Tahu Sejarah Bahasa Bali Dan Jenis-Jenisnya Di Sini Saja

Tahu Sejarah Bahasa Bali Dan Jenis-Jenisnya Di Sini Saja

Indonesia memiliki keberagama suku dan budaya. Hal ini membuat bahasa yang digunakan tiap daerah juga menjadi beragam. Bahasa ibu setiap suku berbeda dengan suku yang lainnya. Keanekaragaman bahasa menjadi kekayaan yang harus dijaga. Nah, dalam artikel ini kita akan membahas bahasa Bali, mulai dari pengertian sejarah bahasa Bali hingga percakapan sehari-hari. Langsung saja simak ulasannya berikut ini!

Pengertian Sejarah Bahasa Bali

Sejarah bahasa Bali sangatlah panjang, sepanjang peradaban masyarakatnya. Bahasa bali adalah bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat asli/etnis Bali. Bahasa ini merupakan bahasa ibu yang oleh sebagian masyarakat Bali masih digunakan untuk berbagai aktivitas kehidupan sosial sampai sekarang. Bahkan tidak sedikit sesama orang Bali yang tinggal di luar Bali menggunakan bahasa daerahnya.

Bahasa daerah tidak sekedar alat komunikasi saja, namun salah satu menjadi pendukung kebudayaan. Dalam konteks artikel ini adalah kebudayaan Bali yang sampai saat ini masih tetap digunakan dan mengalami perubahan seiring perkembangan zaman.

Bahasa Bali memiliki berbagai jenis bahasa atau variasi yang bisa dibilang cukup rumit karena terdapat sor singgih yaitu aturan-aturan yang mengikat yang ditentukan oleh orang yang berbicara, siapa lawan bicaranya topik pembicaraan. Inilah yang menjadi keunikan bahasa daerah di Indonesia.

Jenis-Jenis Bahasa Bali

Secara umum bahasa Bali dapat dibedakan menjadi variasi temporal, regional dan sosial.

Berdasarkan Variasi temporal memberikan adanya indikasi terhadap sejarah bahasa Bali beserta perubahan dan perkembangannya.  Dari segi temporal, bahasa Bali dibedakan menjadi bahasa Bali kuno atau disebut juga dengan bahasa Bali Mula atau Bali Ago.

Berdasarkan aspek regional bahasa Bali dapat dibedakan menjadi dua dialek, masing-masing dialek memiliki ciri atau karakteristik sendiri:

  • Dialek Bali Aga atau dialek pegunungan.
  • Dialek Bali Dataran atau dialek umum.

Berdasarkan dimensi sosial dalam ragam bahasa Bali dikenal istilah sistemsor – singgih atau tingkatan berbahasa. Sistemsor singgih berkaitan dengan sistem warna atau wangsa, yaitu pembagian golongan. Sistem wangsa Bali dibedakan menjadi:

  • Triwangsa, yaitu golongan dari kasta: Brahmana, Ksatria dan Wesia.
  • Jaba atau Sudra yaitu golongan dari kasta orang kebanyakan atau umum.
Baca Juga:  Sejarah Lawang Sewu Dan Misterinya

Berdasarkan adanya pembagian status/ strata sosial tersebut terdapat perbedaan sejarah bahasa Bali, penyajian bahasa, tingkat tutur kata di lapisan masyarakat Bali.

Perbedaan Bahasa Bali Kuno, Tengahan Dan Baru

Berikut ini kita akan membahas mengenai bahasa Bali kuno, tengahan dan baru.

Bahasa Bali Kuno

Bukti adanya bahasa Bahasa Bali kuno terdapat di dalam prasasti 804 Saka atau 882 Masehi. Pada masa itu  Bali diperintah oleh Raja Anak Wungsu, 904 Saka atau 1072 Masehi.

Pengaruh agama Hindu atau kebudayaan Jawa sangat kuat pada zaman pemerintahan Anak wungsu. Hal ini terbukti dari penggunaan bahasa Bali kuno di prasasti, yang kemudian disalin ke dalam bahasa Jawa Kuno. Sehingga kita dapat mengetahui bahasa Jawa Kuno digunakan sebagai bahasa sehari-hari di Bali pada zamannya.

Karena penggunaan Jawa Kuno menyebabkan bahasa Bali kuno tidak banyak digunakan, terutama untuk bahasa tulis. Namun dalam budaya tutur atau bahasa lisan, bahasa Bali Kuno masih tetap digunakan. Bahasa Bali kuno adalah cikal bakal bahasa Bali Modern, artinya bahasa Bali mengalami perkembangan.

Diperkirakan bahasa Bali kuno mengali perkembangan menjadi bahasa yang digunakan sebagian besar masyarakat Bali, terutama yang tinggal di daerah dataran. Disisi lain terjadi perkembangan yang agak terutup menjadi ragam dialek tersendiri atau disebut dialek Bali Aga. Dialek ini masih hidup sampai sekarang dan digunakan oleh sekelompok masyarakat Bali Aga yang menganggap kelompoknya adalah suku Bali asli. Masyarakat Bali Aga tersebar di beberapa daerah pegunungan.

Dialek Aga dibagi menjadi 3 dialek, yang Pertama: dialek Bali Aga digunakan oleh masyarakat Bali di bagian timur seperti: Tenganan, Kedisan, Bugbug, Sukawana, Sembiran dll. Kedua: dialek Aga Tengah, meliputi di daerah Seminyak dan yang Ketiga: dialek Aga Barat, meliputi di daerah Bantiran dan Sepang.

Baca Juga:  15 Jumlah Pura Di Bali Yang Wajib Diketahui

Ciri-ciri bahasa Bali kuno, yakni:

  • Tulisan bahasa Bali kuno merupakan perkembangan dari tulisan Pallawa.
  • Mendapatkan pengaruh dari bahasa Sansekerta.
  • Tidak terapat tingkatan bahasa atau unda usuk.
  • Ditulis di prasasti (tembaga dan tanah liat).
  • Penggunaannya lebih menonjol dalam peraturan.

Bahasa Bali Tengahan Atau Kawi Bali

Bahasa Bali tengahan atau Kawi Bali hidup dalam waktu kurun antara bahasa Bali Kuno dan Bahasa Bali Baru. Disebut Kawi Bali karena peninggalannya sebagian besar berupa tulisan karya para Pujangga Bali atau Pengawi.

Bahasa Tengahan merupakan campuran dari bahasa Sansekerta (bahasa Jawa Kuno), bahasa Jawa Tengahan dan Bali Kepara. Bahasa ini juga umumnya digunakan menulis prasasti, filsafat, sejarah, keagamaan, usada, sastra dan bidang seni lainnya, seperti: wayang, seni topeng, primbon. Digunakan juga dalam bentuk lisan oleh pemangku seperti di upacara dalam bentuk sesontengan.

Ciri-ciri bahasa Bali Tengahan, di antaranya:

  • Digunakan untuk peraturan-peraturan.
  • Adanya tingkatan bahasa, namun tidak seketat bahasali Kapara.
  • Digunakan oleh para penyair, pengarang atau untuk kebutuhan karya sastra.
  • Perpaduan bahasa Bali Kuno, Jawa Kuno (sansekerta) dan bahasa Bali Baru.
  • Digunakan dalam sesontengan balihan atau pemangku.

Bahasa Bali Kepara Atau Disebut Bali Baru Atau Bali Modern

Jenis bahasa Bali yang terakhir adalah Bahasa Bali Baru yang digunakan oleh masyarakat Bali dan orang Bali yang berada di luar Bali. Bahasa ini digunakan di berbagai aspek kehidupan, baik formal, nonformal, lisan maupun tulisan. Belajar bahasa Bali gaul atau modern tidak lagi memperhitungkan strata sosial, tidak serumit belajar bahasa Bali kuno atau tengahan.

Bahasa Bali baru termasuk bahasa serapan karena terkena pengaruh atau menyerap berbagai bahasa lain, baik secara bentuk maupun maknanya.

Baca Juga:  Budaya yang Dianggap Hampir Punah Karena Terlupakan

Ciri-ciri Bahasa Bali baru adalah:

  • Bahasa yang digunakan dalam segala aspek kehidupan.
  • Kosakatanya lebih lumrah atau umum.
  • Banyak terpengaruh oleh bahasa sansekerta, bahasa Arab, melayu atau B.Indonesia.
  • Penggunaannya lebih menonjol pada kertas dan rontal.
  • Huruf yang digunakan pada periode bahasa Bali Baru tidak terbatas pada huruf Bali saja namun juga huruf latin.
  • Mengenal adanya tingkatan-tingkatan bahasa.

Belajar bahasa Bali gaul atau bahasa sehari-hari yang paling mudah adalah dengan menghafal percakapan sehari-hari. Komunikasi dengan orang asli Bali tergantung dengan siapa kita bicara. Jika dengan orang yang lebih tua, yang dihormat atau bicara dengan orang yang baru dikenal sebaiknya bicara menggunakan bahasa Bali halus.

Berbeda jika bicara dengan teman dekat atau seumur, diperbolehkan pakai bahasa Bali gaul atau modern. Beberapa  kosakata atau contoh percakapan bahasa Bali yang harus dihafalkan, seperti:

  • Kenken kabare = apa kabar.
  • Tiang gelem = saya sakit.
  • Becik becik kemantan = baik-baik.
  • Matur suksma = terima kasih.
  • Mulih = pulang.
  • Nunas lugra = permisi.
  • Abedi = sedikit.
  • Saking napi = dari mana (untuk bertanya asal).
  • Napi wastan gumine niki? = apa nama daerah ini?
  • Sira pesengan ragane? = siapa nama Anda?

Masih banyak kosakata, contoh percakapan bahasa Bali lainnya yang sering digunakan sehari-hari. Salah satu hal yang harus diperhatikan jika ingin belajar bahasa Bali adalah cara membacanya. Jika terdapat huruf “a” di akhir kata, akan dibaca menjadi “e”, seperti “ke mana”.

Bagi Anda yang senang berlibur ke Bali atau tertarik untuk belajar bahasa Bali, hafalkan dan praktikkan seperti belajar bahasa Inggris. Dengan demikian diharapkan dapat lebih nyaman, mudah dan cepat. Selain itu, penting untuk mengetahui sejarah bahasa Bali agar lebih paham dan mengerti karena seperti yang sudah dijelaskan di dalam artikel ini, terdapat tiga jenis bahasa Bali yang memiliki perbedaan dan ciri khasnya masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *