Home » Blog » Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam

Sejarah Kerajaan Mataram

Asal Usul Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram berdiri pada tahun 1582 dan berpusat di Kotagede, Yogyakarta. Sejarah kerajaan Mataram Islam dalam sebuah cerita bermula dari keluarga petani. Dikisahkan, ketika seorang petani bernama Ki Ageng Giring sedang menggarap sawahnya di pinggiran Kali Opak, tiba-tiba sebuah kelapa yang jatuh dan terdengar suara “Barang siapa meminum air kelapa ini, maka ia dan keturunannya akan berkuasa di tanah Jawa.” Mendengar suara demikian, Ki Ageng Giring lalu membawa kelapa itu pulang tapi tidak langsung meminumnya sebab ia sedang tirakat berpuasa. Sesampainya di rumah, Ki Ageng Giring membersihkan kelapa itu dan meletakkannya di meja. Beberapa saat berselang, sahabatnya yang bernama Ki Gede Pemanahan datang ke rumahnya. Melihat ada kelapa muda yang tergeletak di atas meja, Ki Gede Pemanahan yang sedang kehausan pun meminumnya sampai habis. pada saat tetesan terakhir lalu Ki Ageng Gede datang dan melihat bahwa kelapa muda tersebut telah dihabiskan oleh sahabatnya. Melihat hal itu, Ki Ageng Giring merasa menyesal dan kecewa. Ia pun meminta kepada Ki Gede Pemanahan agar suatu saat keturunannya yang ketujuhlah yang menguasai tanah Jawa.

Dalam versi yang lain, sejarah berdirinya Kerajaan Mataram Islam dikaitkan dengan kerajaan yang sudah ada sebelumnya yaitu Demak dan Pajang. Dalam salah satu versinya disebutkan bahwa pada saat Kerajaan Demak mengalami kemunduran, ibukotanya langsung di pindahkan ke Pajang dan dimulailah pemerintahan Pajang sebagai kerajaan. Kerajaan pajang terus mengadakan ekspansi ke Jawa Timur dan juga terlibat konlik dengan keluarga Arya Penagsang dari kadipaten Jipang Panolan (berada di sekitar daerah Cepu, Blora, Jawa Tengah). Setelah berhasil menaklukkan Arya Penangsang, Ki Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya (1550-1582) memberikan hadiah kepada dua orang yang dianggap berjasa dalam menaklukkan Arya Penangsang, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi.

Ki Ageng Pemanahan mendapatkan jatah wilayah tanah di hutan Mentaok (berada di tenggara Kota Yogyakarta dan di selatan Bandara Adisucipto) dan Ki Penjawi mendapatkan jatah wilayah tanah di Pati. Ki Ageng Pemanahan berhasil menjadikan tanah mentaok menjadi desa yang makmur dan kemudian menjadi kerajaan yang mau bersaing dengan Kerajaan Pajang yang menjadi atasannya. Pada tahun 1575, Pemanahan meninggal dan digantikan oleh putranya Danang Sutawijaya (Raden ngabehi Loring Pasar). Sutawijaya kemudian berhasil memberontak pada Pajang. Setelah Sultan Hadiwijaya meninggal pada tahun 1586, Pangeran Benowo naik tahta menggantikan Hadiwijaya. Namun karena tidak mampu mengatasi gerakangerakan yang dilakukan oleh para bupati yang berada pada pesisir pantai, Pangeran Benowo menyerahkan kekuasaan kerajaannya kepada Sutawijaya. Sejak itu, maka berdirilah Kerajaan Mataram dengan Danang Sutawijaya sebagai raja pertamanya dengan gelar Panembahan Senopati (1586-1601).

Kehidupan Politik dan Pemerintahan

Dalam menjalankan pemerintahannya, Panembahan Senopati selaku raja Mataram menghadapi banyak rintangan. Di mana para bupati di pantai utara Jawa seperti Demak, Jepara, dan Kudus yang dulunya tunduk kepada Pajang masih terus melakukan pemberontakan karena ingin melepaskan diri dari Pajang dan menjadi kerajaan yang merdeka.

Panembahan Senopati yang bercita-cita menguasai tanah Jawa, terus melakukan berbagai persiapan di daerah dengan memperkuat pasukan Mataram. Pada saat Panembahan Senopati mengadakan perluasan wilayah kerajaan dan menduduki daerahdaerah pesisir pantai Surabaya, adipati Surabaya menjalin persekutuan dengan Madiun dan Ponorogo untuk menghadapi Mataram. Sayangnya, Ponorogo dan Madiun justru dapat dikuasai oleh Mataram. Tidak berselang lama, Pasuruan, Kediri, dan akhirnya Surabaya juga berhasil direbut. Dalam waktu yang cukup singkat, Mataram berhasil merebut semua wilayah yang berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di masa pemerintahan selanjutnya yang dipimpin oleh Mas Jolang (1602-1613 M), Kerajaan Mataram semakin diperluas dengan mengadakan pendudukan terhadap daerah-daerah di sekitarnya.

Pada tahun 1613 M, Mas Jolang wafat di desa Krapyak kemudian dimakamkan di pasar Gede dan diberi gelar Pangeran Seda ing Krapyak. Yang menggantikan Mas Jolang setelah wafat adalah Mas Martapura. Namun karena kesehatan Mas Martapura sering sakit-sakitan, ia turun dari tahta kerajaan dan digantikan oleh Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Senopati ing alogo Ngabdurrahman. Mas Rangsang adalah raja pertama di Mataram yang menggunakan gelar Sultan sehingga ia lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung. Pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 M) inilah Kerajaan Mataram mencapai masa kejayaannya.

Selain menjabat sebagai seorang raja, Sultan Agung juga sangat tertarik dengan ilsafat, kesusastraan, dan seni. Ia pun kemudian menulis buku ilsafat yang berjudul Sastro Gending. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Mataran sudah dua kali melakukan penyerangan ke Batavia (tahun 1628 M dan 1629 M), namun semua serangan itu gagal. Alasan penyerangan itu adalah karena Sultan Agung memiliki tujuan untuk mempertahankan seluruh tanah Jawa dan mengusir orang-orang Belanda yang berada di Batavia. Dengan demikian, beliau adalah salah satu penguasa yang secara besar-besaran memerangi VOC yang kala itu telah menguasai Batavia. Setelah mengalami kegagalan itu, Sultan Agung kemudian memperketat penjagaan di daerah perbatasan-perbatasan yang dekat dengan Batavia agar pihak Belanda sulit untuk menembus daerah Mataram.

Pada saat pemerintahan Sultan Agung, wilayah Kerajaan Mataram hampir meliputi seluruh pulau Jawa. Wilayah kerajaan pun dibagi menjadi dua: Wilayah Pusat dan Mancanegara.

  • Wilayah pusat dibagi lagi menjadi dua, yaitu:
    • Kutanegara atau Kutagara sebagai pusat pemerintahan dengan pusatnya adalah istana        atau keraton yang berkedudukan di ibukota kerajaan.
    • Negara Agung, merupakan wilayah yang mengitari Kutanegara. Menurut Serat Pustaka Raja Purwa, wilayah Negara Agung di bagi menjadi empat daerah dan masing-masing daerah dibagi menjadi dua bagian:
      1. Daerah Kedu, dibagi menjadi Siti Bumi dan Bumijo yang terletak di sebelah barat dan timur sungai Progo,
      2. Daerah Siti Ageng atau Bumi Gede, dibagi menjadi Siti Ageng Kiwa dan Siti Ageng Tengen,
      3. Daerah Bagelen, dibagi menjadi Sewu yang terletak antara sungai Bogowonto dan Sungai Donan di Cilacap dan Numbak Anyar yang terletak antara sungai Bogowonto dan sungai Progo,
      4. Daerah Pajang, dibagi menjadi Panumpin yang meliputi daerah Sukowati dan Panekar.
  • Wilayah Mancanegara adalah daerah yang berada di luar wilayah Negara Agung tapi tidak termasuk daerah pantai. Mancanegara meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur sehingga dibagi menjadi Mancanegara Timur (Mancanegara Wetan) dan Mancanegara Barat (Mancanegara Kilen). Sedangkan wilayah kerajaan yang terletak di tepi pantai disebut Pasisiran yang kemudian dibagi lagi menjadi Pesisir Timur (Pasisiran Wetan) dan Pesisir Barat (Pasisiran Kilen). Sebagai batas kedua daerah pasisiran adalah sungai Tedunan atau sungai Serang yang mengalir di antara Demak dan Jepara.

Setelah Sultan Agung meninggal pada tahun 1645 M, kekuasaan dipegang oleh putranya yang bergelar Amengkurat I (1645-1677 M). Berbeda dengan ayahnya yang sangat membeci orang-orang Belanda, Amengkurat I justru membiarkan orang-orang Belanda masuk ke daerah Kerajaan Mataram. Bahkan Amengkurat I menjalin hubungan yang sangat erat dengan Belanda dan mereka diperkenankan untuk membangun benteng di Kerajaan Mataram.

Setelah diizinkan membangun benteng di wilayah Kerajaan Mataram, ternyata tindakan Belanda semakin sewenangwenang. Akhirnya muncullah pemberontakan yang dipimpin oleh pangeran Trunajaya dari Madura. Berbekal koneksi dengan bupati di daerah pesisir pantai, Pangeran Trunajaya hampir menguasai ibu kota Mataram. Namun karena perlengkapan persenjataan pasukan Belanda jauh lengkap, pemberontakan itu berhasil dipadamkan.

Pada saat terjadi pertempuran di pusat Ibukota Kerajaan Mataram, Amengkurat I menderita luka-luka dan dilarikan oleh putranya ke Tegalwangi dan meninggal dunia di sana. Amengkurat II pun menggantikan ayahnya memimpin Mataram (1677-1703 M). Ternyata di bawah pemerintahannya, Mataram menjadi semakin rapuh sehingga wilayah yang dikuasainya semakin sempit karena sudah dikuasai oleh Belanda. Karena merasa bosan tinggal di ibu kota kerajaan, Amengkurat II kemudian mendirikan sebuah ibu kota baru di Desa Wonokerto yang diberi nama Kartasura.

Di Kartasura, Amengkurat II menjalankan pemerintahann ya dengan sisa-sisa Kerajaan Mataram dan meninggal di sana pada tahun 1703 M. Setelah Amengkurat II meninggal, Kerajaan Mataram menjadi semakin suram dan sudah tidak mungkin untuk merebut kembali wilayah-wilayah yang telah direbut oleh Belanda. Naik menggantikan Amengkurat II, Sunan Mas (Sunan Amengkurat III) menuruni sifat kakeknya yang sangat menentang kegiatan VOC. Karena mendapat pertentangan dari Amengkurat III, VOC tidak menyetujui pengangkatan Sunan Amengkurat III sebagai Raja Mataram sehingga VOC mengangkat Pangeran Puger yang merupakan adik dari Amangkurat II (Paku Buwono I) sebagai calon Raja tandingan. Maka pecahlah perang saudara (memperebutkan mahkota I) antara Amangkurat III dengan Pangeran Puger dan akhirnya dimenangkan oleh Pangeran Puger. Pada tahun 1704, Pangeran Puger dinobatkan sebagai Raja Mataram dengan gelar Sunan Paku Buwono I.

Paku Buwono I meninggal tahun 1719 dan diganti oleh Sunan Prabu (Amangkurat IV) pada tahun 1719-1727 M. Di masa pemerintahan Amengkurat IV terjadi banyak pemberontakan terhadap pemerintahannya yang dilakukan oleh para bangsawan. Di sini, lagi-lagi VOC ikut campur sehingga kembali terjadi perang antar saudara (memperebutkan mahkota II). Sepeninggal Sunan Amangkurat IV pada tahun 1727, Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua wilayah melalui Perjanjian Giyati. Wilayah pertama adalah Daerah Kesultanan Yogyakarta (Ngayogyakarta Hadiningrat) dengan Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I sebagai rajanya. Mangkubumi menjabat sebagai raja di Ngayogyakarta Hadiningrat dari tahun 1755-1792 M. Sedangkan wilayah yang kedua adalah Daerah Kesuhunan Surakarta yang diperintah oleh Susuhunan Pakubuwono pada tahun 1749-1788 M.

Struktur birokrasi Kerajaan Mataram disusun secara hirarki mengikuti sistem pembagian wilayah kerajaan. Adapun sistem pemerintahannya dibedakan sebagai berikut:

  1.  Pemerintahan Dalam Istana (Peprintahan Lebet). Tugasnya adalah mengurusi pemerintahan dalam istana dan diserahkan pada empat orang pejabat Wedana Dalam (Wedana Lebet) yang terdiri dari Wedana Gedong Kiwa, Wedana Gedong Tengen, Wedana Keparak Kiwa, dan Wedana Keparak Tengen. Adapun tugas Wedana Gedong adalah mengurusi masalah keuangan dan perbendaharaan istana, sedangkan tugas Wedana Keparak adalah mengurus keprajuritan dan pengadilan.Gelar yang digunakan oleh para wedana adalah Tumenggung, atau Pangeran jika pejabat itu merupakan keturunan raja. Masing-masing Wedana Lebet dibantu oleh seorang Kliwon (Papatih atau Lurah Carik) yang memakai gelar Ngabehi. Di bawahnya lagi terdapat Kebayan dan 40 orang Mantri Jajar. Sebelum tahun 1744, di atas jabatan Wedana terdapat jabatan Patih Dalam (Patih Lebet) dengan tugas untuk mengoordinasikan wedana-wedana tersebut. Namun sejak tahun 1755 jabatan Patih Dalam (Patih Lebet) dihapus.Pemerintahan di Kutagara diurusi oleh dua orang Tumenggung yang langsung mendapat perintah dari raja. Kedudukan Tumenggung bersama empat Wedana Lebet cukup penting, yaitu sebagai anggota Dewan Tertinggi Kerajaan. Berbeda dengan Kartasura yang pada tahun 1744 menugaskan 4 orang pejabat untuk mengurusi daerah Kutagara, di mana salah satu diantaranya diangkat sebagai kepala.

    Wilayah Negara Agung termasuk bagian dari pusat kerajaan, di mana setiap daerah dipimpin oleh Wedana Luar (Wedana Jawi). Sesuai dengan nama daerah masing-masing, maka terdapat sebutan: Wedana Bumi, Wedana Bumija, Wedana Sewu, Wedana Numbak Anyar, Wedana Siti Ageng Kiwa, Wedana Siti Ageng Tengen, Wedana Panumping dan Wedana Panekar. Para wedana ini juga dibantu oleh Kliwon, Kebayan dan 40 orang Mantra Jajar. Sedangkan yang mengoordinasi para wedana ini adalah seorang Patih Luar (Patih Jawi) dengan tugas mengurusi wilayah Negara Agung dan Wilayah Daerah (Mancanegara). Sedangkan di tanah-tanah lungguh (tanah garapan), para bangsawan mengangkat seorang Demang atau Kayi Lurah.

  2. Pemerintahan Luar Istana (Pemerintahan Jawi). Tugasnya adalah mengurusi daerah-daerah di wilayah mancanegara baik Mancanegara Timur (Mancanegara Wetan) maupun Mancanegara Barat (Mancanegara Kilen). Untuk mengurusi daerah Mancanegara ini, raja mengangkat seorang Bupati yang dipimpin oleh Wedana Bupati. Adapun tugas Wedana Bupati adalah mengoordinasi dan mengawasi semua bupati yang menjadi kepala di daerah masing-masing, serta bertanggung jawab langsung kepada raja atas pemerintahan daerah dan kelancaran pengumpulan hasil-hasil daerah yang harus diserahkan pada pusat

Untuk daerah pesisir, wilayah Pesisir Timur (Pesisiran Wetan) dipimpin oleh Wedana Bupati yang berkedudukan di Jepara, sementara wilayah Pesisir Barat (Pesisiran Kilen) dipimpin oleh Wedana Bupati yang berkedudukan di Tegal. Dalam bidang kemiliteran (keprajuritan) juga disusun gelar kepangkatan secara hierarkis dari atas ke bawah: Senapati, Panji, Lurah, dan Bekel Prajurit. Selain itu juga terdapat petugas mata-mata (telik sandi) dan semacam petugas kepolisian untuk menjaga keamanan umum dalam kerajaan.

Berikut ini adalah raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Mataram Islam ialah:

  1. Danang Sutawijaya (Raden ngabehi Loring Pasar) atau Panembahan Senopati (1586-1601 M).
  2. Mas Jolang atau Seda Ing Krapyak (1602- 1613 M).
  3. Mas Rangsang yang bergelar Panembahan Hanyakrakusuma atau Sultan Agung Senopati ing alogo Ngabdurrahman (1613-1646 M).
  4. Amangkurat I (1646- 1676 M).
  5. Amangkurat II dikenal juga sebagai Sunan Amral (1677-1703 M).
  6. Sunan Mas atau Amangkurat III pada 1703 M
  7. Pangeran Puger yang bergelar Paku Buwono I (1703-1719M)
  8. Sunan Prabu atau Amangkurat IV (1719-1727 M)
  9. Paku Buwono II (1727-1749 M)
  10. Paku Buwono III pada 1749 M pengangkatannya dilakukan oleh VOC
  11. Sultan Agung.

Aspek Kehidupan Sosial

Antara tahun 1614 sampai 1622, Sultan Agung mendirikan keraton baru di Kartasura, sekitar 5 km dari Keraton Kotagede. Di sana, ia memperkuat militer serta mengembangkan kesenian dan pertukangan. Selain itu, ia pun membangun komplek pemakaman raja-raja Mataram di Bukit Imogiri. Kalender Jawa ia ganti dengan sistem kalender Hijriah. Pada tahun 1639, Sultan Agung mengirim utusannya ke Mekkah. Setahun kemudian, utusan Mataram itu membawakan gelar baru bagi Sultan Agung dari syarif di Mekah. Gelar baru itu adalah Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarani.

Seperti halnya ibu kota kerajaan Islam lainnya, ibu kota Mataram memiliki ciri khas kota dengan memakai arsitektur gaya Islam. Posisi istana atau keraton sengaja didekatkan dengan bangunan masjid dan letak keraton biasanya dikelilingi benteng dengan beberapa pos pertahanan di berbagai penjuru angin. Di luar pagar benteng terdapat parit buatan yang berfungsi sebagai barikade pertahanan ketika menghadapi lawan. Parit buatan ini berfungsi juga sebagai kanal, tempat penampungan yang memasok air ke dalam kota.

Sebagai kerajaan yang bersifat agraris, masyarakat Mataram disusun berdasarkan sistem feodal (dikuasai oleh kaum bangsawan) sehingga raja adalah pemilik tanah kerajaan beserta isinya. Kehidupan masyarakat di Kerajaan Mataram tertata dengan baik berdasarkan hukum Islam namun tanpa meninggalkan norma-norma lama begitu saja. Dalam pemerintahan Kerajaan Mataram Islam, raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi, kemudian diikuti oleh sejumlah pejabat kerajaan yang mendapatkan upah atau gaji berupa tanah lungguh (tanah garapan). Tanah lungguh tersebut dikelola oleh kepala desa (bekel) dan digarap atau dikerjakan oleh rakyat atau petani penggarap dengan membayar pajak/sewa tanah. Dengan adanya sistem feodalisme tersebut, maka lahirlah para tuan tanah di Jawa yang sangat berkuasa terhadap tanah-tanah yang dikuasainya.

Selain memiliki kedudukan yang tinggi, Sultan juga dikenal sebagai penatagama, yaitu pengatur kehidupan keagamaan. Di bidang keagamaan terdapat penghulu, khotib, naid, dan surantana yang bertugas memimpin upacara-upacara keagamaan. Sementara dalam bidang pengadilan, di istana terdapat jabatan jaksa yang bertugas menjalankan pengadilan istana. Untuk menciptakan ketertiban di seluruh kerajaan, maka diciptakanlah peraturan yang harus dipatuhi oleh penduduk di kerajaan Mataram yang dinamakan angger-anggerAngger-angger disusun bersama oleh Kasultanan Yogyakarta & Kasunanan Surakarta pada tahun 1817. Kitab ini terdiri dari lima/ enam buku yaitu Angger Aru-biru, Angger Sadoso, Angger Gunung, Angger Nawolo Pradoto Dalem, Angger Pradoto Akhir, dan Angger Ageng. Khusus untuk Angger Pradoto Akhir hanya diberlakukan di Kasultanan Yogyakarta. Angger-angger tersebut di kemudian hari digantikan oleh Burgerlijk Wetboek & Wetboek van Strafrecht seiring dengan berdirinya landraad Yogyakarta.

Kehidupan Ekonomi

Posisi ibu kota Mataram di Kotagede yang berada di pedalaman menyebabkan Mataram sangat tergantung kepada hasil pertanian. Kehidupan masyarakat yang agraris telah membentuk tatanan masyarakat feodal. Di mana bangsawan, priyayi dan kerabat kerajaan yang memerintah suatu wilayah diberi tanah garapan yang luas, sedangkan rakyat bertugas untuk mengurus tanah tersebut.

Kehidupan kerajaan Mataram mengandalkan pasokan dari hasil agraris, sedangkan daerah pesisir pantai di wilayah yang dikuasai tidak dimanfaatkan. Dengan mengandalkan pertanian, Mataram melakukan penaklukan ke beberapa kerajaan di Jawa Timur dan Jawa Barat. Penarikan upeti dari wilayah-wilayah penghasil beras menyebabkan perekonomian berkembang dengan cepat. Keadaan tersebut tentu saja tidak menguntungkan bagi rakyat, sebab mereka seakan-akan diperlakukan tidak benar oleh penguasa. Maka tidak mengherankan kalau kemudian banyak yang melarikan diri dari wilayah kekuasaan Mataram dan melakukan pemberontakan.

Perlawanan Untung Suropati (1686–1706)

Untung Suropati, demikianlah nama pejuang pada masa Mataram di bawah pemerintahan Amangkurat II. Nama itu berawal dari sikap benci Untung kepada VOC yang sudah muncul sejak di Batavia. Untung kemudian melarikan diri ke Cirebon dan terjadiperkelahian dengan Suropati sehingga namanya menjadi Untung Suropati. Dari Cirebon, Untung kemudian melanjutkan perjalanan ke Kartasura dan di sana ia disambut dengan baik oleh Amangkurat II.

Setelah menjadi raja, Amangkurat II merasakan betapa beratnya perjanjian yang telah ditandatangani dan berusaha untuk melepaskan diri. Pada tahun 1686 datang utusan dari Batavia di bawah pimpinan Kapten Tack dengan maksud merundingkan soal hutang Amangkurat II dan menangkap Untung Suropati. Amangkurat II menghindari pertemuan ini dan terjadilah pertempuran. Kapten Tack beserta pengikutnya berhasil dihancurkan oleh pasukan Untung Suropati. Untung Suropati kemudian melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur dan sampailah ke Pasuruan. Di sinilah akhirnya Untung mendirikan istana dan mengangkat dirinya sebagai bupati dengan gelar Adipati Wironagoro.

Untung Suropati juga mendirikan perbentengan di daerah Bangil. Usaha Untung Suropati ini mendapat dukungan dari para bupati di seluruh Jawa Timur sehingga kedudukan Untung Suropati semakin kuat. Seperti yang sudah ditulis di awal, pada saat Sunan Mas dengan gelar Sultan Amangkurat III yang anti kepada Belanda naik tahta menggantikan Amangkurat II, Pangeran Puger (adik Amangkurat II) ternyata juga berambisi ingin menjadi raja di Mataram. Maka ia pun pergi ke Semarang untuk mendapatkan dukungan dari VOC. Akhirnya VOC dan Pangeran Puger menyerang Kartasura dan berhasil mendudukinya. Amangkurat III kemudian melarikan diri ke Jawa Timur dan bergabung dengan Untung Suropati.

Pihak Belanda menyiapkan pasukan besar-besaran untuk menggempur pasukan Untung di Pasuruan. Di bawah pimpinan Herman de Wilde, pasukan kompeni berhasil mendesak perlawanan Untung. Dalam pertempuran di Bangil, Untung terluka dan akhirnya gugur pada 12 Oktober 1706, sementara Sunan Mas tertangkap dan dibuang ke Sailan/Sri Langka (1708).

Pada tahun 1719, Sunan Paku Buwono I wafat dan digantikan oleh Amangkurat IV (Sunan Prabu) di bawah mandat VOC. Semakin eratnya hubungan denganVOC membuat para bangsawan benci kepada kompeni dan kemudian sepakat untuk mengadakan perlawanan. Di antara yang melakukan perlawanan itu adalah Pangeran Purboyo (adik Sunan Prabu) dan Pangeran Mangkunegoro (putra Sunan Prabu).

Perlawanan terhadap Kompeni dapat dipadamkan dan para pemimpinnya ditangkap serta dibuang ke Sailan dan Afrika Selatan, kecuali Pangeran Mangkunegoro yang diampuni ayahnya. Pada masa pemerintahan Paku Buwono II (1727– 1749) Mataram kembali diguncang oleh perlawanan yang dipimpin oleh Mas Garendi (cucu Sunan Mas). Perlawanan ini di dukung oleh orang-orang Tionghoa yang gagal mengadakan pemberontakan terhadap VOC di Batavia. Mas Garendi berhasil menduduki ibu kota Kartasura, sementara Paku Buwono II melarikan diri ke Ponorogo. Akhirnya setelah beberapa kali terjadi perlawanan di Kartasura, Kartasura dianggap tidak layak lagi dijadikan ibu kota kerajaan sehingga pusat pemerintahan dipindahkan ke Surakarta.

Puncak Kejayaan Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Agung Haryokrokusumo (16131646 M). Daerah kekuasaannya mencakup pulau Jawa (kecuali daerah Banten dan Batavia karena waktu itu Batavia masih dikuasai oleh VOC Belanda), pulau Madura, dan Sukadana di Kalimantan Barat. Kekuatan militer Mataram juga sangat besar dan mencapai puncaknya pada zaman Sultan Agung berkuasa, sehingga Sultan Agung yang sangat anti kolonialisme pernah menyerang VOC di Batavia pada 1628 dan 1629.

Namun, kemerosotan tajam terjadi pada saat Mataram Islam dipegang oleh Sunan Paku Buwono II (1727-1749 M). Pada mulanya, Paku Buwono II menyerahkan Semarang, Jepara, Rembang, Surabaya, dan Madura kepada VOC. Kemudian pada tahun 1743 Demak dan Pasuruan juga diserahkan pada VOC. Puncaknya, sebelum Paku Buwono II mangkat, ia menyerahkan seluruh Mataram kepada VOC Belanda. Akhirnya Belanda pun menguasai pelayaran orang Jawa yang berpusat di Tegal, Pekalongan, Kendal, Tuban, dan Juwana.

Pangeran Mangkubumi yang tidak terima dengan semua itu, mulai bangkit melawan penjajah. Usaha yang dilakukannya ternyata tidak sia-sia, ia memperoleh sebagian Mataram melalui Perjanjian Giyanti (1755). Meskipun nama kerajaan baru yang didirikannya bukan lagi Mataram melainkan Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat, bangkitn ya kerajaan baru ini sebenarnya melanjutkan kejayaan Mataram. Kasultanan Yogyakarta adalah pewaris sah kerajaan Mataram.

Keruntuhan Mataram

Keruntuhan Mataram dimulai sepeninggalan Sultan Agung, Putra mahkota diangkat menjadi raja bergelar Amangkurat I (1646-1677). Amangkurat I ini memiliki sifat yang bertolak belakang dengan sang ayah. Gaya pemerintahannya cenderung lalim, tidak suka bergaul dan terlalu curiga dengan semua orang. Para pejabat di zaman pemerintahan Sultan Agung dihabisi dengan bengis, entah dengan hukuman cekik sampai mati atau dengan cara dikorbankan menjadi memimpin armada perang ke luar Mataram. Kebengisan Amangkurat I dapat dilacak dari catatan pejabat Belanda maupun dalam Babad Tanah Jawa. Disebutkan bahwa Amangkurat I mengatur pembunuhan adiknya, yaitu pangeran Alit, karena melakukan kudeta terhadap tahta kerajaan. Bahkan Amangkurat I pernah melakukan genocide atau pembunuhan masal terhadap lima ribu ulama.

Selain itu, hal tersebut diperburuk dengan hubungan antar kerabat yang tidak berjalan baik. Amangkurat I terlibat persaingan dalam urusan memilih wanita sebagai istri. Amangkurat I didukung oleh kakeknya, pangeran Pekik untuk menikahi seorang gadis cantik bernama Rara Oyi, putri Ngabehi Mangunjaya dari tepi Kali Mas Surabaya. Kejadian ini memunculkan tragedi berupa tewasnya beberapa kerabat kerajaan.

Pemerintahan Amangkurat I ini menimbulkan sikap antipati dan ketakutan pada rakyatnya. Lambat laun, rakyat bersatu padu menyerang kerajaan, dipimpin oleh pangeran Trunajaya dari Madura. Serbuan ini membuat Amangkurat I terdesak dan tersingkir hingga akhirnya meninggal dalam pelariannya di Wanayasa, Banyumas utara. Konon, untuk mempercepat kematiannya, putra mahkota yang kelak bergelar menjadi Amangkurat II memberi sebutir pil racun pada sang Ayah. Amangkurat I dimakamkan di Tegalwangi, dekat dengan gurunya yaitu Tumenggung Danupaya.

Dengan wafatnya Amangkurat I, putra mahkota membubarkan pemberontakan Trunajaya dengan meminta dukungan VOC. Pemberontakan ini berhasil dibubarkan setelah terbunuhnya pangeran Trunajaya oleh VOC dibawah pimpinan kapten Tack. Putra mahkota  kemudian naik tahta dengan gelar Amangkurat II (1677-1703). Ibu kota Mataram dipindah ke Kartasura, karena terdapat perebutan tahta antara Amangkurat II dengan adiknya, pangeran Puger. Pangeran Puger berpendapat bahwa dirinya berhak atas tahta Mataram sehingga tetap bersikukuh berdiam di istana Plered. Pada akhirnya pangeran Puger mengakui kekuasaan Amangkurat II di Kartasura tahun 1680 setelah terjadi pertikaian alot. Pemerintahan Amangkurat II di Kartasura dibangun dengan dukungan penuh VOC sehingga dirinya terikat dengan segala macam permintaan dan aturan VOC. Tetapi di sisi lain, Amangkurat II sangat melindungi para pejuang dalam melakukan perlawanan terhadap VOC. Salah satu dari pejuang tersebut adalah Untung Suropati.  Ia merupakan mantan perwira VOC yang akhirnya memusuhi resimennya karena tindakan sewenang-wenang kepada rakyat pribumi.

Ambivalensi Amangkurat II muncul ketika VOC meminta sang raja untuk menyambut Kapten Tack di Kartasura. Meskipun Kapten Tack ini sangat berjasa dengan berhasil membunuh pangeran Trunajaya di Kediri, namun Amangkurat II sangat membenci sifatnya yang arogan. Untuk menutupi sikap ambivalensinya, Amangkurat II menyambut baik kedatangan Kapten Tack di depan istana Kartasura. Namun, beliau telah mengatur siasat dengan pasukan Suropati untuk menyamar sebagai prajurit Mataram. Huru hara terjadi di saat Kapten Tack datang di istana yang menyebabkan dirinya terbunuh pada tahun 1686. Sayangnya, tindakan tersebut diketahui oleh pangeran Puger yang kemudian menunjukkan bukti-bukti kuat kepada VOC soal keterlibatan Amangkurat II dalam peristiwa itu. Inilah senjata ampuh pangeran Puger dalam mendongkel tahta Amangkurat II.

Setelah Amangkurat II wafat, tahta Mataram masih diteruskan oleh putra mahkota yang bergelar Amangkurat III (1703-1708). Amangkurat III juga menggalang persahabatan dengan Untung Suropati, seperti ayahnya. Sementara itu, konlik lama yaitu usaha perebutan tahta oleh  pangeran Puger tetap terjadi. Berbekal bukti-bukti kuat soal keterlibatan Amangkurat II dalam peristiwa terbunuhnya Kapten Tack, maka pangeran Puger dinaikkan tahta sebagai raja Mataram oleh VOC, bergelar Paku Buwono I (1704-1719) dan bertahta di Semarang. Amangkurat III diserang oleh VOC dan Paku Buwono I sehingga melarikan diri ke Jawa Timur. Pada tahun 1708, Amangkurat III akhirnya ditawan oleh VOC kemudian diasingkan ke Sri Lanka.

Paku Buwono I kemudian bertahta di Kartasura. Masamasa pemerintahannya dibayar dengan menyerahkan daerahdaerah pesisir kepada VOC. Hal ini merupakan suatu kesalahan besar karena dengan demikian sumber pendapatan Mataram berkurang drastis. Ianilah yang memancing konlik intern berkepanjangan di antara kerabat kerajaan. Akibat hal tersebut, kondisi kerajaan tidak pernah stabil sehingga memancing terjadinya beberapa pemberontakan. Keadaan ini berlangsung terus menerus, bahkan hingga wafatnya Paku Buwono I.  Paku Buwono I digantikan oleh putranya yang  bergelar Amangkurat IV (1719-1726). Catatan Belanda menunjukkan bahwa Amangkurat IV banyak ditinggalkan rakyatnya. Kondisi kerajaan sangat rapuh, potensi perpecahan dan konlik  intern merebak, dan berlangsung terus menerus hingga wafatnya   Amangkurat IV.

Kondisi tersebut masih berlangsung ketika Paku Buwono II (1726-1749) memegang tampuk pemerintahan pada usia 16 tahun. Karena hal itulah Ratu Amangkurat IV yang mendukung VOC melakukan intervensi pada pemerintahannya. Sementara patihnya, Danurejo, sangat anti terhadap VOC. Sebagaimana sang ayah yang mewarisi kondisi kerajaan tidak solid, Paku Buwono II pun dirongrong oleh hutang-hutang yang harus dibayarkan kepada VOC.

Dalam masa pemerintahannya, kerajaan mengalami pergolakan besar, yaitu pemberontakan orang-orang Cina yang semula terjadi di Batavia (1740) kemudian merembet hingga Kartasura. Perang yang dikenal sebagai Geger Pacinan ini telah membuat Paku Buwono II bersama gubernur pesisir van Hohendorf harus melarikan diri ke Jawa Timur karena istana Mataram diduduki kaum pemberontak. Pada tahun 1742, VOC berhasil menyusun kekuatan dan menduduki kembali Kartasura. Namun kondisi istana sudah poranda dan tidak layak sebagai ibukota kerajaan. Ada sebuah paham Jawa mengatakan bahwa istana yang sudah diduduki musuh, tidak lagi suci sebagai ibukota. Berbekal paham tersebut dan dengan dukungan dari VOC, Paku Buwono II membangun keraton baru di sebuah desa yang bernama Sala yang kemudian dikenal dengan nama Surakarta Hadiningrat.

Harga mahal yang harus dibayar Paku Buwono II kepada VOC karena berhasil memadamkan Geger Pacinan adalah kesepakatan bahwa VOC memperoleh daerah pesisir, yaitu Madura, Sumenep dan Pamekasan. Selain itu, VOC berhak menentukan pejabat patih Mataram serta penguasa pesisir. Akibat jatuhnya pesisir ke tangan VOC, muncullah para pemberontak yang merongrong keraton Surakarta Hadiningrat. Salah satu pemberontakan yang terkenal adalah pasukan yang dipimpin Raden Mas Said (1746), keponakan Paku Buwono II. Untuk memadamkan pemberontakan itu, diadakan sayembara berupa pemberian tanah Sokawati. Dengan imingiming tersebut,  pangeran Mangkubumi, adik Paku Buwono II, mengatur strategi perang sehingga gerakan Raden Mas Said dapat ditumpas. Paku Buwono II memberikan pengampunan terhadap Raden Mas Said.

Masalah timbul ketika niat Paku Buwono II untuk menyerahkan tanah Sokawati kepada pangeran Mangkubumi dihalang-halangi oleh patihnya, Pringgalaya dan gubernur van Imhof. Menurut gubernur VOC tersebut, pangeran Mangkubumi tidak layak mendapat hadiah 4000 cacah karena seakan-akan hendak menandingi kekuasaan raja. Pangeran Mangkubumi kecewa telah dipermalukan di depan umum. Pada 19 Mei 1746, pangeran Mangkubumi memberontak pada VOC dengan keluar dari Surakarta, lalu mendiami Sokawati dengan kekuatan 2500 kavaleri (pasukan berkuda) serta 13.000 anak buah dan punggawa yang mendukungnya. Pangeran Mangkubumi melancarkan serangan kepada VOC di Grobogan, Juwana, Demak, dan Jipang (Bojonegoro). Pasukannya bertambah kuat dengan bergabungnya Raden Mas Said, sang keponakan yang sempat ditundukkannya. Sinergi antara keduanya ini bahkan hampir menguasai keraton Surakarta pada tahun 1748.

Kondisi kerajaan yang tidak stabil membuat Paku Buwono II jatuh sakit. Seakan pasrah, beliau menyerahkan Mataram kepada gubernur Baron von Hohendorf pada 11 Desember 1749. Inilah kesalahan terbesar yang dilakukan Paku Buwono II. Keputusan tersebut menyulut pangeran Mangkubumi untuk bergerak, agar dapat menarik kembali kerajaan tetap dalam pangkuan dinasti Mataram. Beliau mengangkat dirinya sebagai Paku Buwono di desa Bering, Yogyakarta pada 12 Desember 1749. Tindakan ini dilakukan sebagai langkah mendahului keponakannya yaitu putra mahkota Paku Buwono II yang baru berusia 16 tahun, yang akan dinaikkan tahta oleh VOC sebagai Sunan Paku Buwono III. Inilah babak baru periode kerajaan Mataram terbagi dua. Pangeran Mangkubumi sebagai raja didampingi Raden Mas Said sebagai patihnya. Kedua tokoh ini merupakan dwi tunggal kekuatan yang sulit ditembus VOC maupun Surakarta Hadiningrat dibawah Paku Buwono III. Sayangnya, persekutuan ini akhirnya pecah di tahun 1753 akibat benturan konlik pribadi soal tahta Mataram yang masih dipegang Paku Buwono III.

VOC yang sudah lelah dengan panjangnya peperangan, mulai menempuh jalur perundingan. Bahkan Raden Mas Said pernah menulis surat ke VOC bersedia berunding dengan syarat diangkat sebagai raja. Rupanya VOC tidak mengindahkannya, namun justru melirik pada pangeran Mangkubumi. VOC mendekatinya bahkan mengganti pejabatnya yang tidak disukai pangeran Mangkubumi dalam upaya perundingan, yaitu van Hohendorf. VOC menggantikannya dengan Nicolaas Hartingh, seorang Belanda yang sangat mengerti tata krama Jawa. Kesepakatan tercapai melalui Perjanjian Giyanti yang dilakukan pada tanggal 13 Februari 1755. Perjanjian ini menyatakan bahwa  Mataram dibagi dua. Paku Buwono III tetap bertahta di Surakarta Hadiningrat dengan kekuasaan meliputi : Ponorogo, Kediri, dan Banyumas. Sedangkan pangeran Mangkubumi yang bergelar Hamengku Buwono I bertahta di desa Bering yang lebih dikenal dengan Ngayogyakarta Hadiningrat, dengan wilayah meliputi Grobogan, Kertasana, Jipang, Japan, dan Madiun. Sementara Pacitan dibagi untuk keduanya, termasuk Kotagede dan makam kerajaan yaitu Imogiri.

Paku Buwono III yang tidak diikutkan dalam perundingan tersebut tidak dapat berbuat banyak, hanya bisa menerimanya. Sementara itu, Raden Mas Said semakin kecewa karena tidak mendapatkan kekuasaan. Oleh karena itu, dirinya semakin gencar melakukan perlawanan baik kepada Hamengku Buwono I, Paku Buwono III, dan VOC. Merasa tidak mampu menanganinya, VOC pun menawarkan jalan damai melalui perundingan Salatiga pada tahun 1757. Dalam perundingan tersebut Raden Mas Said menyatakan kesetiaannya pada raja Surakarta Hadiningrat dan VOC. Paku Buwono III memberikan tanah 4000 cacah dengan wilayah meliputi Nglaroh, Karanganyar, dan Wonogiri. Sementara, Hamengku Buwono I tidak memberikan apa-apa. Raden Mas Said dinobatkan sebagai adipati Mangkunegara I. Wilayah kekuasaannya disebut dengan Mangkunegaran.

Demikianlah kerajaan Mataram resmi terbagi dalam 3 kekuasaan yang diperintah Sunan Paku Buwono III, Sultan Hamengku Buwono I, dan Mangkunegara I. Konlik intern mulai mereda, keamanan relatif stabil. Satu kelemahan dalam kedua perundingan yang telah disepakati tersebut adalah tidak dicantumkannya hal pengganti tahta sehingga masih terbuka peluang untuk menyatukan tahta Mataram. Mangkunegara I berharap akan mendapatkan tahta Surakarta sehingga putranya, Prabu Widjojo, dinikahkan dengan putri Paku Buwono III, GKR Alit. Meskipun dari perkawinan tersebut lahir seorang putra, harapan Mangkunegara I pupus karena Paku Buwono III kemudian mempunyai putra mahkota. Kelak  putra Ratu Alit dan Prabu Widjojo bertahta sebagai Mangkunegara II. Demikian pula upaya Mangkunegara I menikah dengan GKR Bendara, putri sulung Hamengku Buwono I gagal. Hal ini disebabkan oleh  GKR Bendara menceraikannya pada tahun 1763, kemudian menikah dengan pangeran Diponegara dari Yogyakarta. Oleh karena itu, terputuslah harapan Mangkunegara I untuk merajut tahta Mataram dalam satu kekuasaan tunggal.

Peninggalan  Sejarah Kerajaan Mataram Islam

Dalam perkembangan kerajaan Mataram meninggalkan bekas-bekas peradabannya, baik dalam bentuk bangunan maupun kasusastraan. Dalam peninggalan bangunan dapat ditemukan di Surakarta maupun di Yogyakarta sendiri, peninggalan bangunan yang dapat  ditemui di Surakarta adalah Benteng Vastenburg Pasar Gedhe Hardjonagoro Rumah Sakit Kadipolo Masjid Agung Kraton Surakarta Masjid Laweyan Dalem Poerwadiningratan Taman Sriwedari dan masih banyak lagi, untuk peninggalan peninggalan sejarah kerajaan Mataram Islam di Yogyakarta dapat ditemui bangunan seperti Taman sari, banteng Vredeburg, Kota Gede, Bank Indonesia, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan masih banyak lagi. Berikut uraian singkat tentang bangunan peninggalan sejarah dari kerajaan Mataram Islam baik di Surakarta maupun di Yogyakarta.

  • Benteng Vastenburg

Di kota Surakarta terdapat bekas peninggalan kolonial Belanda yaitu Benteng Vastenburg, letak bangunan ini berada di selatan dari keraton Kasunanan Surakarta, bangunan ini dibangun oleh Gubernur Jenderal Baron van Imhoff pada tahun 1745. Bangunan benteng ini dikelilingi oleh tembok batu bata setinggi enam meter dengan konstruksi bearing wall serta parit dengan jembatan angkat sebagai penghubung. Bangunan di dalam benteng dipetak-petak untuk rumah tinggal para prajurit dengan keluarganya. Dulu sebelum bernama benteng Vastenburg bangunan ini bernama “Grootmoedigheid” dengan fungsi untuk  pertahanan rumah Gubernur Belanda juga digunakan sebagai pusat pengawasan kolonial Belanda untuk mengawasi gerak-gerik Keraton Kasunanan, Setelah kemerdekaan bangunan ini beralih fungsi sebagai kawasan militer dan asrama bagi Brigade Infanteri 6/ Trisakti Baladaya/ Kostrad.

  • Pasar Gedhe Hardjonagoro

Pasar Gedhe dulunya merupakan sebuah pasar “kecil” yang didirikan di area seluas 10.421 meter persegi, berlokasi di persimpangan jalan dari kantor gubernur yang sekarang digunakan sebagai Balaikota Surakarta. Bangunan Pasar Gedhe terdiri dari dua bangunan yang terpisah, masing masing terdiri dari dua lantai. Pintu gerbang di bangunan utama terlihat seperti atap singgasana yang bertuliskan ‘PASAR GEDHE.

Ir. Thomas Karsten adalah Arsitek Belanda yang mendesain Pasar Gede Hardjanagara dan diperkirakan pasar gede tersebut selesai pembangunannya pada tahun 1930. Arsitektur Pasar Gedhe kemudian dilakukan perpaduan antara gaya Belanda dan gaya tradisional pada tahun 1947. Sedangkan pemberian nama Pasar gede dikarenakan terdiri dari atap yang besar (Gedhe artinya besar dalam bahasa Jawa). Seiring perkembangan waktu dank arena letaknya yang berdekatan dengan Balai kota dan Keraton Kasunanan Surakarta pasar ini menjadi pasar terbesar dan termegah di Surakarta.

Abdi dalem Kraton Surakarta mula-mula adalah personil yang ditugaskan untuk memungut pajak (retribusi) di Pasar Gede yang kemudian pungutan pajak akan diberikan ke Keraton Kasunanan.pemunggutan retribusi dilakukan dengan mengenakan pakaian tradisional Jawa berupa jubah dari kain (lebar dan panjang dari bahan batik dipakai dari pinggang ke bawah), beskap (semacam kemeja), dan blangkon (topi tradisional).

Pasar Gedhe pernah mengalami kerusakan karena serangan Belanda. Dan direnovasi kembali pada tahun 1949 oleh Pemerintah Indonesia. Perbaikan atap selesai pada tahun 1981. Pemerintah Indonesia mengganti atap yang lama dengan atap dari kayu. Bangunan kedua dari pasar gedhe, digunakan untuk kantor DPU yang sekarang digunakan sebagai pasar buah.

  • Rumah Sakit Kadipolo

Pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono X didirikanlah sebuah rumah sakit. Yang kemudian dikenal dengan Rumah Sakit Kadipolo, bangunan rumah sakit tersebut memiliki luas lahan sekitar 2,5 Ha dan terletak di jalan Dr. Radjiman.

Pada mulanya bangunan ini dibangun khusus untuk poliklinik para abdi dalem kraton. Kemudian pada tahun 1948 pengolahannya diserahkan kepada Pemda Surakarta disatukan dengan pengolahan Rumah Sakit Mangkubumen dan Rumah Sakit Jebres. Perpindahan pengelolaan ini disebabkan oleh karena masalah biaya, perpindahan tersebut memiliki sarat bahwa keluarga kraton dan pegawai kraton yang dirawat di rumah sakit tersebut mendapat keringanan pembiayaan. Dan baru pada tahun 1960 pihak keraton menyerahkan Rumah Sakit Kadipolo sepenuhnya termasuk investasi bangunan berikut seluruh pegawai dan perawatnya kepada Pemda Surakarta.

Tanggal 1 Juli 1960 mulai dirintis penggabungan Rumah Sakit Kadipolo dengan Rumah Sakit Jebres dan Rumah Sakit Mangkubumen di bawah satu direktur yaitu dr. Sutedjo. Kemudian masing-masing rumah sakit mengadakan spesialisasi, RS. Jebres untuk anak-anak, RS. Kadipolo untuk penyakit dalam dan kandungan serta RS. Mangkubumen untuk korban kecelakaan. Seiring berjalannya waktu bangunan rumah sakit tersebut mengalami kerugian dan akhirnya pada tahun 1985 bangunan tersebut menjadi milik klub sepak bola Arseto sebagi tempat tingal dan mess bagi para pemain Arseto Solo. Namun kini sebagian besar bangunan dibiarkan kosong tak terawat.

  • Masjid Agung Kraton Surakarta

Masjid Ageng Karaton Surakarta Hadiningrat adalah nama resmi dari Masjid Agung Kraton Surakarta, Masjid Agung dibangun oleh Sunan Pakubuwono III tahun 1763 dan selesai pada tahun 1768. Menempati lahan seluas 19.180 meter persegi, kawasan masjid dipisahkan dari lingkungan sekitar dengan tembok pagar keliling setinggi 3,25 meter. Di masjid inilah kegiatan festival tahunan Sekaten dipusatkan.

Pada masa prakemerdekaan merupakan Masjid Agung Kerajaan (Surakarta Hadiningrat). Semua pegawai mesjid tersebut merupakan abdi dalem keraton, dengan gelar seperti Kanjeng Raden Tumenggung Penghulu Tafsiranom (penghulu) dan Lurah Muadzin.

  • Taman sari

Taman Sari Yogyakarta atau Taman Sari Keraton Yogyakarta adalah situs bekas taman atau kebun istana milik Keraton Yogyakarta, Kebun ini dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwono I (HB I) pada tahun 1758-1765/9. Taman Sari dibangun di bekas keraton lama, Pesanggrahan Garjitawati. Sebagai pimpinan proyek pembangunan Taman Sari ditunjuk lah Tumenggung Mangundipuro. Seluruh biaya pembangunan ditanggung oleh Bupati Madiun, Tumenggung Prawirosentiko, besrta seluruh rakyatnya. Oleh karena itu daerah Madiun dibebaskan dari pungutan pajak. Di tengah pembangunan pimpinan proyek diambil alih oleh Pangeran Notokusumo, setelah Mangundipuro mengundurkan diri. Walaupun secara resmi sebagai kebun kerajaan, namun bebrapa bangunan yang ada mengindikasikan Taman Sari berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir jika istana diserang oleh musuh.

Taman yang mendapat sebutan “he Fragrant Garden” ini memiliki luas lebih dari 10 hektare dengan sekitar 57 bangunan antara lain berupa gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, maupun danau buatan beserta pulau buatan dan lorong bawah air. Kebun dalam Taman Sari yang membentang dari barat daya kompleks Kedhaton sampai tenggara kompleks Magangan digunakan secara efektif hanya antara 1765-1812. Namun saat ini, sisa-sisa bagian Taman Sari yang dapat dilihat hanyalah yang berada di barat daya kompleks Kedhaton saja. Dulunya kebun tersebut memiliki keindahan dan dapat dibandingkan dengan Kebun Raya Bogor sebagai kebun Istana Bogor.

  • Benteng Vredeburg

Museum Benteng Vredeburg adalah sebuah benteng yang terletak di depan Gedung Agung dan istana Kesultanan Yogyakarta. Sejarah berdiri Benteng Vredeburg Yogyakarta terkait erat dengan lahirnya Kasultanan Yogyakarta. Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755 yang berhasil menyelesaikan perseteruan antara Susuhunan Pakubuwono III dengan Pangeran Mangkubumi yang menjadi Sultan Hamengku Buwono I kelak adalah merupakan hasil politik Belanda yang selalu ingin ikut campur urusan dalam negeri raja-raja Jawa waktu itu.

Melihat kemajuan yang sangat pesat akan keraton yang didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I, rasa kekhawatiran dari pihak Belanda mulai muncul. Pihak Belanda mulai mendekati sultan dan mengusulkan kepada sultan agar diijinkan membangun sebuah benteng di dekat kraton. dengan dalih agar Belanda dapat menjaga keamanan kraton dan sekitarnya. Akan tetapi dibalik dalih tersebut maksud Belanda sebenarnya adalah untuk memudahkan dalam mengontrol segala perkembangan yang terjadi di dalam kraton. Besarnya kekuatan yang tersembunyi dibalik kontrak politik yang dilahirkan dalam setiap perjanjian dengan pihak Belanda seakan-akan menjadi kekuatan yang sulit dilawan oleh setiap pemimpin pribumi pada masa kolonial Belanda. Dalam hal ini termasuk pula Sri Sultan Hamengku Buwono I. Oleh karena itu permohonan izin Belanda untuk membangun benteng dikabulkan.

Letak benteng yang hanya satu jarak tembak meriam dari kraton dan lokasinya yang menghadap ke jalan utama menuju kraton menjadi indikasi bahwa fungsi benteng dapat dimanfaatkan sebagai benteng strategi, intimidasi, penyerangan dan blokade. Dapat dikatakan bahwa berdirinya benteng tersebut dimaksudkan untuk berjaga-jaga mengantisipasi apabila sewaktu-waktu Sultan memalingkan muka memusuhi Belanda.

  • Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 Sultan Hamengku Buwono I membangun Keraton Yogyakarta. Sebelum membangun dan pada akhirnya menempati Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman.

Lokasi tempat keraton ini didirikan konon adalah bekas sebuah pesanggarahan yang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini dulunya digunakan untuk istirahat iringiringan jenazah raja-raja Mataram yang akan dimakamkan di Imogiri, waktu itu Mataram masih di Kartasura dan Surakarta saja. Sedangkan dari versi lain menyebutkan lokasi keraton Yogyakarta merupakan sebuah mata air, Umbul Pacethokan, yang ada di tengah hutan Beringan.

Secara isik istana para Sultan Yogyakarta memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan  Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan). pada tahun 1995 Komplek Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dicalonkan untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO karena selain memiliki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah Keraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku adatnya. Dengan nilai-nilai ilosoi yang masih dipangku dengan sungguh-sungguh oleh penghuni dalam keraton, belum lagi dengan mitologi-mitologi yang menyelubungi dalam Keraton Yogyakarta yang membuat masyarakat tetap mengenal tentang kearifan lokal mereka.

  • Kasusastraan

Pada masa Paku Buwono II, di istana Surakarta terdapat seorang pujangga bernama Yasadipura I (1729-1803). Yasadipura I dipandang sebagai sastrawan besar Jawa. Ia menulis empat buku klasik yang disadur dari bahasa Jawa Kuno (Kawi), yakni Serat Rama, Serat Bharatyudha, Serat Mintaraga, serta Arjuna Sastrabahu. Selain menyadur sastra-sastra Hindu-Jawa, Yasadipura I juga menyadur sastra Melayu, yakni Hikayat Amir Hamzah yang digubah menjadi Serat Menak. Ia pun menerjemahkan Dewa Ruci dan Serat Nitisastra Kakawin. Untuk kepentingan Kasultanan Surakarta, ia menerjemahkan Taj al-Salatin ke dalam bahasa Jawa menjadi Serat Tajusalatin serta Anbiya. Selain buku keagamaan dan sastra, ia pun menulis naskah bersifat kesejarahan secara cermat, yaitu Serat Cabolek dan Babad Giyanti.

You also like

Kerajaan Perlak

Kerajaan Perlak

Sejarah Berdirinya Kerajaan Perlak Perlak yang terletak di Aceh Timur disebut sebagai kerajaan Islam pertama (tertua) di Nusantara,…
Sejarah Kerajaan Tidore

Sejarah Kerajaan Tidore

Sejarah Berdirinya Kerajaan Tidore Tidore merupakan salah satu pulau kecil yang terdapat di gugusan kepulauan Maluku Utara, yang…
Sejarah Kesultanan Gowa

Sejarah Kesultanan Gowa

Gowa, atau dikenal sebagai Goa adalah sebuah kerajaan yang terletak di daerah Sulawesi Selatan. Apabila membicarakan Kerajaan Gowa…
Sejarah Kerajaan Siak

Sejarah Kerajaan Siak

Sejarah Berdirinya Kerajaan Siak Membandingkan dengan catatan Tomé Pires yang ditulis antara tahun 1513-1515, Siak adalah kawasan yang berada…
Sejarah Kerajaan Cirebon

Sejarah Kerajaan Cirebon

Sejarah Berdirinya Kerajaan Cirebon Cirebon adalah salah satu kota besar yang ada di provinsi Jawa Barat. Cirebon mempunyai…
Sejarah Kerajaan Makasar

Sejarah Karajaan Makassar

Sejarah Berdiri Kerajaan Makassar Sulawesi selatan adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki catatan sejarah tentang kerajaan…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Shopping Cart

No products in the cart.

Return to shop

Nama Toko

Selamat datang di Toko Kami. Kami siap membantu semua kebutuhan Anda

Selamat datang, ada yang bisa Saya bantu