masyarakat sejahtera dan terhindar dari kelaparan.

Keunikannya tradisi ini berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lainnya. Misalnya: di Pulau Nawarum janur kelapa yang ditancapkan selama Sasi Nggama kemudian dicabut lalu dicelupkan sebanyak tiga kali ke dalam laut.

Sedangkan di Pulau Namatota, raja atau kepala adat akan membuat sesajen berupa: lola dan sirih pinang atau batulaga yang dijadikan simbol pembayaran kepada alam. Sesajen disimpan di piring kemudian ditumpahkan ke laut.

Setelah kita membahas seperti apa dan bagaimana aturan Sasi Nggama kita bisa menyimpulkan tradisi Sasi Nggama adalah bentuk rasa syukur dan penghormatan masyarakat kepada alam yang telah memberikan sumber daya perikanan, menjaga kesejahteraan masyarakatnya sekaligus menjadi perayaan pesta rakyat yang harus dijaga sebagai identitas kultural.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *