Sejarah Dieng, Pesona Negeri Di atas Awan

Sejarah Dieng, Pesona Negeri Di atas Awan

Dieng merupakan salah satu wilayah dataran tinggi di Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Wilayah ini berada pada ketinggian 2.000 mdpl dan merupakan area vulkanik karena terdapat pegunungan yang masih aktif. Sejarah dieng menunjukkan bahwa tahun 90an wilayah ini masih terpencil dan jauh dari sentuhan teknologi.

Memiliki tinggi yang menjulang, Dieng didapuk sebagai dataran tinggi terluas di pulau Jawa dan tertinggi te kedua setelah Tibet. Secara geografis dataran tinggi Dieng berada pada 7o 12’ Lintang Selatan dan 109o 54’ Bujur Timur. Suhu di dataran tinggi Dieng terbilang dingin, berkisar antara 15-20oC pada siang hari dan 10o pada malam hari dan mencapai 0o di pagi hari.

Sejarah Dieng

Sejarah Dieng dapat dilihat dari penamaannya. Berasal dari Bahasa Kawi, di berarti tempat atau gunung dan hyang yang berarti Dewa. Dari kedua kata ini, dapat diketahui bahwa Dieng adalah wilayah pegunungan tempat Dewa bersemayam. Dieng dipercaya sebagai tempat tinggal para Dewa oleh masyarakat setempat

Wilayah dataran tinggi berada dibawah pengaruh politik Kerajaan Galuh sekitar tahun 600M. Kala itu Dewa Jagadnata memindahkan langsung gunung kosmik Meru dari India ke Gunung Dieng. Dieng sejak saat itu dijadikan sebagai Ibukota Kerajaan dan pusat peradaban Hindu dan spiritualitas.

Sepanjang sejarah Dieng, diperkirakan 200 candi berdiri di wilayah ini namun hancur karena bencana alam yang melanda. Kini hanya sekitar 8 candi yang masih berdiri kokoh di dataran tinggi Dieng. Pendiri candi-candi ini adalah pemerintahan Kerajaan Kalingga dari dinasti Sanjaya yang saat itu menguasai Dieng.

Dalam salah satu kitab yang ditulis oleh Raja Sanjaya terdapat kata yang menyebutkan Dieng. Kitab tersebut mengatakan bahwa Dieng merupakan tenpat yang paling baik untuk pemujaan kepada Dewa Kerusakan, Dewa Siwa. Jadi, candi-candi tersebut dibangun dan didedikasikan untuk pemujan Dewa Siwa.

Berdasarkan kilasan sejarah Dieng, dahulu tepat ditengah-tengah wilayah Dieng dibangun tempat pemujaan para Dewa dan asrama pendidikan umat Hindu yang tertua di Indonesia. Bangunan ini dijadikan tempat pemujaan Dewa Siwa agar sang Dewa tidak mendatangkan kerusakan di kehidupan manusia.

Baca Juga:  Wisata Favorit Di Malang Yang Wajib Kamu Kunjungi

Destinasi Wisata di Dataran Tinggi Dieng

Termasuk dalam Kawasan wisata andalan pemerintah Jawa tengah, Kawasan Dieng punya banyak objek wisata yang dapat dikunjungi oleh para pengunjung. Banyak pengunjung baik wisatawan local maupun turis mengunjungi dataran tinggi Dieng untuk berwisata alam maupun wisata budaya. Berikut destinasi wisata yang wajib dikunjungi saat berkunjung ke Dieng.

1. Bukit Sikunir

Bukit Sukinir merupakan salah satu Kawasan di dataran tinggi Dieng yang menawarkan pemandangan yang unik. Menjelang pagi hari, mata pengunjung akan disuguhkan dengan pemandangan golden sunrise kemerahan. Pemandangan ini tentu menjadi background foto yang indah. Selain itu banyak tempat lain di Sikunir yang bisa dijadikan sebai spot berfoto.

Karena lokasinya yang berasa diatas bukit, butuh sedikit perjuangan untuk mendaki anak tangga hingga bisa mencapai puncak bukit. Struktur tanah yang tidak rata dan udara yang dingin membuat perjuangan untuk mencapai bukit semakin melelahkan. Namun dibalik perjuangan tersebut, ada pemandangan indah yang menunggu di ujung bukit untuk menghilangkan penat pengunjung.

Bukit Sukinir terletak di Desa Sembungan. Di kaki bukit, pengunjung akan dimanjakan dengan makanan-makanan khas Dieng serta beragam souvenir yang semuanya dijual dengan harga terjangkau. Kawasan wisata bukit Sikunir terbuka secara umum dan tidak memungut biaya masuk, hanya biaya perkir kendaraan yang perlu dibayar oleh pengunjung.

2. Kawah Sikidang

Objek wisata di Dieng selanjutnya adalah Kawah Sikidang yang lokasinya tidak jauh dari Bukit Sikunir. Setelah melihat penampakan golden sunrise yang memukau, melihat kawah panas dengan aroma belerang yang menyengat bisa dijadikan destinasi wisata pengunjung berikutnya. Gunakan masker bagi pengunjung yang tidak tahan dengan aroma belerang yang menyengat.

Baca Juga:  Pesona Alam Pura Tanah Lot Bali yang Mengagumkan

Di Kawasan ini pengunjung akan dimanjakan dengan keindahan kawah dengan legenda Pangeran Kidang Garungan serta souvenir tradisional khas di daerah tersebut. Lokasi Kawah Sikidang berada di Desa Kulon, Kabupaten Banjarnegara. Kawah Sikidang akan lebih cepat dan mudah di akses melalui Wonosobo.

Untuk memasuki Kawasan wisata Kawah Sikidang, pengunjung diharuskan membayar biaya yang cukup murah yaitu Rp 10.000. Dengan biaya tersebut, pengunjung mendapatkan tiket untuk masuk dan mengeksplor keindahan dua objek wisata sekaligus. Kawasan wisata Kawah Sikidang dibuka setiap hari pada pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

3. Candi Arjuna

Kawah Sikidan dang Candi Arjuna berada dalam Kawasan yang sama. Pengunjung hanya membayar Rp 10.000 untuk menikmati kedua objek wisata ini sekaligus. Dalam sejarah Dieng, Candi Arjuna dibuat untuk menyebah Dewa Siwa pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini semakin mempesona karena letaknya di atas dataran tinggi.

Terdapat lima candi yang berjajar dalam Kawasan ini. Taman-taman sekitar candi yang dirawat kebersihannya memungkinkan pengunjung untuk duduk bersantai dan bercengkrama di atas rerumputan. Pengunjung disarankan untuk datang pada perayaan Dieng Culture Festival yang diadakan setiap tahun di daerah ini.

4. Telaga Warna

Objek wisata andalan di dataran tinggi Dieng selanjutnya adalah Telaga Warna yang berlokasi di Kejajar, Wonosobo. Di Kawasan ini pengunjung akan disuguhkan dengan pemandangan danau kecil dengan penampakan warna yang beragam. Warna-warna ini berasal dari belerang yang banyak dijumpai di Dieng.

Bagi pengunjung yang hobi berfoto, di Kawasan ini banyak disediakan spot-spot yang cocok untuk mengabadikan gambar. Selain spot foto, Kawasan Telaga Warna juga terdapat beberapa gua yang memiliki nilai sejarah yang kental bagi warga setempat yang bermukim dalam komplek Kawasan wisata Telaga Warna.

5. Gunung Prau

Prau adalah sebutan untuk perahu di daerah Jawa. Disebut prau karena gunung ini memiliki bentuk memanjang layaknya sebuah perahu. Di Kawasan ini pengunjung akan dimanjakan dengan bentang alam yang mempesona. Awan-awan putih di sekitar gunung dan pedesaan yang hijau di sekitar lereng gunung akan memanjangkan mata pengunjung.

Baca Juga:  Pengaruh Driver Online terhadap Wisata

Terletak pada ketinggian 2.565 mdpl membuat suhu di Gunung Prau terasa dingin. Meski suhu dingin yang menusuk, hal itu tidak akan mengurangi keindahan di Gunung Prau. Bila cuaca sedang dalam kondisi baik maka pengunjung akan disuguhkan dengan sunset dan sunrise yang bewarna jingga saat matahari tepat berada di ufuk.

Bagi pengunjung yang ingin datang ke Gunung Prau sebaiknya berkunjung pada musim kering atau kemarau. Karena medan pendakian yang dilalui sangat licin pada musim hujan. Pendakian bisa dilakukan melalui jalur yang tersedia di Desa Patak Banteng dengan lama perjalanan sekitar 2 sampai 3 jam.

6. Candi Gatot Kaca

Semua candi yang berada dalam Kawasan dataran tinggi Dieng telah menjadi bagian dari Cagar Budaya oleh Pemerintah Jawa Tengan, termasuk Candi Gatot Kaca. Candi ini didirikan pada pemerintahan Ratu Sima yang terinpirasi dari tokoh Mahabarata. Selain Candi Gatot Kaca terdapat pula candi-candi lain di area ini.

7. Telaga Merdada

Pemandangan yang disuguhkan oleh telaga terluas di Dieng ini sangat indah. Letaknya yang berada diantara bukit Pangonan dan Sumurp membuat telaga ini terlihat mempesona. Di sekitar telaga banyak dijumpai gundukan tanah yang digunakan untuk pertanian kentang oleh warga sekitar telaga. Meski begitu Kawasan ini masih terbilang sepi pengunjung.

Itulah sejarah Dieng dan rekomendasi destinasi wisata di dataran tinggi Dieng dari sekian banyak objek wisata lain yang bisa dikunjungi pada waktu libur. Objek wisata tersebut tidak hanya mengandung nilai keindahan, namun juga terdapat nilai-nilai sejarah di dalamnya. Sempatkan waktu untuk mengunjungi Kawasan tersebut saat berkunjung ke Dieng untuk menikmati wisata alam dan wisata budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *