Sejarah Suku Mentawai Dan Tradisi Unik Di Dalamnya

Sejarah Suku Mentawai Dan Tradisi Unik Di Dalamnya

Indonesia memiliki beragam suku dan budaya, salah satunya adalah Suku Mentawai di Sumatera barat. Ada banyak hal menarik yang bisa dibahas dari kehidupan suku asli Mentawai, mulai dari sejarah Suku Mentawai, tradisi, kepercayaan, mata pencaharian, rumah adat, interaksi masyarakatnya, dan lainnya. Dalam artikel ini kita akan mengulas seputar sejarah dan keunikan tradisi Suku Mentawai.

Sejarah Suku Mentawai

Suku asli Mentawai merupakan salah satu suku tertua di dunia yang tinggal di Kepulauan Mentawai tepatnya di lepas pantai barat Sumatera. Kepulauan Mentawai terdapat sekitar 70 pulau. Pulau utama adalah Pagai Utara, Pagai Selatan, Sipora, dan Siberut.

Nenek moyang orang Mentawai adat diyakini bermigrasi pertama kali ke wilayah tersebut antara 2.000 – 500 SM. Dari pendapat Reeves ini dengan kata lain Suku Mentawai merupakan salah satu suku tertua di Indonesia. Suku asli Mentawai merupakan suku pedalaman di kepulauan Mentawai yang masih menjaga tradisi nenek moyang dan tidak mau menyatu dengan kebudayaan modern.

Asal usul orang Mentawai dikategorikan sebagai rumpun Proto-Melayu dengan kebudayaan neolitik, berasal dari Homo Sapiens yang menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Homo Sapiens berasal dari zaman Alluvium, yaitu kira-kira 20.000 tahun yang lalu. Orang Mentawai masuk ke dalam suku bangsa sub-ras veddoid yaitu ras yang tidak bisa diklasifikasikan (ras khusus).

Selain Suku asli Mentawai ada suku tertua di dunia lainnya seperti: Suku Kubo, Toala, Omun dan Suku Gayo. Diperkirakan suku bangsa Melayu ini datang ke Indonesia tahun 1.500-2.500 SM.

Keberadaan asal usul orang Mentawai di zaman modern paling awal termuat dalam dokumentasi John Crisp. Di dalam dokumentasi tersebut dijelaskan bahwa pertengahan 1.700 orang –orang Inggris pernah memiliki rencana mendirikan pemukiman pertanian lada di Pulau Pagai bagian Selatan, namun gagal.

Baca Juga:  Kisah Mistis Para Pendaki Gunung Lawu

Pada tahun 1864, Belanda mengklaim Pulau Mentawai di bawah kedaulatan Hindia Timur. Hubungan antara pribumi dengan masyarakat Belanda berjalan saling menguntungkan. Belanda menerima harga yang adil dalam bidang perdagangan dan Suku Mentawai boleh dengan bebas mempraktikkan gaya hidup, budaya dan kepercayaan mereka. Kekuasaan ini bertahan hingga perang dunia kedua.

Sejarah Suku Mentawai setelah kemerdekaan Indonesia mengalami perubahan yang signifikan. Pada tahun 1950, lima tahun setelah Indonesia merdeka Mentawai menjadi bagian dari negara Indonesia. Awal tahun 1954 pemerintah Indonesia mulai memperkenalkan program peradapan yang sengaja dirancang dengan tujuan mengintegrasikan kelompok suku ke dalam arus utama sosial budaya dari negara.

Akibatnya banyak misionaris yang berdatangan ke kepulauan Mentawai dan menyebabkan terjadinya kekerasan dan tekanan terhadap orang-orang Mentawai. Hal ini terjadi juga pada sejarah suku di Indonesia lainnya. Karena orang-orang dari suku asli harus mengadopsi perubahan dan meninggalkan kepercayaan nenek moyangnya dan memilih lima agama yang diakui di Indonesia.

Saat ini jumlah masyarakat adat Suku asli Mentawai masih menjaga dan meneruskan kebiasaan ritual, budaya dan upacara Arat Sabulungan yang jumlahnya terbatas dengan populasi yang bisa dibilang sedikit dan tinggal di sekitar Sarereiket dan Sakuddei yaitu di daerah bagian selatan Pulau Siberut.

Kepercayaan

Kepercayaan yang dianut oleh Suku Mentawai bernama Sabulungan. Mereka percaya bahwa seluruh benda memiliki roh dan jiwa. Apabila tidak dirawat dengan baik maka roh akan gentayangan dan menyebabkan musibah, sial dan munculnya penyakit. Oleh karena itu, Suku asli Mentawai percaya terhadap benda-benda yang dianggap sakral. Berikut ini nama-nama roh yang mendiami benda beserta perannya.

