Sejarah Tari Sanghyang Dedari, Tarian Sakral Tolak Bala Mencegah Wabah Penyakit

Sejarah Tari Sanghyang Dedari, Tarian Sakral Tolak Bala Mencegah Wabah Penyakit

Ada banyak daftar tarian di Indonesia, salah satunya adalah tarian tradisional. Indonesia dengan beragam budayanya memiliki berbagai jenis tarian daerah yang memiliki ciri khas yang membedakannya dengan tari dari daerah lain, salah satunya adalah tarian Sanghyang Dedari. Sejarah tari Sanghyang Dedari sangatlah menarik untuk kita bahas, tidak hanya itu tarian yang dianggap sakral ini kental dengan unsur mistisnya.

Penasaran seperti apakah sejarah tari Sanghyang Dedari dan gerakannya ? Langsung saja, simak ulasannya berikut ini!

Jenis-Jenis Tari Sakral Sanghyang

Ada berbagai cara yang dilakukan manusia untuk menjalankan ritual keagamaan. Bagi masyarakat Bali beragama Hindu salah satu caranya adalah dengan menari. Menari bukan sekedar kegiatan seni saja namun juga merupakan bagian dari upacara atau ritual keagamaan.

Sanghyang Dedari merupakan salah satu tarian sakral yang digunakan sebagai sarana upacara keagamaan. Selain Sanghyang Dedari ternyata ada tarian Sanghyang lainnya. Dalam buku Kaja and Kelod karya I Made Bandem dan Trance in Bali karya Belo menyebutkan tari Sanghyang jumlahnya mencapai 24 jenis, di antaranya adalah:

  • Sanghyang Bojog,
  • Sanghyang Boengboeng,
  • Sanghyang Deling,
  • Sanghyang Jaran,
  • Sanghyang Sampat,
  • Sanghyang Tjeleng.

Tarian Sanghyang tersebut merupakan salah satu seni yang masuk ke dalam jenis kelompok tarian sakral di Indonesia untuk upacara ritual atau tari wali. Bisa dibilang tarian ini merupakan peninggalan seni kuno kebudayaan pra-Hindu di Bali.

Tarian-tarian sakral di Indonesia, umumnya salah satu fungsinya adalah untuk tolak bala atau menghindari dari sial atau malapetaka. Masyarakat Bali meyakini pada kisaran sasih kelima dan keenam dalam penanggalan kalender Bali, Ratu Gede Mecaling gentayangan dengan wujud-wujud yang menyeramkan. Ratu Gede Mecaling ini datang untuk menyebarkan wabah penyakit dan malapetaka.

Tidak hanya menyebarkan wabah pada penduduk, namun bisa juga menyerang binatang dan tanaman. Untuk mencegah dan menanggulanginya, masyarakat Bali mengadakan upacara ritual Nangiang Sanghyang sebagai bentuk permohonan (doa) mendapatkan perlindungan dari marabahaya, bencana dan kematian.

Baca Juga:  Budaya yang Dianggap Hampir Punah Karena Terlupakan

Tarian yang dibawakan oleh sepasang gadis kecil yang belum akil balig ini menjadi tarian yang wajib dibawakan saat acara ritual keagamaan. Tarian ini sakral karena para penari akan mengalami kerasukan atau istilah orang bali menyebutnya kerawuhan saat membawakannya.

Kembali pada Sanghyang Dedari, tariannya berbeda dengan jenis tarian lainnya di Bali. Contohnya pada Sanghyang bojog atau Sanghyang Janger Marborbor dibawakan dengan gaya eksperesif, seperti: mengamuk dan berapi api. Sedangkan tarian Shanghyang Dedari dibawakan dengan gerakan yang lembut seperti tarian lenggong yang juga merupakan tarian keagamaan. Berikut penjelasannya.

Sejarah Tari Sanghyang Dedari

Sanghyang artinya Hyang atau Suci, sedangkan Dedari artinya adalah bidadari atau malaikan. Sejarah tari Sanghyang Dedari,  awalnya berasal dari desa Bona, Blahbatuh Gianyar yang mengalami wabah penyakit menyerang warga. Wabah terjadi begitu cepat, menyebar dan sulit diobati.

Konon sejarah tari Sanghyang Dedari awalnya karena ada beberapa anak-anak gadis yang sedang bermain di sekitaran Pura Puseh. Saat itu baru selesai upacara agama atau piodalan. Mereka bermain sambil menyanyikan lagu Sanghyang. Lalu, seorang gadis menari mengikuti irama nyanyian, tanpa sadar gadis tersebut mengalami kerasukan.Melihat kejadian tersebut, para warga memutuskan untuk mensakralkan tarian Sanghyang Dedari dengan harapan dapat menghilangkan wabah yang menyerang desa.

Tari Sanghyang Dedari masuk ke dalam tarian sakral karena di dalamnya terdapat unsur improvisasi yaitu gerakan yang tanpa disadari oleh penarinya.

Selain itu tarian ini selalu dikaitkan dengan Bathara Gana Kumara dan Banten Caru. Di dalam lontar Tantu Pagelaran Bathara Gana Kumara dilukiskan sebagai Dewa Penghalang bencana dan kejahatan. Sedangkan Banten Caru adalah sesajen berupa hewan dan jenis-jenis sesajian lainnya. Tarian Sanghyang Dedari berhubungan erat dengan alam dewa dan roh suci atau dunia Hyang.

Baca Juga:  Misteri Gunung Di Jawa Yang Paling Populer Di Kalangan Petualangan

Pada tanggal 2 Desember 2015 tari Sanghyang Dedari masuk menjadi salah satu dari sembilan tarian Bali yang ditetapkan oleh UNESCO dalam sidang ke-10 komite warisan budaya tidak benda, yang diadakan di Namibia Afrika Selatan.

Gerakan Tarian Sanghyang Dedari

Tarian Sanghyang Dedari dibawakan oleh anak-anak perempuan yang masih suci atau belum akil balig, usianya antara 9-12 tahun. Biasanya empat sampai lima penari Sanghyang Dedari berasal dari keluarga pemimpin dalam agama Hindu atau pemangku adat.

Tarian ini diawali dengan dua orang gadis cilik (penari) dengan posisi duduk di tengah prosesi upacara, kemudian keduanya menyanyikan irama yang selaras dengan nyanyian Sanghyang Dedari. Kedua penari tersebut kemudian memejamkan mata dan hanyut dalam Sanghyang Dedari. Kemudian keduanya pingsan tidak sadarkan diri. Hal ini menandakan para penari sudah kemasukan roh Dedari. Kemudian beberapa orang membangunkannya dan memasangkan hiasan kepala.

Dalam keadaan tidak sadarkan diri kedua penari dipikul  atau diberdirikan di pundak menuju tempat menari sambil diiringi gending sanghyang dan gamelan palegongan. Dalam kondisi mata terpecam (tidak sadarkan diri) keduanya menari-nari sambil diatas pundak orang yang memikulnya. Gerakan tangan tari Sanghyang Dedari mirip seperti gerakan tangan tari legong. Ternyata tari Sanghyang menjadi inspirasi seniman tari setempat untuk menciptakan tarian baru, yaitu tari Legong.

Tarian dianggap selesai setelah gending atau kidung berhenti, para penari kemudian jatuh dan segera digotong/ dibawa ke pura untuk dibebaskan dari pengaruh roh yang merasukinya dengan cara dipercikan air suci oleh pemangku agama.

Untuk struktur tariannya sesuai dengan gending bahkan ada beberapa gerakan tari Sanghyang Dedari yang sesuai dengan teks yang terdapat di dalam gending. Biasanya gending palebongan menjadi alat musik tarian Sanghyang. Selain itu, tarian sanghyang Dedari diiringi oleh paduan suara pria dan wanita yang menyanyikan kecak atau lagu pujaan.

Baca Juga:  Mengenal Sasi Nggama, Tradisi Menjaga Kelestarian Alam Masyarakat Kaimana Papua Barat

Berbeda dengan Sanghyang Dedari yang dibawakan di desa Pasangka Karangasem Bali, para penari tidak dipikul di bahu orang dewasa, melainkan naik ke atas batang bambu yang sebelumnya sudah disiapkan. Dalam keadaan mata tertutup tidak sadarkan diri, penari akan memanjat bambu lalu menari tanpa takut terjatuh.

Seperti yang disebutkan pada awal artikel, tarian ini sarat akan mistisnya. Selain penari mengalami kesurupan, gerakan para penari bisa/ selalu sama padahal selama pertunjukan kondisi mata mereka terutup.

Kostum yang digunakan oleh penari Sanghyang Dedari dapat dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu:

  • Hiasan kepala berupa gelungan pepudakan mulai dari bacangan sampai hiasan bunga.
  • Hiasan yang digunakan di badan berupa kain, baju  dan sabuk warna putih, simping, lamak ampok-ampok lamak, gelang tangan dan kaki yang terbuat dari perak dan tembaga.
  • Perlengkapan lainnya, seperti

Dalam catatan perjalanan Sejarah tari Sanghyang Dedar digelar pada saat bulan kelima atau keenam penanggalan Bali. Bulan tersebut dianggap bulan yang berbahaya atau banyak musibah, wabah penyakit dan kesialan. Kini tari Sanghyang Dedari tidak hanya dipertunjukkan sebagai sarana upacara atau ritual penolak bala, namun dijadikan sebagai sarana hiburan yang digelar untuk para wisatawan yang berkunjung ke Bali, khususnya daerah di Bali dimana tarian tersebut berasal.

Masih banyak daftar tarian di Indonesia yang masuk ke dalam jenis tarian sakral yang menarik untuk dibahas. Jika Anda memiliki cerita menarik atau ingin berbagi info yang berhubungan dengan seni budaya khususnya tarian, bisa tulis di kolom komentar yang kami sediakan. Salam budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *