Home » Blog » Sejarah Karajaan Makassar

Sejarah Karajaan Makassar

Sejarah Kerajaan Makasar

Sejarah Berdiri Kerajaan Makassar

Sulawesi selatan adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki catatan sejarah tentang kerajaan Islam kuno, cerita tentang keberanian rakyat Makassar atau suku Bugis, atau tentang sosok Sultan Hasanuddin yang begitu disegani oleh Belanda, sehingga tidak salah jika Belanda memberikan julukan De Haantjes van Het Oosten atau Si Ayam Jantan dari Timur. Lahirnya kehidupan besar di Sulawesi Selatan tidak lepas dari geograis daerah Sulawesi Selatan itu sendiri yang memiliki posisi yang sangat strategis, karena letaknya yang berada di jalur pelayaran perdagangan Nusantara, sebuah posisi antara perjalanan dari Jawa untuk menuju ke Maluku ataupun Manila, sebuah tempat transit yang berada antara sumber dagang dan tempat Bandar-bandar besar di Jawa, Makassar pun menjadi pusat persinggahan para pedagang baik yang berasal dari Indonesia bagian Timur maupun yang berasal dari Indonesia bagian Barat.

Dengan posisi strategis tersebut maka kerajaan Makassar cepat berkembang menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas jalur perdagangan Nusantara.

Di Sulawesi Selatan terdapat salah satu kerajaan Islam terbesar, yaitu kerajaan Makassar, kerajaan yang merupakan ailiasi dari kerajaan Gowa dan Tallo, sebelum bahas lebih jauh tentang kerajaan Makassar maka alangkah lebih baiknya kita membahas kerajaan Gowa dan Tallo yang pada akhirnya nanti akan menjadi kesatuan dan membentuk kerjaan Makassar. Kesultanan Gowa atau kadang ditulis Goa, pada awalnya di daerah Gowa terdapat sembilan komunitas, yang dikenal dengan nama Bate Salapang atau Sembilan Bendera, yang kemudian menjadi pusat kerajaan Gowa: Tombolo, Lakiung, ParangParang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero dan Kalili. Melalui berbagai cara, baik damai maupun paksaan, komunitas lainnya bergabung untuk membentuk Kerajaan Gowa. Cerita dari pendahulu di Gowa dimulai oleh Tumanurung sebagai pendiri Istana Gowa, tetapi tradisi Makassar lain menyebutkan empat orang yang mendahului datangnya Tumanurung, dua orang pertama adalah Batara Guru dan saudaranya.

Menurut mitologi awal mula kerajaan Gowa diceritakan sebagai berikut, mula-mula sebelum kedatangan Tomanurung di suatu wilayah yang nantinya akan menjadi bagian dari kerajaan Gowa, sudah terbentuk sembilan pemerintahan otonom yang disebut dengan Bate Selapang atau Kasuwiyang Salapang yang merupakan gabungan atau federasi dari suatu kelompok. Kesembilan nama pemerintahan otonom tersebut adalah Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agang Jekne, Bissei, Kalling dan Serro. Pada mulanya kesembilan pemerintahan otonom tersebut hidup berdampingan dengan damai, namun seiring dengan berjalannya waktu munculah perselisihan dan persaingan karena adanya kecenderugnan untuk menunjukkan siapa yang lebih perkasa dan siapa yang paling banyak melakukan ekspansi kedaerah-daerah. Hingga akhirnya karena dirasakan berdampak buruk pada hubungan yang sudah terjalin lama, maka disepakatilah untuk mengatasi perselisihan ini, kesembilan pemerintahan otonom tersebut kemudian sepakat untuk memilih seorang menjadi pemimpin di antara mereka. Pemimpin yang akan memimpin mereka diberi gelar Paccallaya. Setelah adanya Paccalaya yang menjadi pemimpin ditengahtengah mereka pun ternyata tidak membuat rivalitas dalam menunjukkan siapa diantara mereka yang paling hebat berakhir, karena masing-masing wilayah berambisi untuk menjadi ketua Bate Selapang.

Pada saat terjadi keributan antara kesembilan daerah tersebut, tersiarlah kabar bahwa di suatu tempat yang bernama Taka Bassia di Bukit Tamalate, muncul seorang putri yang memancarkan cahaya dengan memakai dokoh yang indah. Mendengar adanya kabar tersebut, Paccallaya dan Bate Salapang bergegas mendatangi tempat itu, alkisah kedua orang tersebut setelah sampai ditujuan tidak mendapati putri tersebut, kemudian mereka melihat sebuah cahaya di bukit Tamalame, mereka kemudian duduk tafakkur mengelilingi cahaya tersebut. Lama-kelamaan, cahaya tersebut menjelma menjadi wanita cantik yang tak lain adalah putri yang mereka cari, seorang putri yang tidak diketahui nama dan asal-usulnya.

Oleh karena itu, mereka akhirnya sepakat untuk menyebutnya dengan Tomanurung. Lalu, Paccallaya bersama Bate  Salapang berkata pada Tomanurung tersebut, “kami semua datang kemari untuk mengangkat engkau menjadi raja kami, sudilah engkau menetap di negeri kami dan sombaku lah yang merajai kami”. Oleh Tomanurung permohonan mereka dikabulkan, Paccallaya bangkit dan berseru, “Sombai Karaeng Nu To Gowa” yang artinya kurang lebih adalah sembahlah rajamu wahai orang-orang Gowa.

Tidak lama kemudian datanglah dua orang pemuda yang bernama Karaeng Bayo dan Laki Padada, masing-masing membawa sebilah kelewang. Paccallaya dan kasuwiyang  yang masih bersama Tomanurung kemudian mengutarakan maksud dan tujuan mereka dengan menghadirkan kedua pemuda tersebut, yaitu agar Karaeng Bayo dan Tomanurung dapat dinikahkan dengan harapan keturunan mereka bisa melanjutkan pemerintahan kerajaan Gowa. Kemudian semua pihak di situ membuat suatu ikrar yang pada intinya mengatur tentang hak, wewenang dan kewajiban orang yang memerintah dan diperintah. Ketentuan tersebut berjalan hingga saat Tomanurung dan Karaeng Bayo menghilang, yaitu pada saat Tumassalangga Baraya lahir. Tumassalangga Baraya adalah anak tunggal dari Tomanurung dan Karaeng Bayo.

Tumassalangga Baraya inilah yang selanjutnya mewarisi kerajaan Gowa. Hingga berjalannya waktu kerajaan Gowa mencapai puncak keemasannya pada abad ke XVI yang pada saat itu lebih populer dengan sebutan kerajaan kembar “Gowa-Tallo” atau disebut pula dengan zusterstaten (kerajaan bersaudara) oleh Belanda. Dimulainya menjadi kerajaan Dwi-Tunggal ini pada masa pemerintahan Raja Gowa IX, Karaeng Tumaparissi Klonna (1510-1545), dan persatuan kekuatan kedua kerajaan ini sangat sulit dipisahkan karena kedua kerajaan telah menyatakan ikrar untuk saling bersama, ikrar tersebut terkenal dalam pribahasa “Rua Karaeng Na Se’re Ata” yang artinya “Dua Raja tetapai satu rakyat”. Semakin berkembang kerajaan tersebut di daerah Makassar akhirnya kesatuan dua kerajaan itu disebut dinamai Kerajaan Makassar.

Gowa merupakan kerajaan terbesar setelah Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit yang pernah berdiri dan berkuasa di wilayah nusantara. Pernyataan tersebut didasarkan pada faktafakta sejarah yang ada. Kerajaan Gowa diperkirakan sudah berdiri sejak awal abad ke-13 M, di mana masyarakat dan penguasa Kerajaan Gowa menganut kepercayaan animisme. Seiring dengan berkembangnya Gowa menjadi pusat perdagangan di kawasan timur nusantara, para saudagar Muslim mulai berniaga ke wilayah itu. Perlahan tapi pasti, interaksi yang cukup sering antara pedagang Arab dan Pribumi membuat pengetahuan tentang agama Islam secara perlahan mulai dipahami oleh pribumi sampai akhirnya ajaran Islam pun mulai bersemi di daerah kekuasaan Kerajaan Gowa.

Dari sudut pandang terminologi, belum ada kesempatan (konsensus) arti kata Gowa yang menjelaskan secara utuh asal-usul kata serapan Gowa. Arti yang ada hanyalah asumsi dan perkiraan antara lain: pertama, kata Gowa berasal dari “goari”, yang berarti kamar atau bilik/ perhimpun; kedua, berasal dari kata “gua”, yang berarti liang yang berkait dengan tempat kemunculan awal Tomanurung ri Gowa (Raja Gowa I) di gua/perbukitan Taka Bassia, Tamalate (dalam bahasa Makassar artinya tidak layu) yang kemudian secara politik kata Gowa dipakai untuk mengintegrasikan kesembilan kasuwiang (Bate Salapang) yang bersifat federasidi bawah paccallaya, yang kemudian menjadi kekuasaan tunggal Tomanurung, sehingga leburlah Bate Salapang menjadi Kerajaan “Gowa” yang diperkirakan berdiri pada abad XIII(1320).

Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan sendiri dilakukan oleh Datuk Ri Bandang yang berasal dari Sumatera. Sampai akhirnya pada abad 17 agama Islam sudah berkembang pesat di Sulawesi Selatan. Kala itu, agama Islam ternyata tak hanya menarik minat masyarakat tapi juga para penguasa kerajaan. Menurut Ensiklopedi Islam (diterbitkan oleh penerbit Ichtiar Baru Van Hoeve), penguasa Gowa pertama yang memeluk Islam adalah I Manga’rangi Daeng Manra’bia (raja Gowa ke-14) dengan gelar Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna (1593-1639 M) yang kemudian diikuti oleh Raja Tallo Daeng Manrabia yang bergelar Sultan Abdullah.

Sejak 1605 M (8 tahun setelah Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna menjabat sebagai raja Kerajaan Gowa), Islam dijadikan sebagai agama resmi dan akhirnya Kerajaan Gowa bermetamorfosis menjadi sebuah kesultanan. Setelah Sultan Alauddin wafat pada 1639, tahta Kesultanan Gowa dilajutkan oleh I Mannuntungi Daeng Mattola yang bergelar Sultan Malikussaid. Sultan Malikussaid merupakan penguasa Gowa ke-15. Ia wafat pada 1653 setelah memerintah selama 14 tahun (1639-1653).

Di samping Kerajaan Tallo, Bone, Sopeng, Wajo dan Sidenreng yang berdiri di daerah Sulawesi Selatan, Kerajaan Gowa adalah salah satu kerajaan besar dan paling sukses yang terdapat di daerah Sulawesi Selatan pada abad ke 16. Mayoritas rakyat dari kerajaan Gowa berasal dari Suku Makassar yang berdiam di ujung selatan dan pesisir barat Sulawesi. Dari sejumlah kerajaan itu, akhirnya kerajaan Gowa dan Tallo membentuk persekutuan pada tahun 1528, yang pada akhirnya melahirkan kerajaan yang lebih dikenal dengan nama Kerajaan Makassar dengan raja yang paling terkenal adalah Sultan Hasanuddin.

Istana Kerajaan Gowa
Istana Kerajaan Gowa

Masa Perkembangan Kerajaan Gowa Tallo

Kehidupan Ekonomi

Kerajaan Makassar merupakan kerajaan maritim yang berkembang sebagai pusat perdagangan di Indonesia bagian Timur. Selain karena ditunjang oleh letaknya yang strategis, juga karena Kerajaan Makassar memiliki pelabuhan yang baik serta didukung oleh jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 yang menyebabkan banyak pedagang pindah ke Indonesia Timur.

Dengan banyaknya bandar dagang di sana, Makassar kemudian berkembang sebagai pelabuhan internasional yang banyak disinggahi oleh pedagang-pedagang asing seperti Portugis, Inggris, Denmark dan sebagainya yang datang untuk berdagang di Makassar.

Pelayaran dan perdagangan di Makassar diatur berdasarkan hukum niaga yang disebut dengan Ade’ Aloping Loping Bicaranna Pabbalue. Dengan adanya hukum niaga tersebut, diharapkan perdagangan di Makassar menjadi teratur dan mengalami perkembangan yang pesat. Selain perdagangan, Makassar juga mengembangkan kegiatan pertanian karena Makassar juga menguasai daerah-daerah yang subur di bagian Timur Sulawesi Selatan.

Kehidupan Sosial Budaya

Kerajaan Makassar dikenal sebagai negara Maritim, dikarenakan sebagian besar penduduk masyarakat Makassar hidup tergantung oleh laut menjadi nelayan dan pedagang antar pulau. Para penduduk Makassar ini begitu giat berusaha untuk meningkatkan taraf kehidupannya, dan tidak sedikit sebagian dari penduduk yang merantau untuk menambah kemakmuran hidupnya, hal ini biasanya terjadi pada masyarakat yang hidup di daerah dalam yang tanahnya tidak subur.

Sejak Kerajaan Makassar menjadi pusat perdagangan laut internasional, kerajaan ini mulai menjalin hubungan dengan Ternate yang sebelumnya sudah menerima ajaran agama Islam dari Gresik di Jawa Timur. Raja Ternate saat itu Baabullah mengajak raja Makassar untuk ikut memeuluk agama Islam, tetapi usaha raja Ternate tersebut gagal. Baru ketika Raja Datu Ri Bandang datang ke Kerajaan Gowa Tallo agama Islam mulai masuk dan berkembang di kerajaan ini. Setahun kemudian dengan cepat hampir seluruh penduduk Gowa Tallo memeluk agama  Islam. Sedangkan Mubaligh yang berjasa membantu dalam menyebarkan Islam di kerajaan Makassar adalah Abdul Qodir Khotib Tunggal yang berasal dari Minangkabau.

Pengaruh Islamnya raja Makassar sangat berdampak besar dalam peranan tersebarnya agama Islam, dengan Islamnya raja maka bukan rakyat saja yang terpengaruh untuk memeluk agama Islam tetapi kerajaan-kerajaan disekitarnya juga mengikuti untuk masuk agama Islam, seperti kerajaan Luwu, Wajo, Soppeg, dan Bone. Kerajaan-kerajaan tersebut mulai menerima Islam pada tahun 1610 M. Raja Bone yang pertama mememluk agama Islam bergelar dengan Sultan Adam.

Dalam kehidupannya masyarakat Makassar sangat terikat dengan norma adat yang mereka anggap sakral. Norma kehidupan masyarakat Makassar diatur berdasarkan adat dan agama Islam yang disebut Pangadakkang. Dan masyarakat Makassar sangat percaya terhadap norma-norma tersebut. Walaupun demikian tidak menghalangi mereka untuk memiliki kebebasan berusaha dalam mencapai kesejahteraan hidupnya.

Masyarakat Makassar juga mengenal pelapisan sosial dalam kehidupannya, lapisan masyarakat ini terdiri dari lapisan atas yang merupakan golongan bangsawan dan keluarganya disebut dengan “Anakarung/ Karaeng”, sedangkan rakyat kebanyakan disebut “to Maradeka” sedangkan masyarakat lapisan bawah adalah para hamba-sahaya disebut dengan golongan “Ata”.

Dari segi kebudayaan, masyarakat Makassar banyak menghasilkan benda-benda budaya yang berkaitan dengan dunia pelayaran hal ini disebabkan bahwa kerajaan Makassar merupakan kerajaan Maritim. Hasil kebudayaan dalam dunia pelayaran ini disebutkan bahwa masyarakat Makassar terkenal sebagai pembuat kapal, merancang kapal. dan jenis kapal yang dibuat oleh orang Makassar dikenal dengan sebutan Pinisi dan Lombo. Kapal Pinisi dan Lombo adalah kebanggaan dari rakyat Makassar dan terkenal hingga ke mancanegara karena keunikan dan diakui sebagai salah satu model kapal modern pada jamannya.

Kehidupan Politik Dan Masa Kemunduran kerajaan

Gowa -Tallo

Kejayaan Kerajaan Gowa tidak terlepas dari peran yang dimainkan oleh Karaeng Patingalloang, memiliki nama lengkap I Mangadicinna Daeng Sitaba Sultan Mahmud, putra Raja Tallo VII, Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Matowaya. Karaeng Patingalloang adalah seorang Mangkubumi Kerajaan yang berkuasa tahun 1639-1654. Sewaktu Raja Tallo I Mappaijo Daeng Manyuru diangkat menjadi raja Tallo, usianya baru menginjak satu tahun. untuk sementara diangkatlah Karaeng Pattingalloang untuk menjalankan kekuasaan sampai I Mappoijo cukup usia. Oleh karena itu dalam beberapa catatan disebutkan bahwa Karaeng Pattingalloang termasuk dalam silsilah raja Tallo sebagai Raja Tallo IX.

Karaeng Pattingalloang diangkat menjadi sebagai Mengkubumi Kerajaan Gowa-Tallo pada tahun 1639-1654, mendampingi Sultan Malikus said, yang memerintah pada tahun 1639-1653. Karaeng Pattingalloang, dilantik menjadi Tumabbicara Butta Kerajaan pada hari Sabtu, tanggal 18 Juni 1639. Jabatan itu didapatkannya setelah ia menggantikan ayahnya Karaeng Matowaya.

Pada saat Karaeng Pattingalloang menjabat sebagai Mangkubumi, Karajaan Makassar telah menjadi sebuah kerajaan terkenal dan banyak mengundang perhatian negerinegeri lainnya. Karaeng Pattingalloang adalah putra Gowa yang kepandaiannya atau kecakapannya melebihi orang-orang Bugis Makassar pada umumnya. Dalam usia yang relatif muda 18 tahun Karaeng Pattingalloang telah menguasai banyak bahasa, di antaranya bahasa Latin, Yunani, Itali, Perancis, Belanda, Arab, dan beberapa bahasa lainnya. Selain mampu menguasai bahasa asing Karaeng Pattingalloang juga memperdalam ilmu falak. Hingga sampai pemerintah Belanda melalui wakil wakilnya di Batavia menghadiahkan sebuah bola dunia (globe) yang khusus dibuat di negeri Belanda pada tahun 1652, yang diperkirakan harga globe tersebut sampai f 12.000.

Karaeng Pattingolloang adalah juga seorang pengusaha internasional, beliau bersama dengan Sultan Malikussaid berkongsi dengan beberapa para pengusaha besar Pedero La Matta, dengan konsultan dagang Spanyol di Bandar Somba Opu, serta dengan seorang pelaut ulung Portugis yang bernama Fransisco Viera dengan Figheiro. Dalam perdagangan di dalam negeri. Karaeng Pattingalloang berhasil mengembangkan/ meningkatkan perekonomian perdagangan Kerajaan Gowa. Dengan banyaknya barang yang diperjualbelikan dikota Raya Somba Opu, antara lain kain sutra, keramik Cina, kain katun India, kayu Cendana Timor, rempah-rempah Maluku, dan Intan Berlian Borneo.

Para pedagang Eropa yang datang ke Makassar biasanya membawakan buah tangan kepada para pembesar dan bangsawan-bangsawan di Kerajaan Gowa. Buah tangan itu kerap juga disesuaikan dengan pesanan yang dititipkan ketika para pedagang Eropa kembali ketempat asalnya. Pada saat diminta buah tangan apa yang Karaeng Pattingalloang inginkan, Karaeng Pattingalloang menjawab bahwa yang diinginkannya adalah buku. Darisitulah tidak mengherankan jika Karaeng Pattingalloang memiliki banyak koleksi buku dari berbagai bahasa.

Karaeng Pattingalloang merupakan cendikiawan yang dimiliki oleh Kerajaan Makassar. Kecendikiawanannya ia dapatkan karena begitu besar rasa peduli terhadap ilmu pengetahuan, bahkan sampai seorang penyair berkebangsaan Belanda yang bersama Joost van den Vondel, sangat memuji kecendikiawan dari Karaeng Pattingalloang dan membahasakannya dalam sebuah syair sebagai berikut:

“Wiens aldoor snufelende brein

  Een gansche werelt valt te klein”

  Yang artinya sebagai berikut:

 “Orang yang pikirannya selalu dan terus menerus mencari sehingga seluruh dunia rasanya terlalu sempit baginya”.

Karaeng Pattingalloang yang saat itu tampil sebagai seorang cendekiawan dan negarawan di masanya. Bahkan sebelum beliau meninggal dunia, beliau meninggalkan pesan untuk generasi yang ditinggalkan antara lain sebagai berikut:

Ada lima hal yang menyebabkan runtuhnya suatu kerajaan besar, yaitu:

  1. Punna taenamo naero nipakainga’ Karaeng Mangguka,
  2. Punna taenamo tumanggngaseng ri lalang Pa’rasangnga,
  3. Punna taenamo gau lompo ri lalang Pa’rasanganga,
  4. Punna angngallengasemmi soso’ Pabbicaraya, dan
  5. Punna taenamo nakamaseyangi atanna Mangguka.

Yang artinya sebagai berikut :

  1. Apabila raja yang memerintah tidak mau lagi dinasehati atau diperingati,
  2. Apabila tidak ada lagi kaum cerdik cendikia di dalam negeri,
  3. Apabila sudah terlampau banyak kasus-kasus di dalam negeri,
  4. Apabila sudah banyak hakim dan pejabat kerajaan suka makan sogok, dan
  5. Apabila raja yang memerintah tidak lagi menyayangi rakyatnya.

Karaeng Pattingalloang meninggal pada tanggal 17 September 1654 di Kampung Bonto biraeng. Sebelum meninggal Karaeng Pattingalloang telah mempersiapkan sekitar 500 buah kapal yang setiap kapal dapat memuat 50 awak untuk menyerang Ambon. Beliau wafat ketika ikut dalam barisan Sultan Hasanuddin melawan Belanda. Setelah wafatnya, ia kemudian mendapat sebutan “Tumenanga ri Bonto Biraeng”.

Kerajaan Makassar mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Hasannudin (1653 – 1669 M). Pada masa pemerintahannya, Makassar berhasil memperluas wilayah kekuasaannya dengan menguasai daerah-daerah subur serta daerah-daerah yang dapat menunjang keperluan perdagangan Makassar. Perluasan daerah Makassar tersebut bahkan sampai ke Nusa Tenggara Barat dan hampir menguasai seluruh jalur perdagangan di Indonesia Timur.

Sultan Hasannudin adalah sosok raja yang sangat anti kepada dominasi asing. Oleh karena itu, ia menentang kehadiran dan monopoli yang dipaksakan oleh VOC yang kala itu sudah berkuasa di Ambon. Kebencian Sultan Hasanuddin ini dengan sendirinya menjadi pemutus hubungan antara Batavia (pusat kekuasaan VOC di Hindia Timur) dan Ambon. Kondisi ini pun akhirnya memunculkan pertentangan antara Sultan Hasannudin dengan VOC yang pada akhirnya melahirkan peperangan yang terjadi di daerah Maluku.

Dalam peperangan tersebut, Sultan Hasannudin memimpin langsung pasukannya dan berhasil memporakporandakan pasukan Belanda di Maluku. Menyadari kedudukannya semakin terdesak, Belanda yang berupaya untuk mengakhiri peperangan itu akhirnya mencoba melakukan politik adu-domba antara Makassar dengan Kerajaan Bone (daerah kekuasaan Makassar). Raja Bone yaitu Aru Palaka yang merasa dijajah oleh Makassar akhirnya bersekutu dengan VOC untuk menghancurkan Makassar. Perang inilah yang kemudian dikenal dengan nama Perang Makassar (1666-1669).

Politik adu-domba yang dijalankan Belanda ini terbukti ampuh. Sebab akibat dari persekutuan itu Belanda akhirnya bisa menguasai ibu kota Kerajaan Makassar. Secara terpaksa, Kerajaan Makassar pun harus mengakui kekalahannya dan menandatangani perjanjian Bongaya tahun 1667 yang isinya sangat merugikan kerajaan Makassar. Adapun isi dari perjanjian Bongaya itu di antaranya adalah:

  1. VOC memperoleh hak monopoli perdagangan di Makassar,
  2. Belanda dapat mendirikan benteng di Makassar,
  3. Makassar harus melepaskan daerah-daerah jajahannya seperti Bone dan pulau-pulau di luar Makassar,
  4. Aru Palaka diakui sebagai raja Bone, dan lain-lain.

Walaupun perjanjian sudah dibuat, tapi perlawanan Makassar terhadap Belanda tetap berlangsung. Berselang dua hari setelah perjanjian Bongaya, Sultan Hasanuddin menyerahkan tahta kekuasaannya kepada putra mahkotanya yang masih sangat belia yaitu Mapasomba yang bergelar Sultan Amir Hamzah. Meski terbilang masih muda (13 tahun), tapi semangat juang Mapasomba untuk mengusir penjajah tidaklah kecil. Dengan semangat yang diturunkan sang ayah, Sultan Amir Hamzah meneruskan perlawanan melawan Belanda.

Belum lama memerintah menggantikan ayahnya, Sultan Amir Hamzah wafat pada 7 Mei 1674 dan digantikan oleh saudaranya, I Mappaossong Daeng Mangewai Karaeng Bisei yang bergelar Sultan Ali. Sultan Ali hanya berkuasa selama tiga tahun (16741677).

Sesudah mengalami kekalahan hebat pada 1669, rajaraja Gowa sesudah masa pemerintahan Sultan Hasanuddin bukanlah raja-raja yang merdeka dalam penentuan politik kenegaraan. Mereka juga tidak lagi mempunyai kekuatan tentara maupun armada kapal. Sejak saat itu, kekuasaan Belanda mulai dipusatkan di Kota Makassar. Untuk menghadapi perlawanan rakyat Makassar, Belanda mengerahkan pasukannya secara besarbesaran. Akhirnya Belanda dapat menguasai sepenuhnya kerajaan Makassar, dan Makassar pun mengalami kehancurannya.

Salah satu peninggalan sejarah kerajaan Gowa-Tallo yang menjadi ikon sejarah kota Makassar adalah Benteng Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) yang sekarang lebih dikenal dikenal dengan nama Benteng Makassar.. Benteng Rotterdam dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yaitu I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ Kallonna.

Sebelumnya dibangunnya benteng ini menggunakan bahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin, konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang diambil dari Pegunungan Karst di daerah Maros. Kalau dilihat dari atas, arsitektur benteng ini mirip seperti seekor penyu (panynyua) yang seolah merangkak menuju ke lautan di sebelah baratnya. Adapun secara ilosois, bentuk penyu ini merupakan simbol bahwa Kerajaan Gowa yang mampu berjaya di daratan maupun di lautan, seperti halnya penyu yang dapat hidup di darat maupun di laut.

Namun pada tahun 1667, dalam Perjanjian Bongaya sebagaimana sudah disinggung di atas,  salah satu isinya adalah mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Oleh gubernur Hindia Belanda saat itu, Cornelis Speelman, nama benteng itu kemudian diubah menjadi Fort Rotterdam (dengan maksud untuk mengenang daerah kelahirannya di Rotterdam, Belanda) dan penggunaannya dialihfungsikan menjadi tempat penyimpanan rempah-rempah sebelum dikirim ke Eropa.

Dalam kompleks Benteng Rotterdam itu terdapat 13 bangunan yang masih berdiri kokoh. Salah satu bangunan itu kemudian digunakan sebagai Museum La Galigo yang menampung banyak referensi tentang sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya di Sulawesi Selatan. Selain itu, ada juga tempat yang digunakan sebagai ruang tahanan Pangeran Diponegoro pada tahun 1834 oleh Belanda.

Peninggalan lain dari Kerajaan Makassar adalah Mesjid Katangka yang didirikan pada tahun 1605 M. Masjid Katangka ini sudah mengalami beberapa kali pemugaran sejak pertama kali berdiri. Pemugaran itu berturut-turut dilakukan oleh Sultan Mahmud (1818), Kadi Ibrahim (1921), Haji Mansur Daeng

Limpo, Kadi Gowa (1948), dan Andi Baso, Pabbicarabutta Gowa (1962)  sangat sulit mengidentiikasi bagian paling awal atau bentuk asli bangunan mesjid tertua Kerajaan Gowa ini. Di RK 4 Lingkungan Tallo, Kecamatan Tallo, Kota Madya Ujungpandang terdapat Makam raja-raja.???

Tallo adalah sebuah kompleks makam kuno yang dipakai sejak abad XVII sampai abad XIX M. Lokasi makam ini terletak di pinggir barat muara sungai Tallo atau di sudut timur laut dalam wilayah benteng Tallo. Berdasarkan basil penggalian (excavation) yang dilakukan oleh lembaga Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala sejak 1976 sampai 1982, ditemukan gejala bahwa komplek makam itu memiliki struktur tumpangtindih. Sejumlah makam terletak di atas fondasi bangunan dan kadang ditemukan fondasi di atas bangunan makam.

Kompleks makam raja-raja Tallo ini sebagian ditempatkan di dalam bangunan kubah, jirat semu  dan sebagian tanpa bangunan pelindung: Jirat semu dibuat dan balok¬balok hamparan pasir. Bangunan kubah yang berasal dari pasir ternyata memiliki keawetan dengan kurun waktu yang lebih cepat, kemudian dibuat dari batu bata. Penempatan balok batu pasir itu semula tanpa mempergunakan perekat. Perekat digunakan Proyek Pemugaran. Bentuk bangunan jirat dan kubah pada kompleks ini kurang lebih serupa dengan bangunan jirat dan kubah dari kompleks makam Tamalate, Aru Pallaka, dan Katangka. Pada kompleks ini bentuk makam dominan berciri abad XII Masehi.

You also like

Kerajaan Perlak

Kerajaan Perlak

Sejarah Berdirinya Kerajaan Perlak Perlak yang terletak di Aceh Timur disebut sebagai kerajaan Islam pertama (tertua) di Nusantara,…
Hasil Peradaban Mongol Masa Islam

Perang Salib dalam Lintasan Sejarah

Perang Salib adalah perang agama yang terjadi selama hampir tiga abad sebagai reaksi umat Kristen di Eropa terhadap…
Sejarah Kerajaan Tidore

Sejarah Kerajaan Tidore

Sejarah Berdirinya Kerajaan Tidore Tidore merupakan salah satu pulau kecil yang terdapat di gugusan kepulauan Maluku Utara, yang…
Sejarah Kesultanan Gowa

Sejarah Kesultanan Gowa

Gowa, atau dikenal sebagai Goa adalah sebuah kerajaan yang terletak di daerah Sulawesi Selatan. Apabila membicarakan Kerajaan Gowa…
Sejarah Kerajaan Siak

Sejarah Kerajaan Siak

Sejarah Berdirinya Kerajaan Siak Membandingkan dengan catatan Tomé Pires yang ditulis antara tahun 1513-1515, Siak adalah kawasan yang berada…
Sejarah Kerajaan Mataram

Kerajaan Mataram Islam

Asal Usul Kerajaan Mataram Islam Kerajaan Mataram berdiri pada tahun 1582 dan berpusat di Kotagede, Yogyakarta. Sejarah kerajaan…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Shopping Cart

No products in the cart.

Return to shop

Nama Toko

Selamat datang di Toko Kami. Kami siap membantu semua kebutuhan Anda

Selamat datang, ada yang bisa Saya bantu