  • Taikamanuaadalah roh yang hidup di langit dan udara.
  • Taikapolak adalah roh yang tinggal di bumi.
  • Taikabagaadalah roh yang hidup di tanah.
  • Taikaleleuadalah roh yang melindungi beberapa jenis binatang darat.
  • Taikbagakoatadalah roh yang melindungi beberapa jenis binatang laut.
Baca Juga:  Pengaruh Driver Online terhadap Wisata

Di masyarakat Suku Mentawai terdapat pemimpin kepercayaan dan pelaksana adat keagamaan yang disebut Sikerei atau dukun. Sikerei tidak terikat dengan kelompok uma asalnya, ia bisa dipanggil untuk mengobati di uma lain. Bayaran atau balas jasa dari pengobatannya akan dibagikan kepada anggota uma tempat asalnya.

Rumah Adat Dan Perkawinan

Rumah tradisional suku asli Mentawai mirip dengan rumah tradisional di Sumatera Barat yaitu rumah panggung yang terbuat dari bambu atau kayu. Ada 3 jenis rumah adat yang biasa digunakan, yaitu:

  • Rumah adat Uma ukurannya besar, biasanya ditempati 3 – 4 keluarga menurut garis keturunan ayah.
  • Rumah adat Lalep ukurannya lebih kecil, biasanya ditempati oleh 1 orang keluarga, yaitu rumah keluarga yang pernikahannya belum resmi.
  • Rumah adat Rusuk adalah penginapan khusus bagi janda dan anak muda yang diusir dari kampung.

Setiap laki-laki mengambil istri dari tetangganya yang menempati uma. Jika suami meninggal maka istri (jandanya) kembali ke uma tempat asalnya. Setiap uma dipimpin oleh rimata, yaitu tokoh senior. Biasanya yang dijadikan rimata adalah laki-laki dewasa yang berpengalaman dan bijak, namun ada juga yang memilih rimata berdasarkan garis keturunan.

Rimata adalah pemimpin uma itu sendiri. Hubungan antara uma yang satu dengan yang lain dijaga dengan diadakannya ikatan pernikahan. Tokoh yang dianggap pelopor tidak harus orang tua yang berpengalaman, bisa juga orang yang jago atau ahli di bidangnya.

Mata Pencaharian Dan Makanan Pokok Suku Mentawai

Kebudayaan Suku Mentawai tidak lepas dari mata pencahariannya yaitu bercocok tanam dan berburu. Makanan pokok Suku Mentawai adalah sagu yang diolah dengan cara dibakar dan dijadikan santapan sehari-hari. Selain sagu, mereka juga makan daging hewan, seperti ayam, babi hutan, dan kijang yang didapat dengan cara berburu. Sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti bahan bakar, pakaian, tembakau, beras, garam umumnya didatangkan oleh pedagang luar dari Padang. Barang-barang tersebut ditukar dengan hasil hutan, seperti kayu, cengkeh, rotan, manau, dan lainnya.

Baca Juga:  Makanan Khas Maluku Utara, Pilihan Tepat Untuk Wisata Kuliner

Keunikan Tradisi Suku Mentawai

Kebudayaan Suku Mentawai yang unik salah satunya adalah tradisi tato. Tato suku asli Mentawai dianggap sebagai tato tertua di dunia. Bagi Sikerei (dukun Suku Mentawai) tato adalah hal yang wajib. Sedangkan untuk warganya, tidak diwajibkan. Sedangkan Suku Mentawai yang tinggal di pedalaman yang belum terpengaruh oleh modernisasi masih menggunakan tato sebagai bentuk kesenian dan pakaian.

Bagi mereka tato bukan hanya hiasan tubuh saja, namun menjadi sebuah identitas. Makna tato Suku Mentawai menggambarkan harmonisasi atau keseimbangan penghuni hutan dengan alam. Uniknya lagi alat yang digunakannya adalah bahan alami yaitu arang.

Sebelum mentato sang Shaman (tetua suku) mendoakan arang yang akan digunakan untuk mentato. Jadi bisa dibilang tato menjadi salah satu ritual adat yang disakralkan dan hal yang dijunjung tinggi.

Keunikan tradisi dan sejarah Suku Mentawai lainnya adalah wanitanya sengaja meruncingkan gigi menggunakan alat tradisional sebagai usaha untuk mempercantik dirinya. Menurut mereka apabila seorang gadis yang sudah beranjak dewasa dan ingin cantik maka disarankan agar meruncingkan giginya yang dikenal dengan istilah Kerik Gigi. Tradisi kerik gigi diyakini sebagai pengantar jiwa menuju kedamaian dan menjadi simbol perjuangan menemukan jati diri bagi para gadis.

Sejarah suku di Indonesia, tradisi, filosofi dan kebudayaannya tidak pernah habis untuk dibahas, selalu ada hal menarik di dalamnya. Salah satunya adalah bagaimana cara nenek moyang menjaga kehidupan bermasyarakat berjalan harmonis dengan alam dan sesama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *