Home » Blog » Abbad ibn Bisyr ibn Waqasy; Pemilik Tongkat Bercahaya

Abbad ibn Bisyr ibn Waqasy; Pemilik Tongkat Bercahaya

Biograpi Abbad ibn Bisyr ibn Waqasy;

Abbad ibn Bisyr ibn Waqasy adalah sahabat Nabi dari kalangan Anshar, yang berasal dari suku Aus keturunan Bani Asyahli. la punya dua nama panggilan, yairu Abu Bisyr dan Abu al-Rabi. Ibn al-Atsir menuturkan dalam kitabnya bahwa ia masuk Islam di Madinah melalui Mush’ab ibn Umair lebih dulu daripada Sa‘d ibn Muaz dan Usaid ibn Hudhain Abbad turut serta dalam Perang Badar, Perang Uhud, dan peperangan lainnya bersama Rasulullah saw.

Abbad termasuk sahabat utama Rasulullah. Aisyah pernah berkata tentang dia, “Ada tiga orang Anshar yang keutama mereka sebanding. Mereka semua dari Bani Abdul Asyhal, yaitu Sa‘d ibn Muaz, Usaid ibn Hudhair, dan Abbad ibn Bisyr.” Itulah kesaksian Ummul Mukminin, wanita mulia yang selalu menjadi rujukan para ulama.

Tindakan heroik Abbad dalam Perang Dzaturriqa sungguh tak terlupakan. Diriwayatkan dari sahabatnya sendiri, Ibn Yasar dari Uqail ibn Jabir bahwa Jabir ibn Abdullah al-Anshari berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah dari tempat perlindungan kami di kebun kurma dalam Perang Dzaturriqa. Dalam perang itu, seorang wanita musyrik terkena lemparan anak panah seorang muslim. Usai peperangan, dan setelah Rasulullah pulang ke markas, suami wanita musyrik itu datang dan melihat apa yang terjadi pada istrinya. la marah dan bersumpah akan membalas dendam hingga salah seorang sahabat Nabi saw. bersimbah darah. Diam-diam, ia mencari tahu di mana Nabi saw. menginap malam itu.

Saat Nabi saw. hendak masuk rumah, beliau bersabda, “Siapakah yang mau berjaga malam ini?”

Amar ibn Yasar dan Abbad ibn Bisyr bangkit dan berkata, “Kami (siap berjaga), wahai Rasulullah.”

“Berjagalah dekat gerbang Syi’ib.” Saat itu beliau dan para sahabat menginap di Syi’ib, di sebuah lembah.

Kedua orang itu pun pergi menuju gerbang Syi’ib. Abbad bertanya, “Kau ingin aku berjaga di awal atau di akhir malam?”

Amar menjawab, “Kau berjaga di awal malam, dan aku di akhir malam.” Kemudian Amar berbaring dan tertidur pulas. Abbad mendirikan shalat sunnah sambil berjaga. Ketika itulah suami wanita musyrik itu datang. Ketika melihat Abbad yang sedang shalat, lelaki itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. la langsung melepaskan panah ke arah Abad dan tepat mengenai tubuhnya. Terkena panah tidak membuat Abbad membatalkan shalatnya. la hanya mencabut panah dan melanjutkan shalatnya. Lelaki itu kembali melemparkan panah. Dan Abbad tetap berdiri dalam shalatnya. Untuk ketiga kalinya lelaki itu meluncurkan panah, dan Abbad mencabut panah yang tertancap di tubuhnya, lalu ia rukuk, lantas sujud. Baru setelah selesai shalat Abbad membangunkan Ammar dan berkata, “Bangunlah, ada orang yang datang.”

Ammar terkejut ketika melihat suami wanita musyrik itu berada di dekat mereka. Ketika melihat mereka berdua, lelaki itu tahu, mereka menjadi benteng hidup bagi Muhammad dan menjadikan diri mereka sebagai penebus sumpahnya. Amar kaget melihat sahabatnya Abbad berlumuran darah, “Subhanallah! Kenapa kau tidak membangunkanku saat pertama kali kau terkena panah?”

Abbad menjawab, “Aku sedang membaca salah satu surat dan aku tak mau memutuskan bacaanku sampai selesai. Saat beberapa anak panah menancap di tubuhku, aku pun menyelesaikan shalat membangunkanmu. Demi Allah, jika tidak karena tugas berjaga yang diperintahkan Rasulullah, niscaya jiwaku sudah lepas dari raga sebelum aku memutuskan menyelesaikan bacaanku.”

Abbad tak pernah absen mengikuti peperangan bersama Rasulullah saw. sampai beliau wafat. la pernah mendengar beliau bersabda di depan kaum Anshar, “Wahai Anshar, kalian (bagaikan) pakaian dalam dan manusia bagaikan pakaian luar. Maka, jangan mengikuti orang-orang sebelum kalian.”

Pada saat itu, kaum Anshar ingin agar tidak ada lagi orang yang lari dari medan perang seperti yang terjadi saat Perang Uhud dan Perang Hunain. Ucapan Rasulullah saw. itu menegaskan bahwa mereka adalah para penolong agama Allah dan Rasul-Nya. Janji setia yang pernah mereka ucapkan di Aqabah benar-benar mereka tunaikan. Sedikit pun tak terlintas dalam benak mereka keinginan meninggalkan Rasulullah sampai beliau wafat menghadap Allah. Mereka teguh memegang janji yang pernah diucapkan meskipun beliau telah tiada.

Satu bagian yang menarik dari perjalanan hidup Abbad adalah kebersamaannya dengan Muhammad ibn Salamah, Abu Abbas ibn Jabar, Abu Nailah, dan al-Harits ibn Aus ketika mereka berebut membunuh Ka‘b ibn al-Asyraf, seorang Yahudi yang sangar membenci dan memusuhi Nabi saw. serta kaum muslim.

Abbad membagi kehidupannya menjadi dua bagian, waktu malam ia gunakan untuk ibadah dan membaca Al-Quran, sedangkan siang harinya ia manfaatkan untuk berjihad melawan kaum kafir. Kebiasaannya membaca kalam Allah setiap malam sangat menarik hati setiap orang yang mendengarnya. Pada suatu malam, saat ia menunaikan tahajud di Masjid Nabi, suara bacaannya yang lembut terdengar hingga kamar Ummul Mukminin Aisyah r.a. Saat itu Rasulullah saw. berada di sana.

Beliau bersabda kepada istrinya, “Ini suara Abbad ibn Bisyar.”

Aisyah menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.”

“Ya Allah, ampunilah dia!” (menurut Ibn al-Atsir, “Ya Allah, kasihilah Abbad”). Adakah sesuatu yang lebih diharapkan dari pada ampunan dan rahmat Allah?

Dalam kitab Musnad Imam Ahmad, ada sebuah hadis yang diriwayatkan dari Bahz ibn Asad dari Hamad ibn Salamah dari Tsabit dari Anas bahwa Usaid ibn Hudhair dan Abbad ibn Bisyr menemani Rasulullah saw. pada suatu malam. Kemudian mereka keluar meninggalkan beliau. Tiba-tiba tongkat salah seorang dari mereka memancarkan cahaya terang sehingga mereka dapat berjalan diterangi cahaya itu. Saat keduanya berpisah, tongkat mereka masing-masing mengeluarkan cahaya.

Nabi Muhammad menugaskan Abbad sejumlah tugas. Abbad termasuk di antara detasemen yang membunuh Ka’ab ibn al-Asyraf, dan Nabi mengutusnya untuk mengumpulkan sedekah dari Bani Muzainah, Bani Sulaim, dan Bani Mushthaliq, salah satu bagian dari kabilah Khuza’ah. Nabi Muhammad menjadikannya sebagai pembagi ghanimah (harta rampasan perang) Pertempuran Hunain. Nabi juga menjadikannya sebagai komandan pengawalnya dalam Pertempuran Tabuk.

Suatu malam menjelang Perang Yamamah Abbad bermimpi sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri bahwa Abbad ibn Bisyr berkata, “Hai Abu Said, aku bermimpi langit terbuka untukku, kemudian tertutup lagi. Aku menafsirkannya, insya Allah, sebagai kesyahidan.”

Abu Said berkata, “Demi Allah, sungguh baik mimpimu Itu”.

Keesokan harinya Abbad bersama beberapa sahabat bergabung dalam pasukan Khalid ibn al-Walid untuk memerangi Musailamah al-Kazzab. Mimpi dan harapan Abbad menjadi kenyataan. la terbunuh sebagai syahid dalam peperangan itu.  Sungguh mimpi orang bertakwa adalah kebenaran. Semoga Allah merahmatinya.

Setelah Nabi wafat, Abbad berpartisipasi dalam Perang Riddah, dan dia terbunuh dalam Pertempuran Yamamah pada tahun 12 H, serta dia berusia 45 tahun. Abbad ibn Bisyr memiliki riwayat dari satu hadits Nabi yang diriwayatkan atas Abdurrahman ibn Tsabit ibn ash-Shamit al-Anshari, dan Abu Dawud meriwayatkannya tentang keutamaan kaum Anshar.

You also like

Ka‘b ibn Zuhair ibn Abu Sulma Penyair Agung   

Ka‘b ibn Zuhair ibn Abu Sulma Penyair Agung   

Ka‘b ibn Zuhair ibn Abu Sulma adalah seorang sahabat Nabi keturunan Bani Zainah. la dikenal sebagai penyair ulung.…
Al-Hasan dan al-Husain Pemimpin Pemuda Surga   

Al-Hasan dan al-Husain Pemimpin Pemuda Surga   

Al-Hasan dan al-Husain adalah sahabat sekaligus cucu Rasulullah  saw. Keduanya adalah belahan hati Rasulullah saw. dan pemimpin para…
Hasil Peradaban Mongol Masa Islam

Perang Salib dalam Lintasan Sejarah

Perang Salib adalah perang agama yang terjadi selama hampir tiga abad sebagai reaksi umat Kristen di Eropa terhadap…
Abu Ayyub al-Anshari

Abu Ayyub al-Anshari – Tempat Persinggahan Nabi

Abu Ayyub al-Anshari adalah seorang sahabat Nabi dari kalangan Anshar, yang berasal dari suku Khazraj. Nama aslinya adalah…
Fairuz al-Dailami- Pembunuh al-Aswad al-Unsa al-Kazzab  

Fairuz al-Dailami- Pembunuh al-Aswad al-Unsa al-Kazzab  

Abu Umar ibn Abdul Bar menuturkan dalam kitab al-lsti'ab bahwa Fairuz al-Dailami adalah seorang sahabat Nabi yang  berasal dari…
Ashim ibn Tsabit  Jasadnya Dilindungi Lebah  

Ashim ibn Tsabit – Jasadnya Dilindungi Lebah  

Ashim ibn Tsabit sahabat Nabi dari kalangan Anshar yang berasal dari suku Aus keturunan Bani Dhubay. la mendapat…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Shopping Cart

No products in the cart.

Return to shop

Nama Toko

Selamat datang di Toko Kami. Kami siap membantu semua kebutuhan Anda

Selamat datang, ada yang bisa Saya bantu