Home » Blog » Aisyah binti Abu Bakar r.a.; Ummul Mukminin yang Kaya Ilmu

Aisyah binti Abu Bakar r.a.; Ummul Mukminin yang Kaya Ilmu

Aisyah binti Abu Bakar r.a

Aisyah r.a. adalah salah satu istri Rasulullah saw. yang mendapat kehormatan dan anugerah untuk bisa selalu mendampingi Rasulullah saw. sejak usia belia hingga dewasa. Ia menjadi istri sekaligus sahabat bagi Nabi. Ia menghabiskan masa pendewasaannya di bawah naungan dan perlindungan Rasulullah saw., yang  diutus oleh Allah Swt. untuk menyempurnakan akhlak manusia. Rasulullah saw. adalah uswatun hasanah baginya dan juga bagi semua umat Islam. Akhlak beliau menjadi contoh yang utama. Pembinaan mulia dan persahabatan dengan Nabi inilah yang mengantarkan Aisyah dapat meniru akhlaknya yang mulia.

Akhlak Mulia Aisyah r.a.

Itulah yang membuat Aisyah memiliki kedudukan yang tinggi di bidang akhlak. Zuhud, wara’, gemar beribadah, sederhana, ramah, dan penuh kasih sayang kepada sesama manusia  menjadi kepribadian Aisyah.

Ummul Mukminin ini kuat dan tegar dalam menghadapi segala bentuk kepahitan, kesengsaraan, dan kerasnya kehidupan. Tidak pernah terdengar dari mulutnya terlontar keluhan sedikit pun. Walaupun ia tahu bahwa kas negara Islam Madinah sedang penuh berisi harta kekayaan, ia tidak terpikir untuk meminta tambahan nafkah. Ia tetap memilih hidup zuhud dan  qanaah. Ia juga tidak memakai baju yang gemerlap dan perhiasan yang mewah.

Atas takdir Allah Swt., Aisyah tidak pernah hamil dan melahirkan. Meski demikian, ia tidak pernah bersedih dan menyesal atas hal itu. Ia tidak pernah mengeluhkan hal tersebut selama hidupnya. Lantaran tidak memiliki anak sendiri, ia akhirnya memilih mengurus dan merawat anak-anak kaum muslim dan anak yatim. Dialah yang merawat dan menyayangi mereka sampai mereka menikah dengan biayanya pula.

Aisyah termasuk orang yang sangat zuhud dan qanaah. Betapa tidak, sering kali ia hanya memiliki sepotong pakaia. Jika baju itu kotor, ia mencucinya dan mengenakannya kembali. Sebetulnya ia pernah memiliki pakaian yang mahal harganya, yaitu sekitar lima dirham.

Namun, para perempuan lain justru sering meminjamnya untuk dipakaikan kepada para pengantin mereka saat pesta pernikahan. Meskipun berpakaian apa adanya, Aisyah tetap berusaha menghias diri secukupnya untuk menyenangkan hati suaminya. Ia terkadang mengenakan baju yang diberi pewarna dari zafaran. Ia juga memakai perhiasan. Di lehernya pernah melingkar seuntai kalung yang terbuat dari batu mulia.

Selain itu, Aisyah juga dikenal sebagai istri Rasul yang gemar bersedekah, tidak pernah menahan makanan atau harta yang ada padanya untuk dirinya sendiri. Suatu ketika, Aisyah pernah didatangi oleh seorang perempuan yang membawa kedua anaknya untuk meminta makanan. Perempuan itu meminta makanan, tetapi di tangan Aisyah hanya ada sebutir kurma. Aisyah pun akhirnya memberi kurma itu kepadanya,  lalu ia membagikannya untuk kedua anaknya.

Mu’awiyah pernah mengirimkan uang sejumlah 200.000 dirham untuk Aisyah, tetapi Aisyah malah membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan hingga tak sepeser pun tersisa untuk dirinya sendiri. Bahkan, Aisyah justru lebih mengutamakan para peminta-minta daripada dirinya sendiri,  meski ia sedang berpuasa.

Ada kisah inspiratif tentang dirinya. Suatu hari, saat Aisyah sedang berpuasa, ada seorang pengemis mendatanginya dan meminta makanan kepadanya. Saat itu di rumahnya hanya ada sepotong roti. Ia pun berkata kepada budaknya; “Berikan roti itu kepadanya”

Budak itu menjawab; “Engkau tidak memiliki apa­apa lagi untuk berbuka”.

Aisyah kembali berkata; “Berikan kepadanya!”.

Dari kisah itu, sangat jelas betapa Aisyah lebih meperdulikan orang lain daripada dirinya sendiri. Itulah yang seharusnya perlu ditiru oleh para muslimah di muka bumi ini.

Perempuan yang Pemberani

Selain dikenal memiliki akhlak yang mulia, Aisyah juga memiliki sifat pemberani. Ia mempunyai keteguhan hati dan jiwa yang tidak mudah guncang karena suatu musibah atau masalah. Di antara bukti keberanian Aisyah adalah ia pernah memohon izin kepada Nabi untuk ikut berjihad. Kemudian, Rasulullah saw. berkata kepadanya; “Jihad kalian, kaum perempuan, adalah menunaikan ibadah haji.”

Aisyah beberapa kali bahkan pernah ikut pergi ke medan perang sebelum perintah berhijab turun. Ia pernah ikut dalam Perang Badar dan Perang Khandaq. Kala itu, ia turut berjasa membantu para mujahidin dalam Perang Uhud. Dalam perang tersebut, Aisyah merawat dan memberi minum para mujahidin yang terluka.  Dialah yang hilir mudik menenteng wadah air untuk memberi minum kepada para tentara Muslim yang sedang kehausan.

Rajin Menggali Ilmu

Sejak kecil, Aisyah adalah anak yang gemar belajar. Aisyah selalu mendengarkan pelajaran yang disampaikan Rasulullah saw. di majelis ilmu dan pengajian-pengajian yang selalu diadakan di Masjid Nabawi setiap hari. Bila ia mendapatkan materi yang susah untuk dimengerti atau tak dapat mendengarkan pelajaran dengan baik, ia selalu meminta penjelasan kepada Nabi setibanya beliau di rumah. Sesekali Aisyah harus mendekat ke masjid supaya ia dapat mendengarkan lebih jelas. Lantaran kesungguhannya itu, akhirnya Aisyah pun dapat menghafal banyak hadis tentang berbagai masalah dan ilmu pengetahuan dari Nabi.

Salah satu sifat istimewa Aisyah adalah mempunyai rasa ingin tahu yang besar serta banyak bertanya. Pikirannya belum  tenang jika ada pertanyaan yang belum ditemukan jawaban-nya. Lantaran Aisyah sering bertanya bila ada hadis Rasulullah saw. yang tidak jelas, kaum muslim kini pun banyak mendapatkan keterangan dan penjelasan yang lebih mendetail atas berbagai hal yang pada awalnya belum jelas.

Dalam perihal bertanya, Aisyah dikenal sangat kritis sehingga hal-hal yang masih gelap pun akhirnya menjadi terang. Aisyah akan terus bertanya kepada Nabi hingga tersingkap hakikat dan inti maknanya. Aisyah tidak segan bertanya meskipun Nabi dalam keadaan yang tampaknya sedang tidak suka ditanya. Namun, karena rasa sayang Rasulullah saw. kepada Aisyah, beliau pun tidak pernah merasa jengkel dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Aisyah. Bahkan, beliau sangat senang bila Aisyah sering bertanya.

Salah satu sifat istimewa Aisyah adalah mempunyai rasa ingin tahu yang besar serta banyak bertanya. Pikirannya belum tenang jika ada pertanyaan yang belum menemukan jawabannya.

Setelah memahami penjelasan – penjelasan Rasulullah saw., Aisyah lalu menghafalkan dan menerapkannya dengan sungguh-sungguh. Ia memegang erat-erat semua ajaran Rasul saw. Suatu saat Nabi pernah bersumpah untuk tidak mendatangi istri-istrinya selama satu bulan. Beliau mengasingkan diri di suatu tempat. Tentu saja para istri beliau merasa rindu kepadanya. Setelah 29 hari berlalu, beliau mendatangi Aisyah dan memulai giliran darinya.

Mestinya Aisyah merasa sangat senang bertemu dengan Rasulullah saw. Namun, Aisyah malah diam seribu bahasa sehingga hampir saja membuat Nabi marah. Ternyata, Aisyah justru mengkhawatirkan Nabi telah melanggar sumpahnya.

Apa yang akhirnya dikatakan Aisyah kali pertama? Ia berkata; “Anda telah bersumpah untuk tidak mendatangi kami selama sebulan, padahal dalam hitunganku ini baru 29 hari’’.

Rasulullah saw. lantas tersenyum dan berkata; “Bulan ini berjumlah 29 hari, duhai Aisyah”. Ternyata Aisyah salah menyangka bahwa jumlah hari pada bulan tersebut hanya 29, bukan 30.

Sikap-sikap Aisyah tersebut sekilas akan tampak kurang sopan, apalagi jika tidak dilihat inti masalahnya. Namun, kalau tak  ada keberanian seperti itu, niscaya umat Islam tidak mengetahui hakikat kenabian. Umat Islam akan tidak mengetahui sebab-sebab tindakan Nabi saw. yang belum terjelaskan.

Rasulullah saw. sendiri banyak mengajari Aisyah tentang hukum-hukum Islam dan aspek-aspek syariat, meliputi shalat,  zikir,  doa,  serta muamalah. Aisyah mempelajari semua itu dengan lahap dan penuh semangat. Ia menyimak seluruh pelajaran itu dengan telinga terbuka lebar dan hati yang lapang, serta langsung mempraktikkannya dengan rajin dan istiqamah.

“Aku tidak pernah melihat orang yang lebih tahu halal dan haram, Al-Quran, ilmu faraidh, fikih, syair, ilmu pengetahuan, pengobatan, dan sejarah Arab daripada Aisyah r.a.”. Urwah ibn Zubair ibn Al­Awwam

Keilmuan Aisyah r.a.

Kedudukan ilmu Aisyah tidak saja lebih tinggi dari para perempuan lainnya, tetapi juga tidak tertandingi oleh siapa pun dari kalangan lelaki sezamannya, dalam kemampuan untuk cepat memahami dan menyimpulkan. Kecerdasannya hampir tak ada  yang menandingi di kalangan sahabat.

Abu Musa Al-Asy’ari pernah berkata; “Tak ada satu hadis yang sulit bagi kami, para sahabat Muhammad, kecuali kami tanyakan kepada Aisyah. Pada dirinya kami temukan pengetahuannya tentang hadis tersebut’’.

Imam Muhammad ibn Syihab Az Zuhri yang tumbuh di tengah didikan para sahabat berkata; “Aisyah adalah orang yang paling cerdas. Para tokoh dari kalangan sahabat Rasulullah saw. banyak yang bertanya kepadanya”.

Atha’ ibn Abi  Ra-bah yang juga berkesempatan menjadi murid banyak sahabat Rasulullah saw. berkata; “Aisyah adalah orang yang paling ahli di bidang fikih, paling tahu, serta paling baik pendapatnya di antara semua orang”.

Seorang tabiin, Abu Salamah ibn Abdirrahman berkata;  “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih tahu tentang sunah Rasulullah, yang lebih baik pendapatnya jika beradu hujjah(argumentasi), serta yang lebih tahu tentang ayat-ayat dan kewajiban yang turun, daripada Aisyah r.a”.

Urwah ibn Zubair ibn Al-Awwam, seorang murid Rasulullah bercerita; “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih tahu halal dan haram, Al-Quran, ilmu faraidh, fikih, syair, ilmu pengetahuan, pengobatan, dan sejarah Arab daripada Aisyah r.a”.

Suatu ketika Mu’awiyah bertanya kepada Ziyad;

Mu’awiyah bertanya; “Wahai Ziyad, siapakah orang yang paling berilmu?”.

Ziyad menjawab; “Engkau, Amirul Mukminin’’.

Mu’awiyah bertanya lagi; “Engkau berani bersumpah?”.

Lalu, Ziyad menjawab, “Jika aku bersumpah kepadamu, orang yang paling berilmu adalah Aisyah”.

Bahkan, Muhammad ibn Syihab Az-Zuhri berkata; “Jika ilmu semua manusia dihimpun, lalu ditambah dengan ilmu istri-istri Rasulullah, niscaya Aisyah tetap orang yang lebih luas ilmunya daripada mereka”.

Dalam hal sastra, Musa ibn Thalhah juga pernah berkomentar, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih fasih daripada Aisyah”.

Sementara, Al-Ahnaf ibn Qais mengatakan;  “Aku tidak pernah mendengar ucapan dari lisan seorang makhluk yang lebih baik ucapannya daripada lisan Aisyah’’.

Contoh kata-kata Aisyah yang sastrawi adalah saat menceritakan kesulitan yang dihadapi Nabi saw. saat menerima wahyu, Aisyah pernah menuturkan, “Ketika wahyu diturunkan, beliau mengambilnya seperti beliau mengambil sesatu dari tempat yang sulit pada hari yang dingin, keringat menetes dari tubuh nya bak mutiara”.

Selain dikenal sebagai istri Rasulullah saw. yang luas ilmunya, Aisyah juga memiliki kekuatan pidato atau khotbah yang dahsyat. Retorikanya begitu kuat.

Al-AhnafibnQais pernah mengatakan, “Aku pernah mendengar khotbah Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar ibn Khaththab, Utsman ibn Affan, Ali ibn AbiThalib, dan  semua khalifah pada masa hidupku, tetapi aku tidak pernah mendengar ucapan seorang makhluk yang lebih baik daripada ucapan yang keluar dari lisan Aisyah”.

Mu’awiyah bersaksi; “Demi Allah, aku tidak pernah mendengar khotbah yang lebih baik daripada khotbah Aisyah’’.

Imam Thabari dalam Tarikh-nya berkata; “Bila Aisyah angkat bicara, suaranya sangat lantang, terdengar sebagai suara seorang perempuan yang berwibawa’’.

Aisyah Membagi Ilmunya

Pada masanya, Madinah Al-Munawarah merupakan pusat madrasah agama dan sekolah sains yang diawasi langsung oleh Abu Hurairah, Ibnu AbbasZaid ibn Tsabit, dan lain-lain. Namun, madrasah terbesar yang pernah ada di Madinah pada  waktu itu justru adalah salah satu sudut Masjid Nabawi yang dekat dengan bilik Nabi dan menempel rapat dengan tempat tinggal istri beliau.

Madrasah ini menjadi tempat untuk belajar atau meminta  fatwa, dan pusat para pecinta ilmu dan penebar semangat kaum Mukmin. Semua penuntut ilmu pengetahuan menghadapkan wajahnya ke madrasah ini. Inilah madrasah pertama dalam Islam yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah pemikiran Islam. Dan, guru di madrasah ini tak lain adalah Ummul Mukminin, Aisyah r.a.

Orang-orang dari kalangan kerabat dan mahram Aisyah, lelaki dan perempuan, diajaknya bergabung untuk di didik dan diajar di biliknya. Adapun orang lain yang bukan kerabatnya diajar dari balik hijab. Mereka duduk di hadapan Aisyah dan dipisahkan oleh tirai di Masjid Nabawi. Di antara banyak orang  yang datang dan meminta fatwa atau bertanya kepada Aisyah tentang segala permasalahan, Aisyah pun langsung menjawabnya seketika itu sehingga mereka langsung mendapatkan berkah dari pembelajaran sunah Nabi langsung dari lisan Aisyah sebagai orang yang paling dekat dengan kehidupan Nabi saw.

Berfatwa kepada Masa Khulafa Ar-Rasyidin

Ummul Mukminin Aisyah r.a. selalu berfatwa dan mendapatkan kedudukan yang tinggi dan diberkahi dibidang fatwa setelah Rasulullah saw. wafat. Pada zaman Khalifah Umar ibn Khaththab Al­ Faruq, tidak semua sahabat diperbolehkan berfatwa. Wewenang berfatwa hanya diberikan bagi to­koh-­tokoh tertentu. Namun, Umar r.a. kerap meminta fatwa kepada Aisyah r.a. Ini merupakan bukti bahwa Umar sangat bergantung kepada Aisyah dan mengakui keutamaan dan kedudukannya dibi­dang ilmu pengetahuan.

Gubernur Damaskus, Mu’awiyah, pun jika menghadapi suatu permasalahan selalu mengirimkan utusan kepada Aisyah untuk menanyakan hukum agamanya. Kadang-kadang  ia sendiri yang mengirim surat langsung kepada Aisyah untuk sekadar meminta nasihatnya.

Imam Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunan-nya:

Mu’awiyah mengirim surat kepada Aisyah untuk memintanya menuliskan satu surat singkat yang berisi wasiat dan nasihat untuknya.

Kemudian, Aisyah menulis surat balasannya sebagai berikut; ”Semoga keselamatan menyertaimu. Amma ba’du, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Barang siapa mengharapkan rida Allah meski dibenci manusia, niscaya Allah akan mencukupkan (kebutuhannya), dan barang siapa mengharapkan rida manusia meski dibenci Allah, maka Allah akan menyerahkan nasibnya kepada ma­ nusia’”. (HR Tirmidzi dan Ibnu Asakir)

Meskipun memiliki keutamaan dan ilmu yang luas seperti itu, jika Aisyah ditanyai tentang sesuatu yang belum ia ketahui,  atau jika ia menemukan seseorang yang lebih tahu daripada ia dalam masalah tersebut, ia tidak segan-segan menganjurkan kepada sang temannya untuk pergi kepada orang yang lebih tahu  itu.

Syuraih ibn Hani’ meriwayatkan, ia berkata; “Aku pernah datang menemui Aisyah untuk bertanya soal mengusap khuff (sepatu). Ia menjawab, ‘Pergilah ke tempat Ibnu Abi Thalib’’. Tanyakanlah kepadanya karena ia sering berpergian bersama Rasulullah.’” Ia juga pernah ditanya tentang shalat dua rakaat setelah Ashar, ia menjawab; “Tanyakanlah hal itu kepada Ummu Salamah.” Atau, waktu ditanya tentang hukum mengenakan sutra, ia menjawab, “Tanyakanlah kepada Abdullah ibn Umar.’”

Rumah Tangga Aisyah

Rumah tempat tinggal Nabi saw. dan Aisyah r.a. sama sekali bukan istana yang megah dan mewah. Rumah mereka hanya berupa pondok berisi bilik-bilik kecil di sekitar Masjid Nabawi. Bangunannya pendek saja, bahkan mudah roboh. Bilik Aisyah dibangun oleh Rasulullah saw. di sebelah timur masjid, pintunya menghadap ke Barat ke arah masjid, seolah masjid itulah berandanya. Rasulullah saw. biasa menengokkan kepalanya ke bilik Aisyah saat beliau beriktikaf di masjid hingga Aisyah pun menurunkan kepala beliau. Terkadang beliau meminta sesuatu kepada Aisyah hanya dengan menjulurkan tangan kepadanya.

Perabotan yang terdapat di rumah itu hanyalah pembaringan beserta tikarnya, bantal yang terbuat dari kulit berisi serabut, kantung kulit, bejana air, dan mangkuk untuk minum air. Sering kali rumah itu gelap tanpa lampu atau penerang apa pun di dalamnya.

Aisyah berkata; “Selama 40 malam pada masa Rasulullah, rumah kami tidak diterangi apa pun, lampu, perapian, atau yang lainnya’’.

Memang jarang sekali perapian menyala di rumah Rasulullah saw.

Lebih lanjut Aisyah menceritakan; “Keluarga Muhammad tidak pernah merasa kenyang dengan roti gandum yang berlauk selama tiga hari, demikianlah yang terjadi sampai beliau wafat.  Pernah dalam satu bulan, keluarga Muhammad tidak membuat  roti dan memasak lauk sama sekali’’.

Riwayat yang lain mengungkapkan, “Mereka hanya hidup dengan kurma dan air”.

Bahkan, sering kali rumah tangga keluarga sederhana itu selalu berpuasa.

Terkadang Rasulullah saw. mendatangi Aisyah setelah bepergian dan bertanya; “Apakah kalian memiliki sesuatu untuk kumakan?”.

Aisyah menjawab, “Tidak, kami tidak mempunyai apa­-apa”.

Rasulullah saw. pun  kemudian berkata; “Kalau begitu, aku puasa’’.

Meskipun memiliki seorang pembantu dirumahnya, Aisyah tetap melakukan sendiri segala pekerjaan rumah dan melayani segala kebutuhan Rasulullah saw. Ia biasa menumbuk  sendiri gandum untuk dibuat tepung, memasak, membersihkan perabotan, menyiapkan air wudu Rasulullah saw, membersihkan hewan sembelihan Nabi, melumurkan minyak wangi ke tubuh Nabi, mencuci pakaian beliau, menyiapkan siwaknya, dan mencucinya untuk menjaga kebersihannya.

Rumah tangga Nabi dan Aisyah adalah rumah tangga yang  bahagia. Boleh jadi tidak ada istri tokoh besar mana pun yang memiliki kebahagiaan melebihi kebahagiaan Aisyah. Selama berumah tangga itu, mereka tidak pernah mengalami kekisruhan. Bahtera rumah tangga mereka senantiasa diliputi oleh hakikat cinta tertinggi, penuh dengan kasih sayang dan kelembutan. Padahal, mereka sering kali dililit oleh kemiskinan dan kesengsaraan hidup. Namun, pasangan ini selalu sabar dalam menghadapi semua masalah itu. Mereka senantiasa qanaah dan menekan hawa nafsunya. Mereka senangtiasa mengedepankan keikhlasan, cinta, dan pengorbanan.

Istri Tercinta

Dari semua istri Rasulullah saw. Aisyah ibnt Abu Bakar adalah istri yang paling dicintai oleh Rasulullah saw. Para sahabat Nabi pun mengetahui betapa besar kecintaan Rasulullah saw. kepada Aisyah r.a. Oleh karena itu, saat ingin memberi hadiah kepada Nabi, sebelumnya mereka mencari tahu kapan giliran beliau di rumah Aisyah. Hal ini sudah barang tentu membuat para istri yang lain menjadi cemburu.

Para Ummul Mukminin lainnya lalu memanggil Fatimah r.a. dan mengutusnya untuk bertanya kepada ayahnya itu.

Fatimah melaporkan keadaan itu kepada Nabi; “Istri-istri ayah meminta ayah untuk berlaku adil terhadap putri Abu Bakar’’.

Rasulullah malah bertanya; “Wahai putriku, tidakkah kamu mencintai apa yang kucintai?”.

Fatimah menjawab; “Tentu saja, Ya Rasulullah.”

Kemudian Fatimah kembali menemui para istri Rasul dan menyampaikan jawaban beliau. Mereka meminta Fatimah untuk kembali kepada Nabi, tetapi Fatimah menolaknya.

Setelah itu, para istri Rasulullah saw. meminta Ummu Salamah untuk menyampaikan keresahan mereka itu kepada beliau. Ketika Ummu Salamah mendapat giliran, ia langsung menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah saw.

Rasulullah bersabda; “JanganmenyakitikuhanyakarenaAisyah.Sesungguhnyawahyuku tak ada yang turun ketika aku berada di tempat kalian, melainkanhanyasaataku beradaditempat Aisyah” .(HR Bukhari).

Pernah suatu ketika Amr ibn Ash bertanya kepada Nabi; “Siapakah orang yang paling Anda cintai?”.

Rasulullah menjawab, “Aisyah”.

Amr bertanya lagi; “Dari golongan laki-­laki?”.

Beliau menjawab; “Ayahnya Aisyah’’.

Menjelang wafatnya, dalam kondisi sakit, Nabi Muhammad saw. merasa betapa lambatnya waktu bagi Aisyah untuk mendapatkan giliran.

Beliau selalu bertanya; “Di mana giliranku hari ini dan di mana aku besok?”

Akhirnya, para istri mengizinkan beliau untuk pergi ke tempat Aisyah. Dalam menggambarkan peristiwa itu,

Aisyah berkata; “Beliau meninggal pada hari beliau  mulai pindah ke rumahku untuk memberiku giliran.  Allah Swt. memanggilnya sementara kepalanya berada di pangkuanku”.

Mengapa Rasulullah saw. lebih mencintai Aisyah ketimbang istri-istri lainnya? Kebanyakan orang menduga bahwa cinta Rasulullah saw. kepada Aisyah hanya karena kecantikan dan kebaikannya. Dugaan ini tidak tepat karena para istri Rasul yang lain; seperti Zainab, Juwairiyah, dan Shafiyah r.a.— juga tak kalah cantiknya. Amat banyak hadis dan atsar yang menyebut tentang kecantikan dan kebaikan mereka.

Hal yang membedakan Aisyah dari UmmulMukmininlainnya adalah ilmunya yang sangat dalam dan luas tentang berbagai hal yang berkaitan dengan agama—yaitu ilmu Al-Quran, tafsir, hadis, dan fikih. Ia juga matang dalam melakukan ijtihad dan meneliti berbagai persoalan. Ia pun mampu memutuskan hukum atas hal­hal yang baru.

Sebaliknya, Aisyah pun sangat mencintai suaminya, Muhammad saw. Ia merasa sedih jika ada orang yang mengaku mencintai Rasulullah saw. seperti ia mencintai beliau. Tidak ada di antara istri Rasulullah saw. yang lebih erat dengan beliau  daripada Aisyah. Tiada yang sanggup memahami semangat dan makna-makna Rasulullah saw. melebihi Aisyah. Juga tak ada yang mempergauli Rasulullah saw. lahir dan batin lebih daripada Aisyah.

Aisyah merupakan teladan paling sempurna dalam hal ketaatan seorang istri kepada suaminya. Ia tidak pernah melanggar aturan-aturan Nabi saw. sepanjang hidupnya bersama beliau. Bila terbesit dibenaknya akan sesuatu hal yang bisa membuat Nabi marah, ia akan langsung meninggalkannya.

Abdullah ibn Amir pernah mengutus seseorang untuk membawakan nafkah dan pakaian kepada Aisyah. Teringat akan salah satu aturan Nabi.

Aisyah lantas berkata kepada utusan itu, “Wahai anakku, aku tidak menerima sesuatu dari seorang pun”.

Pasangan suami­ istri ini sangat senang melakukan ibadah bersama­-sama. Aisyah sangat rajin melaksanakan shalat lima waktu, qiyamul lail (ibadah malam), shalat Dhuha, dan memperbanyak puasa. Terkadang Aisyah dan Rasulullah juga berpuasa bersama. Saat melihat Nabi banyak mengerjakan iktikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadan, Aisyah kadang­-kadang juga mengikuti Nabi saw. melakukan ibadah itu, bahkan ia mendirikan tenda di dalam masjid.

Hubungan Aisyah dengan para Ummul Mukminin

Aisyah memiliki delapan madu, tetapi hubungan antara madu-madunya itu baik-baik saja. Tak ada kedengkian dan iri hati yang dapat merusak hubungan mereka. Aisyah hidup penuh toleransi bersama madu-madunya. Terhadap Saudah ibnt Zam’ah r.a., Aisyah akrab dan mencintai dengan tulus ikhlas. Bahkan, Saudah adalah sahabat dan teman Aisyah dalam hal urusan dan pekerjaan rumah. Aisyah banyak memuji Saudah. Ia mengatakan, “Aku tidak pernah menemukan perempuan yang paling kucintai dan membuatku selalu ingin bersamanya lebih dari Saudah ibnti Zam’ah”.

Hafshah ibnt Umar r.a. pernah menjadi madu Aisyah selama delapan tahun. Kalau Aisyah adalah buah hati Abu Bakar Ash-Shiddiq, Hafshah adalah putri tercinta Umar ibn Khaththab.  Kehidupan keduanya merupakan contoh dan teladan yang tulus dari cinta dan kasih sayang. Mereka tak pernah berselisih dalam urusan rumah tangga. Keduanya merupakan sahabat yang sangat tulus, selalu bertukar pendapat dalam urusan rumah Nabi saw. Masing-masing di antara mereka berdua menguatkan satu sama lain dalam segala hal di depan istri-istri Rasulullah saw. yang lainnya.

Saat Rasulullah saw. menikahi Zainab ibnt Jahsy r.a., Aisyah juga menyambut dan memberkatinya. Aisyah selalu mengenangnya dengan rasa terima kasih dan penghargaan.

Aisyah berkata, “Semoga Allah menjaganya dan menganugerahinya sifat wara’”.

Saat menggambarkan sosok Zainab,

Aisyah berkata seperti ini; “Aku tidak pernah melihat seorang perempuan yang baik agamanya melebihi Zainab. Ia adalah orang yang paling bertakwa, paling jujur, paling suka bersilaturahmi, dan paling banyak sedekahnya. Ia adalah orang yang paling giat berusaha untuk dirinya, untuk bersedekah, dan bertaqarrub kepada Allah Swt”.

Saat Ummul Mukminin Ummu Habibah r.a. mendekati ajalnya, ia memanggil Aisyah.

Ia berkata lirih kepada Aisyah, “Engkau telah membuatku  bahagia, semoga Allah membahagiakanmu”.

Dari keterangan di atas, jelaslah seberapa besar Aisyah menghormati madu-madunya. Ia memandang mereka dengan pandangan yang hormat dan memuliakan. Ia selalu berinteraksi dengan mereka dengan cara yang paling lembut, tulus, dan adil. Tidak pernah terjadi perselisihan di antara mereka. Kita juga dapat melihat Aisyah menerima mereka dengan lapang dada. Ia menyebut mereka dengan hal-hal yang baik dan memuji seluruh kebaikan dan sifat-sifat mereka.

Hubungan Erat Aisyah dengan Fatimah

Ketika Rasulullah saw.  mulai berumah tangga dengan Aisyah  saat itu, Fatimah ibnt Muhammad masih gadis. Saat itu, Fatimah baru berusia lima atau enam tahun lebih tua daripada Aisyah. Fatimah sempat tinggal bersama Aisyah selama kurang lebih satu tahun, sebelum menikah pada 5 H. Aisyahlah yang mempersiapkan pernikahannya, menyediakan, dan menata perabot rumahnya.

Kitab-kitab sirah dan hadis semuanya sepakat bahwa hubungan antara Aisyah dan Fatimah sangat erat, melebihi hubungan orang-orang yang sama keadaannya. Mereka adalah teman dalam satu hati, saling bersatu.

Aisyah pernah memuji Fatimah seperti ini, “Aku tidak pernah melihat orang sebaik Fatimah, setelah ayahnya”.

Ketika Aisyah ditanya tentang siapa orang yang paling dicintai Rasulullah saw., Aisyah lalu menjawab, “Fatimah”.

Haditsul Ifki (Berita Bohong)

Peristiwa Haditsul Ifki ini terjadi pada saat Perang Muraisi’. Aisyah r.a. menemani Rasulullah saw. dalam perjalanan perang ini. Sebelumnya, Aisyah telah meminjam  kalung milik saudaranya, Asma’ ibnt Abu Bakar. Sayangnya, kalung itu terjatuh karena terputus dari leher Aisyah dalam sebuah tempat pemberhentian. Aisyah kemudian sibuk mencari kalung itu sehingga tak dimana ia tertinggal oleh  rombongan.

Aisyah menceritakan peristiwa itu; “Usai Rasulullah berperang, kami pun kembali ke Madinah. Ketika perjalanan telah mendekati Madinah, kami beristirahat sejenak pada malam hari.  Saat orang-orang menyeru untuk kembali berangkat, aku malah ingin buang air, jadi aku bergegas untuk melakukannya. Selesai buang air, aku mendekati untaku seraya meraba dadaku. Ternyata kalungku lenyap. Maka, aku kembali untuk mencari kalungku itu sehingga aku tertinggal di belakang.

Orang-orang pun telah siap membawaku. Mereka mengangkat Rasulullah saw. dan menaikkan sekedup unta yang biasa kunaiki. Mereka mengira aku ada di dalamnya. Ketika itu tubuh perempuan masih ringan sebab mereka makannya hanya sedikit. Apalagi, saat itu usiaku masih muda. Maka, rombongan unta itu pun mulai bergerak.”

Menyadari kalungnya hilang, Aisyah pun mencoba mencarinya sekuat tenaga. Bahkan, Aisyah sangat yakin mampu menemukan kembali kalungnya yang hilang itu sebelum rombongan bergerak pergi. Itulah sebabnya ia tidak memberitahukan kepada siapa pun dan tidak meminta seorang pun untuk menunggunya.

Aisyah melanjutkan ceritanya, “Akhirnya aku telah menemukan kalungku setelah pasukan beranjak pergi. Aku menuju ke tempatku sebelumnya dan ternyata di sana sudah tidak ada orang. Maka, kuputuskan untuk menunggu di sana dengan harapan barangkali mereka akan kembali lagi untuk mencariku setelah menyadari bahwa aku tidak ada di sekedup unta. Aku lalu duduk beristirahat sampai akhirnya tertidur. Sementara itu, ternyata Shafwan ibn Mu’aththal As-Sulami juga tertinggal. Ia pun hendak beristirahat di tempat yang sama denganku ketika dilihatnya ada satu bayangan hitam seseorang, yaitu aku. Saat itu aku terbangun. Demi Allah, kami tidak saling bicara apa pun, kecuali ajakannya untuk mengantarku pulang. Ia lalu bergegas menuju untanya dan mendudukkan unta tersebut supaya aku bisa naik ke punggungnya. Ia kemudian berjalan sambil menuntun untanya hingga kami berhasil mencapai tempat rombongan pasukan beristirahat pada siang hari.”

Berawal dari peristiwa itulah, berita kebohongan bahwa Aisyah selingkuh dengan Shafwan ibn Mu’aththal As-Sulami terjadi. Namun, seseorang yang busuk dan menjadi musuh Allah, Abdullah ibn Ubay, menemukan kesempatan yang tepat untuk melampiaskan kemunafikan dan kedengkiannya. Ia mulai menyebarkan isu dan berita bohong itu dengan bantuan dukungan dari teman-temannya yang sehati. Ketika mendengar isu ini, kaum Muslim dan para sahabat pun langsung berseru, “Ini adalah dusta yang besar’’.

Aisyah sendiri sejauh itu belum mengetahui kabar yang sangat menyakitkan ini. Ia tidak merasakan ada yang lain di tengah masyarakatnya. Hingga pada suatu malam, ia pergi bersama Ummu Misthah ke tempat pemandian untuk buang hajat. Di tengah jalan, Ummu Misthah lalu menceritakan Haditsul Ifki itu. Aisyah pun kaget bukan kepalang lantas ia berkata, “Demi Allah, aku sudah tidak bisa membuang hajatku lagi.” Aisyah pun bergegas pulang.

Ketika sudah yakin dengan adanya isu-isu yang telah menyebar luas itu, Aisyah lalu mendatangi rumah ibunya. Disana Aisyah berkata kepada ibunya, “Semoga Allah mengampunimu, orang-orang telah berbicara begitu rupa dan Ibu pun telah mendengarnya. Namun, mengapa Ibu tak memberitahuku?” Ibunda Aisyah menjawab, “Wahai putriku, tenanglah dan jangan pedulikan’’. Kemudian, seorang perempuan Anshar datang dan menceritakan sekali lagi beredarnya desas-desus itu. Mendengar cerita itu, Aisyah seketika itu jatuh pingsan karena merasa sangat tertekan.

Rasulullah saw. lalu datang menemui Aisyah, tetapi tidak ada kelembutan di wajahnya seperti saat tiap kali Aisyah mengadu. Agaknya berita itu telah mulai memengaruhi beliau.  Hal ini membuat Aisyah resah sehingga kemudian Aisyah pun meminta izin Nabi untuk menginap di rumah orangtuanya. Rasulullah saw. lalu memberi izin dan malam itu Aisyah tak berhenti menangis sampai pagi.

Dalam upaya mencari solusi atas persoalan ini, Rasulullah saw. memanggil para sahabatnya dan meminta pendapat mereka. Rasulullah saw. memanggil Ali dan Usamah untuk dimintai pertimbangan apakah beliau harus menceraikan Aisyah atau tidak. Usamah menyatakan bahwa keluarga Nabi terbebas dari tuduhan orang-orang munafik. Ia bersaksi, “Aku tidak menemukan kecuali kebaikan di dalam keluarga Anda.

Kemudian, Rasulullah saw. memanggil Barirah.

Beliau bertanya kepada Barirah; “Wahai Barirah, apakah engkau melihat sesuatu yang meragukanmu?”

Barirah menjawab; “Demi Zat yang mengutus engkau dengan kebenaran, aku tidak melihat dalam diri Aisyah sesuatu yang membuatku ragu. Bagiku, ia hanyalah gadis belia, yang sering tertidur saat membuat adonan gandum sehingga gandum itu dimakan oleh domba. Aku melindungi pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, Aisyah memiliki akhlak yang lebih baik daripada emas.”

Istri Nabi yang lain, Zainab ibnti Jahsy—yang saudarinya, Hamnah, turut menyebar Haditsul Ifki ini—juga ditanyai Rasulul lah saw.

Ummul Mukminin Zainab menjawab, “Wahai Rasulullah, aku menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, aku tidak mengenal dalam diri Aisyah kecuali kebaikan.”

Hari itu juga Rasulullah saw. langsung bangkit dan meminta restu para pengikutnya untuk menuntut Abdullah ibn Ubay.

Beliau berkata, “Maukah kalian memaafkanku atas apa yang akan aku lakukan terhadap seseorang yang telah menyakiti keluargaku? Demi Allah, aku tidak pernah menjumpai kecuali kebaikan dalam diri keluargaku. Lalu, orang-orang juga menuduh seorang lelaki yang kuketahui kebaikannya. Ia tidak pernah menemui keluargaku kecuali bersamaku’’.

Selanjutnya Rasulullah saw. datang menengok Aisyah yang masih terbaring sakit di pembaringannya dan dengan setia ditunggui oleh ayah ­bundanya. Air mata terus mengalir dari kedua mata Aisyah.

Rasulullah duduk di sisinya dan berkata, “Wahai istriku Aisyah, aku telah mendengar kabar tentangmu begini dan begitu. Jika engkau tidak bersalah, niscaya Allah akan membebaskanmu’’.

Aisyah sendiri pada akhirnya angkat bicara.

Ia berkata kepada umat; “Demi Allah, aku tahu bahwa kalian semua telah mendengar apa yang digunjingkan orang-­orang. Hal itu meresap di da lam hati kalian dan kalian memercayainya. Jika kukatakan kepada kalian bahwa aku tidak bersalah dan hanya Allah yang tahu bahwa aku tidak bersalah, kalian pasti tidak memercayaiku”.

 

Dan, jika kuakui, Allah Mahatahu bahwa aku tidak bersalah, niscaya kalian memercayaiku. Demi Allah, aku tidak menemukan satu teladan untukku dan untuk kalian, kecuali sikap ayah Nabi Yusuf a.s. seperti yang dinyatakan di dalam Al­Qur’an,

وَجَاۤءُوْ عَلٰى قَمِيْصِهٖ بِدَمٍ كَذِبٍۗ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ اَنْفُسُكُمْ اَمْرًاۗ فَصَبْرٌ جَمِيْلٌ ۗوَاللّٰهُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ

Terjemah :
Dan mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu. Dia (Yakub) berkata, “Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan. (QS. Yusuf :18)

Dengan menyebarkan berita bohong itu, kaum munafik sebenarnya ingin merusak nama baik keluarga Nabi saw. dan  memecah belah persatuan kaum Muslim. Secara lahir, rencana mereka itu tampak berhasil mencapai tujuannya. Namun, mereka lupa bahwa penjelasan dari Allah Swt. menunggu dan mengawasi mereka. Maka, tibalah saatnya penjelasan Allah Swt. itu berbicara, menyingkap tabir peristiwa itu. Saat menunggu penjelasan tersebut tiba, kaum Mukmin kebanyakan berdiam diri di rumah sampai wahyu itu diturunkan Allah Swt.

Rasulullah saw. menerima wahyu itu seperti orang yang tengah didera sakit. Butir-butir keringat mengucur deras dari tubuhnya seakan-akan sedang dibakar panas matahari. Ketika tabir rahasia itu tersingkap, Nabi saw. tertawa gembira. Segera beliau mendatangi Aisyah dan berkata, “Wahai Aisyah, pujilah Allah Swt. karena Ia telah membebaskanmu dari tuduhan itu. Ia menurunkan ayat ini kepadaku (Qs. An-Nur :11–19)

:

اِنَّ الَّذِيْنَ جَاۤءُوْ بِالْاِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنْكُمْۗ لَا تَحْسَبُوْهُ شَرًّا لَّكُمْۗ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۗ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْاِثْمِۚ وَالَّذِيْ تَوَلّٰى كِبْرَهٗ مِنْهُمْ لَهٗ عَذَابٌ عَظِيْمٌ – ١١

 

Terjemah :
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barangsiapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula).

لَوْلَآ اِذْ سَمِعْتُمُوْهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بِاَنْفُسِهِمْ خَيْرًاۙ وَّقَالُوْا هٰذَآ اِفْكٌ مُّبِيْنٌ – ١٢

Terjemah :
Mengapa orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri, ketika kamu mendengar berita bohong itu dan berkata, “Ini adalah (suatu berita) bohong yang nyata.”

لَوْلَا جَاۤءُوْ عَلَيْهِ بِاَرْبَعَةِ شُهَدَاۤءَۚ فَاِذْ لَمْ يَأْتُوْا بِالشُّهَدَاۤءِ فَاُولٰۤىِٕكَ عِنْدَ اللّٰهِ هُمُ الْكٰذِبُوْنَ – ١٣

Terjemah :
Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak datang membawa empat saksi? Oleh karena mereka tidak membawa saksi-saksi, maka mereka itu dalam pandangan Allah adalah orang-orang yang berdusta.

وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِيْ مَآ اَفَضْتُمْ فِيْهِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ – ١٤

Terjemah :
Dan seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, disebabkan oleh pembicaraan kamu tentang hal itu (berita bohong itu).

اِذْ تَلَقَّوْنَهٗ بِاَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُوْلُوْنَ بِاَفْوَاهِكُمْ مَّا لَيْسَ لَكُمْ بِهٖ عِلْمٌ وَّتَحْسَبُوْنَهٗ هَيِّنًاۙ وَّهُوَ عِنْدَ اللّٰهِ عَظِيْمٌ ۚ – ١٥

Terjemah :
(Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal besar.

وَلَوْلَآ اِذْ سَمِعْتُمُوْهُ قُلْتُمْ مَّا يَكُوْنُ لَنَآ اَنْ نَّتَكَلَّمَ بِهٰذَاۖ سُبْحٰنَكَ هٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيْمٌ – ١٦

Terjemah :
Dan mengapa kamu tidak berkata ketika mendengarnya, “Tidak pantas bagi kita membicarakan ini. Mahasuci Engkau, ini adalah kebohongan yang besar.”

يَعِظُكُمُ اللّٰهُ اَنْ تَعُوْدُوْا لِمِثْلِهٖٓ اَبَدًا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ۚ – ١٧

Terjemah :
Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali mengulangi seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang beriman,

وَيُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ – ١٨

Terjemah :
dan Allah menjelaskan ayat-ayat(-Nya) kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.

اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ اَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۙ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ – ١٩

Terjemah :
Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Dan firman-Nya; (Qs. An-Nur :23-24)

اِنَّ الَّذِيْنَ يَرْمُوْنَ الْمُحْصَنٰتِ الْغٰفِلٰتِ الْمُؤْمِنٰتِ لُعِنُوْا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ ۙ – ٢٣

Terjemah :
Sungguh, orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan baik, yang lengah dan beriman (dengan tuduhan berzina), mereka dilaknat di dunia dan di akhirat, dan mereka akan mendapat azab yang besar.

يَّوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ اَلْسِنَتُهُمْ وَاَيْدِيْهِمْ وَاَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ – ٢٤

Terjemah :
Pada hari, (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.

Akhirnya, ketiga orang yang bersekongkol dan menyebarkan isu itu pun diberi hukuman. Mereka adalah Abdullah ibn Ubay, Hassan ibn Tsabit, dan Hamnah ibnt Jahsy. Mereka dicambuk sebanyak 80 kali.

Wafatnya Ibunda Kaum Muslim

Ketika itu Aisyah sudah berumur 67 tahun. Ia jatuh sakit pada Ramadan 58 H.

Apabila ditanya, “Bagaimana keadaanmu?”.

Aisyah selalu menjawab, “Baik, Alhamdulillah”.

Pernah Ibnu Abbas meminta izin untuk menemuinya, tetapi Aisyah menolak, “Hindarkan aku dari pujian-pujiannya”. Kemudian, keponakan-keponakan Aisyah membujuknya sehingga Aisyah bersedia menemui Ibnu Abbas.

Saat Ibnu Abbas masuk, ia berkata; “Engkau disebut Ummul Mukminin supaya engkau bahagia, itu sudah menjadi namamu, bahkan sebelum engkau lahir. Engkau adalah istri Rasulullah yang paling beliau cintai dan Rasulullah tidak mencintai kecuali yang baik. Dan tentangmu, Allah menurunkan beberapa ayat Al-Quran”.

Kemudian, Aisyah berkata; “Janganlah engkau terlalu menyucikan diriku, wahai Ibnu Abbas. Aku lebih memilih untuk dilupakan”.

Abu Bakar dimakamkan di samping makam Rasulullah, begitu pula dengan Umar ibn Khaththab. Namun,  Aisyah menolak dimakamkan bersama mereka. Ia merasa dirinya tidak layak dan tidak sesuci mereka.

Menjelang ajalnya tiba, Aisyah berkata, “Janganlah kalian menguburkan aku bersama mereka (Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar) melainkan kuburkan aku bersama kawan-kawanku para UmmulMukminindi Pemakaman Baqi’. Dengan  begitu aku tidak merasa suci.”

Sebegitu luhurnya akhlak Aisyah hingga ia tidak ingin mengagungkan dirinya sendiri.

Ummul Mukminin Aisyah ibnti Abu Bakar Ash-Shidiq r.a. wafat pada 58 H, malam 17 Ramadan setelah shalat Witir, bertepatan dengan Juni 678 M. Seluruh umat Islam pada saat itu sungguh berdukacita. Ibunda kaum Muslim itu telah meninggalkan mereka. Ia adalah sosok istri yang paling dekat dengan Rasulullah saw. dan yang paling banyak mengetahui kehidupan dan teladan Rasullah saw. Ketika Aisyah wafat, orang-orang pun berkumpul dan berdatangan dari berbagai arah. Tidak pernah ada kerumunan sebanyak itu hingga saat itu.

Utsman ibn Abu Atiq meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata; “Aku menghadiri malam wafatnya Ummul  Mukminin   Aisyah r.a. dan aku melihat kaum perempuan di Baqi’ berkumpul seramai hari raya Id”.

Abu Hurairah r.a. yang ketika itu menjabat sebagai pejabat sementara gubernur Madinah—memimpin shalat jenazah Aisyah. Kemuraman terjadi di Madinah  Al­-Munawarah, karena salah satu “lenteranya” telah padam. Salah seorang penduduk Madinah bersaksi tentang kesedihan yang dirasakan saat itu. Ia menyatakan bahwa semua orang pada saat itu merasa sedih seakan­akan ibu mereka sendiri yang telah meninggal.

Jasa Aisyah kepada Muslimah di Seluruh Dunia

Keutamaan dan jasa terbesar yang diberikan Aisyah r.a. kepada seluruh perempuan adalah ia telah membuktikan kepada dunia bahwa muslimah—meski harus bersembunyi di balik jilbab, tetap harus mampu melaksanakan kewajiban dan tangggung jawabnya, yakni baik dalam berdakwah, memberi nasihat, membimbing, mendidik dan mengajar, bahkan di bidang politik dan sosial. Secara umum, kehidupan Aisyah merupakan barometer bagi perempuan yang tepat tentang kedudukan dan martabat yang telah diberikan Islam kepada perempuan.

Ia adalah pemimpin dan para pembela hak kaum perempuan. Ia selalu mengecam orang yang berbicara dengan nada merendahkan kehormatan atau menjatuhkan derajat perempuan. Saat Aisyah mendengar seseorang mengatakan bahwa yang dapat membatalkan shalat adalah anjing, keledai, dan perempuan yang lewat di depan orang yang shalat, ia langsung angkat bicara. “Jadi, perempuan adalah binatang yang buruk? Celakalah kalian yang telah menyamakan kami dengan anjing dan keledai! Kalian melihat aku sering lewat di depan Rasulullah, bahkan berbaring di depannya saat beliau shalat”.

Para ulama sepakat bahwa Ummul Mukminin Khadijah ibnt Khuwailid, Fatimah Az-Zahra, dan Ummul Mukminin  Aisyah r.a. adalah perempuan paling baik dan paling mulia di dunia. Adapun jumhur ulama mengatakan bahwa Fatimah berada di posisi pertama, lalu Khadijah, dan yang ketiga adalah Aisyah. Namun, urutan ini tidak bersandar pada argumen yang kuat atau hadis yang sahih. Sementara itu, Ibnu Hazm justru menentang semua pendapat di atas. Menurutnya, Aisyah adalah sosok manusia terbaik setelah Rasulullah saw., tidak hanya di kalangan perempuan, tetapi juga di kalangan laki-laki.

You also like

Juwairiyah bint al-Haris; Umm al-Mu’minin, al-Hilwah al-Malahah

Juwairiyah bint al-Haris; Umm al-Mu’minin, al-Hilwah al-Malahah

Biografi Setelah perang Uhud dan setelah kaum kafir Quraisy menghentikan kontak bersenjata dengan kaum muslimin sebagaimana yang mereka janjikan, Rasulullah…
Zainab bint Khuzaimah

Zainab bint Khuzaimah; Umm al-Mu’minin & Umm al-Masakin

Biografi Nama lengkapnya Zainab binti Khuzaimah ibn Haris ibn Abdillah  ibn Amru ibn Abdi Manaf ibn Hilal ibn…

Zainab bint Jahsy; Umm al-Mu’minin yang Sangat Khusyu’ Beribadah

Biografi Setelah Rasulullah saw. menikah dengan Ummu Salamah, Rasulullah saw. menikah dengan Zainab binti Jahsy. Ia adalah sepupu Rasulullah…
Pernikahan Nabi Muhammad dan Khadijah

Pernikahan Nabi Muhammad dan Khadijah

Dia adalah Khadijah binti Khuwailid ibnu Asad ibnu 'Abdil 'Uzzâ ibnu Qushay. Pada nama Qushay, kakeknya yang keempat,…
Saudah bint Zam‘Ah

Saudah bint Zam‘ah; Umm al-Mu’minin

Biografi Ia memiliki nama lengkap Saudah bint Zam‘ah ibn Qais ibn Abd  Syams al-Qurasyiyyah al-Amiriyyah. Sedangkan ibunya bernama…
Khadijah bint Khuwailid

Khadijah bint Khuwailid; Umm al-Mu’minin & Pebisnis Ulung

Ia memiliki nama Khadijah bint Khuwailid ibn Asad ibn Adil Uzza ibn Qusai ibn Kilab ibn Murrah ibn…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Shopping Cart

No products in the cart.

Return to shop

Nama Toko

Selamat datang di Toko Kami. Kami siap membantu semua kebutuhan Anda

Selamat datang, ada yang bisa Saya bantu